LEGENDA CURI BUTHAK #41

LEGENDA CURI BUTHAK

Oleh: Rifqi Silfiana

 

Dahulu kala, diwilayah perbukitan, terdapat sebuah desa dengan hamparan sawah yang subur. Desa tersebut bernama Plaosan. Desa Plaosan dipimpin oleh seorang Demang yang adil dan bijaksana. Beliau bernama Raden Putra. Raden Putra memimpin rakyatnya dengan hati yang sabar, penuh kasih sayang, serta selalu memikirkan apa yang menjadi kebutuhan rakyatnya. Sehingga para rakyat merasa terlindungi, terayomi dan selalu melaksanakan apa yang menjadi titah  Ki Demang.

Dalam memimpin rakyatnya,  Ki Demang didampingi oleh  permaisuri yang cantik jelita bernama Niken Limaran. Istri Ki Demang tidak hanya cantik wajahnya tetapi hatinya juga sangat baik. Selain itu, istri Ki Demang sangat patuh padanya, tidak membeda-bedakan  dan bisa membaur dengan rakyatnya. Kebahagiaan Ki Demang belumlah lengkap karena mereka belum dikarunia momongan.

Karena tugas yang sangat sibuk mereka mengangkat beberapa abdi untuk membantu tugasnya. Salah satunya bernama Sulimah. Seorang remaja putri yang berasal dari salah satu dusun di bawah Desa Plaosan. Suatu hari Sulimah menyarankan Ki Demang untuk mendatangi seorang dukun yang terkenal dapat memberikan keturunan. Kemudian Ki Demang mengajak istrinya untuk segara menemui dukun itu. Selang beberapa bulan Ken Limaran mendapat anugrah berupa janin yang ada di dalam kandungannya.

Ki Demang sangat bersuka cita mendengar istrinya hamil. Di bulan awal kehamilan istrinya, Ki Demang sangat memperhatikan kondisi istri dan si buah hatinya itu. Sebagai bentuk rasa syukurnya ia mengangkat Sulimah sebagai abdi dalem untuk meringankan pekerjaan istrinya.

Setiap hari Ki Demang sangat memperhatikan kesehatan istri dan buah hatinya. Beliau tidak ingin melihat istrinya capek, sehingga tidak memperbolehkan membantu dalam pekerjaannya.

“Kamu tidak usah bekerja, biar Sulimah saja yang memasak, Di Ajeng”, kata Ki Demang pada istrinya.

“Lalu apa yang harus aku kerjakan Kakang”, pinta Ken Limaran.

 “Kau tidak usah melakukan apapun, istirahatlah Diajeng”. Jelas Ki Demang pada istrinya.

Karena begitu rajin dan cekatan, Sulimah menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Diam–diam Ki Demang selalu memperhatikan Sulimah. Dengan pelan Ki Damang berkata lembut kepada Sulimah.

“Sulimah, kau tampak cantik akhir-akhir ini”, kata Ki Demang.

Sulimah tersipu malu dan merasa bahagia atas sanjungan Ki Demang. Sampai pada akhirnya Ki Demang ingin menjadikannya  sebagai istri kedua. Walaupun dengan hati yang duka dan cemburu yang membara, akhirnya Ken Limaran menerima Sulimah sebagai istri kedua.

“Kakang….dengan berat hati dan sakit didada ini, tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, maka semuanya aku serahkan kepadamu Kakang,” kata Ken Limaran kepada Ki Demang.

Sebenarnya Ken Limaran sudah mulai curiga dengan gelagat Sulimah. Tidak sengaja Ken Limaran pernah melihat Sulimah mencampurkan sesuatu ke dalam  minuman teh untuk Ki Demang. Mungkin serbuk itulah yang membuat Ki Demang tergila-gila  dan ingin memperistri Sulimah. Meskipun sudah mengetahui semua keburukan Sulimah, Ken Limaran tidak memberitahukan kepada suaminya, karena takut Ki Demang justru akan marah padanya.

Menginjak umur tujuh bulan kehamilan istrinya, Ki Demang sangat bertolak belakang dengan keadaan awal. Ki Demang begitu kasar terhadap Ken Limaran. Sampai pada akhirnya, kelahiran putra pertama bukan menjadi kebahagian tetapi kehancuran keluarganya. Ki Demang sangat membenci Ken Limaran sampai mengusir dari rumah.

 ”Limaran, pergi kau dari sini, aku tak ingin melihatmu lagi di rumah ini!

Dengan perasaan sedih dan kecewa, akhirnya  Ken Limaran pergi meninggalkan Plaosan sambil menggendong bayinya. Ken Limaran berjalan kearah utara timur laut dan sampailah pada suatu desa (sekarang Dadap Ayam). Di desa inilah Ken Limaran membesarkan bayinya dan diberi nama Cinde.

Tidak terasa, Cinde tumbuh menjadi anak yang tampan, baik, dan sangat menyayangi ibunya. Cinde sangat patuh kepada ibunya. Ken Limaran selalu mengajarkan putranya untuk berbuat baik pada siapa saja meskipun hidup dalam keluarga yang serba kekurangan. Ken Limaran  juga merupakan sosok perempuan yang setia pada suami. Meskipun suaminya telah berbuat jahat, hatinya selalu memaafkan serta ikhlas dalam segala yang telah diperbuat. Ken Limaran selalu menolak kepada laki-laki yang ingin meminangnya. Sehingga para penduduk menyebutnya dengan nama Mbok Rondo Dadapan.

Pada suatu hari, Cinde dan Mbok Rondo sedang mencari kayu di kali Gobak. Tiba-tiba Cinde melihat seekor burung gagak terbang sambil membawa telur yang amat besar.

 “Lihat Mbok, telur yang di bawa gagak itu besar sekali, aku ingin sekali memilikinya”. kata Cinde

Cinde sangat ingin memiliki telur tersebut, maka ia memohon kepada ibunya untuk memintakan telur itu pada gagak.

“Wahai burung gagak yang baik hati, sudikah kiranya, engkau memberikan telur yang kau bawa itu untuk anakku?”. 

Karena merasa kasihan  melihat Cinde, tanpa banyak pertimbangan gagak memberikan telur itu. Hati Cinde sangat senang mendapat telur itu, dan dibawanya ke sebuah gua. Karena ukuranya yang sangat besar, Cinde merasa kebingungan untuk menetaskan telur itu. Mendengar keluh kesah Cinde, datanglah seekor ular besar  bernama Ulasawa menawarkan diri untuk menetaskan telur tersebut.

“Hai Cinde, aku akan menetaskan telur ini tapi kau harus memenuhi dua syarat dariku”, kata Ulasawa pada Cinde.  Ulasawa meminta agar setelah telur ini menetas maka harus dirawat dan dibesarkan dengan baik dan penuh kasih saying. Syarat kedua  jangan sekali-kali  datang ke gua ini saat bulan purnama.  Kemudian Ulasawa meminta Cinde pulang dan kembali datang setelah dua puluh satu hari.

Tepat di hari yang ke dua puluh satu, Cinde datang menemui Ulasawa untuk mengambil tetasan dari telur besar itu. Ternyata menetas menjadi seekor ayam jantan yang gagah dan kuat. Ayam tersebut diberi nama Klaras. Ulasawa berpesan kepada Cinde agar setiap pagi ayam tersebut dimandikan  dengan banyu gege supaya cepat gedhe, kalau siang dimandikan dengan banyu buket supaya menjadi keringat, dan kalau sore dimandikan dengan banyu santer biar cepat pintar.

Si Klaras tidak bisa tidur disembarang tempat, tetapi hanya bisa tidur pada satu pohon mangga dengan posisi yang sama. Akhirnya Cinde membuatkan  kandang sederhana di atas bukit dekat dengan gua. Klaras tumbuh menjadi ayam yang kuat dan selalu menang saat diadu. Kemenangan  demi kemanangan menjadikan ayam Cinde terkenal di wilayah tersebut. Sampailah  berita kemenangan ayam Cinde ke telinga Raden Putro. Raden putro igin mengadu ayam miliknya dengan milik Cinde. Raden Putro bersumpah apabila kalah dalam pertarungan ini, maka seluruh hartanya menjadi taruhan. Dan ternyata pertarungan dimenangkan oleh oleh ayam Cinde. Maka seluruh harta milik Raden Putro menjadi milik Cinde. Raden Putro akhirnya pergi meninggalkan Plaosan. 

Cinde dengan senang hati mengajak ibunya untuk tinggal di Plaosan. Cinde sangat terkejut  ketika ibunya menceritakan masa lalu mereka, bahwa Raden Putro adalah ayah kandungnya. Cinde tidak marah, justru ingin mencari ayah kandungnya tersebut. Cinde mangajak Klaras untuk menemani perjalan mencari sang ayah. Setelah berjalan bebarapa hari, Cinde belum juga menemukan sosok ayahnya. Pada suatu malam Cinde beristirahat dalam gua, tidak ia sadari kalau malam itu adalah malam bulan purnama.  Cinde merasa sangat lelah dan matanyapun mulai mengantuk. Saat hendak memejamkan matanya tiba-tiba dari kejauhan terdengar sebuah alunan merdu suara gadis yang sedang menendangkan tembang jawa. Cinde mencari sumber suara tersebut dan menemukan gadis yang sangat cantik.

Di balik batu besar  Cinde masih bersembunyi dan mengintip gadis cantik  itu. Tiba-tiba batu yang diinjaknya retak dan ia jatuh. Si gadis  terkejut dan marah melihat seseorang telah memperhatikannya  saat mandi. Tiba-tiba si gadis  berubah menjadi Ulasawa.

“Cinde, kau telah melanggar janjimu, maka aku akan mengutukmu menjadi Curi (batu)”. 

Sejak saat itu Cinde berubah menjadi sebuah batu besar yang bernama Curi Buthak. Sedangkan KLaras, ayam jago Cinde setia bertengger diatas batu itu sampai mati. Kotoran ayam Cinde mengeras  diatas Curi. Batu  yang berwarna butek  inilah yang sampai sekarang dikenal dengan Curi Buthak. Persahabatan keduanya menjadi sebuah nama bukit di barat Curi Buthak yaitu bukit Cinde Laras. Di sekitar curi dan bukit Cinde Laras juga banyak sekali ditumbuhi pohon mangga. Sedangkan Mbok Rondho juga di makamkan di desa Dadap Ayam.

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *