LEGENDA DESA PRINGAPUS #40

LEGENDA DESA PRINGAPUS

Oleh: Aqluna Asya Nurfadila

 

            Pada zaman abad ke-18, disekitar Kesultanan Demak Bintara (Kerajaan Demak). Para pemuda, pelajar, dan anak-anak baik keturunan kerajaan maupun rakyat biasa menggali imu (belajar).Dari mereka berusia belia hingga dewasa (siap menduduki tahta/bekerja) dan telah siap mengemban tanggung jawab kerajaan.
            Putra Kerajaan Mataram Islam, bernama Pangeran Purwokesumo anak kandung dari Pangeran Benowo yang merupakan putra Sultan Hadiwijaya, raja yang memimpin tahta Kerajaan Mataram Islam masa itu. Yang mana Kerajaan Mataram Islam merupakan pecahan Kerajaan Demak bagian Selatan setelah Kedaulatan Kerajaan Demak berakhir.Ketika telah beranjak dewasa dan sudah saatnya menemukan jati diri, Pangeran Purwokesumo pergi mengembara dan menemukan sebuah tempat yang dianggapnya strategis.Ia ingin membuka lahan di tempat tersebut yang semula adalah hutan belantara.Tempat tersebut terletak di sebelah timur desa Klepu yang sering disebut oleh masyarakat sekitar Desa Bogo.
            Namun, kedatangan Sang Pangeran didahului oleh seorang piyayi dari Kesultanan Surakarta yang bernama Kyai Kalang, ia datang bersama dengan binatang peliharaannya yaitu seekor harimau besar.Pangeran Purwokesumo dan Kyai Kalang sama-sama menginginkan wilayah tersebut.Peperangan hebat pun terjadi, mereka saling beradu kekuatan untuk mendapatkan wilayah kekuasaan.Akhirnya jalur sayembara pun ditempuh, karena mereka berdua sama-sama kuatnya.Kyai Kalang berkata,“Siapapun diantara kita berdua yang mampu memecahkan batu besar yang berada di tengah sungai panjang itu dialah yang akan menjadi penguasa wilayah ini.”Pangeran Purwokesumo menyanggupi perkataan Kyai Kalang dan menyetujui adanya sayembara tersebut.Kyai Kalang mempercayakan harimau peliharaannya untuk menunggui Pangeran Purwokesumo melaksanakan sayembara, hingga hari demi hari berlalu Pangeran Purwokesumo tidak berhasil memecahkan batu besar yang menjadi sayembara karena setiap akan didekati, batu itu dilingkari ular yang sangat besar dan sanggup menelan siapapun yang datang bahkan harimau peliharaan Kyai Kalang itu hanya berani menunggui dari kejauhan.Setelah sekian lama Pangeran Purwokesumo berusaha keras untuk memenangkan sayembara tersebut namun tidak kunjung membuahkan hasil, akhirnya Pangeran Purwokesumo meminta bantuan saudaranya dari Bergas, ialah Nyai Sumi istri Raden Jogonegoro, penguasa daerah Bergas saat itu.
“Hormat kakak.”Sembah Pangeran Purwokesumo.
“Ada apa adikku, sudah lama kau tidak datang kemari.”Jawab Nyai Sumi.
“Begini kakak, saya sedang mengikuti sayembara untuk memperebutkan daerah kekuasaan di Desa Bogo, namun saya tak kunjung dapat memenangkan sayembara tersebut, mohon bantuannya kakak saya sangat ingin menduduki tahta diwilayah itu.” Tutur Pangeran Purwokesumo.
“Baiklah adikku, tidak berat bagiku membantu saudara sendiri, mari kita berangkat setelah aku meminta berkat dari suamiku.”
Nyai Sumi dan Pangeran Purwokesumo pun berangkat menuju Bogo.
            Sesampainya di tempat sayembara, Nyai Sumi tidak mau membuang-buang waktu.Segeralah ia menyelesaikan tanggung jawabnya  untuk membantu Pangeran Purwokesumo.Diambilnya selendang yang melingkari tubuhnya, seketika selendang itu berubah menjadi sebuah pusaka yang sangat sakti berupa cemeti, awan mulai mendung,saat cemeti itu diayunkan bersamaan dengan itu datanglah petir yang menyambar-nyambar,dan akhirnya mengenai batu besar tersebut.Tiba-tiba terdengar suara yang menggelegar hingga menggetarkan daerah itu ‘Dweeerrrrrr.. dwerrr…’ batu sayembara hancur berkeping-keping terkena selendang Nyai Sumi.Tak hanya itu harimau peliharaan Kyai Kalang pun ikut mati karena kedahsyatan peristiwa tersebut.Maka tempat matinya harimau itu mati kini diberi nama Desa Macan Mati yang dalam Bahasa Indonesia berarti Harimau Mati.Selain itu pohon-pohon jati disekitar sungai pun layu dan perlahan-lahan ikut mati, maka daerah tersebut kini sering disebut Desa Jati Alum yang dalam Bahasa Indonesia berarti Jati Layu.                                  
            Sayembara telah selesai, Nyai Sumi pulang ke Bergas diikuti oleh para prajuritnya.Namun semakin lama prajuritnya semakin bertambah banyak sehingga daerah bertambahnya prajurit Nyai Sumi kini dikenal dengan nama Desa Derekan yang berarti Pengikut.Di tengah perjalanan Nyai Sumi menginginkan ia pulang sendiri saja, ia menghendaki agar para prajuritnya berhenti dan tinggal di daerah tempat Nyai Sumi berhenti tersebut.Maka dari pemberhentian itu kini terkenal dengan nama Desa Ngempon yang berasal dari perkataan Nyai Sumi terhadap prajuritnya “Empun.. empun dumugi miriki mawon” (Sudah.. sudah sampai disini saja) yang berarti Telah Berkesudahan.Ternyata maksud Nyai Sumi memberhentikan para prajuritnya disana bukan tanpa alasan, Nyai Sumi telah mengetahui bahwa disana terdapat peninggalan kerajaan Hindu pada masa Ratu Sima yang terkubur didalam tanah, daerah tersebut memiliki tanah yang subur serta sumber daya alam yang melimpah.Nyai Sumi percaya bahwa parajuritnya yang sudah terkenal sangat sakti ataupun anak turun dari prajuritnya mampu menemukan harta karun peninggalan masa Kerajaan Hindu itu dan berharap agar para prajurit serta anak turunnya dapat hidup dengan penuh kecukupan.Terbukti setelah sekian lama penantian, anak turun prajurit Nyai Sumi berhasil menemukan Candi dan Pemandian Air Panas yang kini diberi nama Destinasi Wisata Candi Ngempon serta Emas peninggalan Kerajaan Hindu masa Ratu Sima,terbukti pula berkat penemuan-penemuan itu masyarakat Ngempon dapat hidup makmur dan berkecukupan.
            Pangeran Purwokesumo berhasil memenangkan sayembara, Namun Kyai Kalang pun akhirnya berkata, “Kamu menang akan tetapi bukan karena dirimu sendiri, sampai besok anak keturunanmu tidak akan dapat membuktikan sesuatu jika tidak melalui jalan kebohongan!”.Maka perang tersebut diberi nama ‘Perang Apus’ yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘Perang dengan cara Berbohong’.Hingga sekarang anak keturunan Pangeran Purwokesumo yang tinggal dan merupakan penduduk asli daerah tersebut setelah peperangan itu terjadi menyebut tempat tersebut dengan nama Desa Pringapus yang berasal dari kata ‘Perang apus’.Dalam masa pemerintahannya, Pangeran Purwokesumo dibantu oleh seorang ulama Kerajaan Demak yang datang dari Negeri Cina  bernama Syaikh Basyaruddin,akan tetapi para pengikut dari Pangeran Purwokesumo sudah terkena sumpah dari Kyai Kalang bahwa mereka disebut golongan orang-orang yang berbohong.Maka Pangeran Purwokesumo dan pengikutnya berpindah ke wilayah sebelah barat Desa Bogo yang sekarang disebut dengan Desa Pringapus.Simbol kejayaan pemerintahan Pangeran Purwokesumo dan Syaikh Baayaruddin yaitu dengan didirikannya masjid besar yang diberi nama masjid jami’ Basyaruddin akan tetapi seiring kemajun zaman masjid itu sudah di pugar dan direnofasi sesuai dengan model bangunan masa kini, namun namanya tetap masjid Jami’ Pringapus.Kini Desa Pringapus telah menjadi sebuah Kecamatan. Wilayahnya sangat luas dan telah ramai penduduk,dahulu Desa Pringapus tergabung dalam Kecamatan Klepu, namun Kecamatan Klepu telah pecah menjadi dua yaitu Kecamatan Pringapus dan Bergas, setelah itu Klepu kembali menjadi nama sebuah Desa.Pringapus juga memiliki sentral industri yang sangat terkenal,seperti kerajinan keset motif dari kain yang sering diliput oleh media televisi,selain itu Desa Pringapus juga memiliki perkebunan karet,cokelat, dan kopi.Desa Pringapus juga memiliki bukit-bukit serta sungai bersih menawan yang menjadi daya tarik tersendiri bagi warganya maupun wisatawan,sekarang semakin banyak tempat wisata yang mulai dikembangkan di Desa Pringapus.

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *