Legenda Rawa Pening #39

Legenda Rawa Pening

Oleh: Ria Praoktaviani

 

Dahulu kala, di desa Ngasem tinggallah seorang wanita cantik bernama Endang Sawitri. Ia sudah mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Baru Klinting. Endang Sawitri sebenarnya sudah bersuami, akan tetapi suaminya pergi untuk bertapa di Gunung Telomoyo. Seiring waktu Baru Klinting mulai bertanya akan keberadaan sosok ayahnya. Sampai akhirnya ia beranikan diri untuk bertanya kepada ibunya.

            “Ibu, kenapa ayah tidak pernah pulang?” tanya Baru Klinting.

            “Anakku, sebenarnya ayahmu adalah seorang raja dan kini sedang menjalankan tugasnya untuk bertapa,” jawab Endang Sawitri.

            “Kenapa ibu selama ini tidak pernah bilang kepadaku?” tanya Baru Klinting.

            “Ibu minta maaf, ibu tidak tega jika anakku satu-satunya ini bersedih,” jawab Endang sedih.

            “Aku akan menyusul ayah sekarang juga!” jawab Baru Klinting.

            “Baiklah jika itu keinginanmu, ayahmu sedang bertapa di Gunung Telomoyo. Jika kau ingin menemuinya, bawalah lonceng ini sebagai bukti bahwa kau adalah anaknya,” terang Endang.

            Baru Klinting langsung berpamitan kepada ibunya untuk bertemu ayahnya. Ibunya berpesan agar ia berhati-hati di perjalanan. Lalu sesampainya di Gunung Telomoyo, Baru Klinting mendapati seorang lelaki bertubuh kekar sedang bertapa di atas batu.

            “Ayah, aku sangat merindukanmu,” teriak Baru Klinting.

            “Siapa kamu? Beraninya kamu menggangguku,” sahut sang lelaki.

            “Aku Baru Klinting, anakmu,” jawab Baru Klinting sambil menunjukkan lonceng yang diberikan ibunya.

            “Jika kau memang anakku, maka lingkari gunung ini. Tetapi jika kau tidak mampu melakukannya, maka kau bukan anakku,” perintah sang lelaki.

            “Baiklah, jika itu mau ayah. Aku akan melakukannya sekarang juga,”

            Kemudian Baru Klinting merubah dirinya menjadi seekor naga, dan mulai mengelilingi Gunung Telomoyo. Pada waktu yang sama, penduduk sekitar Gunung Telomoyo sedang mengadakan pesta perayaan hasil bumi. Beberapa dari penduduk mencari hewan di hutan untuk disantap bersama-sama. Akan tetapi, tidak ada satupun hewan yang dapat ditangkap.

            “Bagaimana ini, kita tidak dapat menemukan hewan untuk dimasak?”

            “Sebaiknya kita coba mencari di dalam gunung, mungkin saja kita akan mendapatkan hewan untuk dimasak,”

            Warga pun berbondong-bondong masuk ke dalam gunung, namun tidak menemukan satupun hewan untuk dibawa ke pesta. Karena kesal, seorang warga memukulkan kapak ke tanah gunung. Lalu tiba-tiba saja tanah tersebut mengeluarkan darah yang sangat banyak.

            “Hah, kenapa tanah ini mengeluarkan darah?” heran salah satu warga.

            “Sepertinya ini daging, tapi daging apa ini?”

            “Sudah, ayo kita potong dan bawa ke pesta!” perintah salah satu warga.

            Akhirnya warga yang lain ikut memotong dan membawa daging itu untuk dimasak. Para warga tidak mengetahui jika daging yang mereka potong merupakan daging seekor naga.

            Di tengah perayaan pesta, tiba-tiba saja datang seorang anak kecil yang berpakain lusuh, berbau busuk, dan menderita penyakit kulit. Anak itu mendekati salah satu warga untuk meminta makanan kepada warga tersebut.

            “Permisi pak, bolehkah saya meminta sedikit makanan? Saya lapar sekali,” pinta anak  kecil itu.

            “Enak saja! Makanan ini sudah susah payah kami dapatkan dan kau tidak pantas untuk memakannya,” jawab si warga.

            Anak kecil itu mulai mendekati warga yang lainnya untuk meminta makanan, namun tetap ditolak dengan alasan yang sama.

            “Hei anak miskin, pergilah kau dari sini! Kamu tidak pantas berada disini. Badanmu yang bau busuk itu merusak nafsu makan orang-orang yang ada disini,” usir salah satu warga.

            Kemudian anak kecil itu pun meninggalkan tempat pesta para warga. Sebenarnya anak kecil itu merupakan jelmaan dari Baru Klinting yang sedang menguji mereka. Baru Klinting pun melanjutkan perjalanannya hingga ia menemukan sebuah rumah di ujung jalan desa.

            Tok…tok…tok

            “Permisi, apakah ada orang di dalam?”

            “Iya, tunggu sebentar,” tampak seorang nenek tua yang keluar dari rumah tersebut.

            “Nek, tolong saya sangat lapar. Apakah nenek bisa memberiku sedikit makanan?” pinta Baru Klinting.

            “Wahai anak muda kasihan sekali dirimu, silahkan masuk nenek aku akan mengambilkanmu makanan dan minuman,” jawab si Nenek.

            Setelah Baru Klinting selesai makan, Baru Klinting berpesan kepada nenek tersebut untuk menyediakan lesung dan dayung saat mendengar suara gemuruh.

            “Jika nenek mendengar suara gemuruh, segeralah naik ke atas lesung,” ucap Baru Klinting.

            Baru Klinting lantas pergi meninggalkan rumah nenek tua itu dan berlari menuju tempat pesta para penduduk.

            “Kenapa kamu kembali lagi bocah miskin?” tegur salah satu warga.

            Tanpa menjawab pertanyaan dari warga, Baru Klinting langsung menancapkan sebuah lidi ke tanah dan menantang semua warga untuk mencabutnya.

            “Wahai para warga yang sombong dan serakah, aku tantang kalian untuk mencabut lidi ini. Jika  kalian bisa mencabut lidi ini, aku akan pegi dari sini!” tantang Baru Klinting.

            “Dasar bocah aneh, tantanganmu terlalu mudah untuk dilakukan,” jawab salah satu warga.

            Tak menunggu waktu lama ada warga yang maju dan berusaha mencabut lidi, tetapi usahanya gagal.

            “Aduhhhh….kenapa lidi ini tidak bisa dicabut.”

            Para warga silih berganti membantu menarik lidi, tetapi usaha mereka tetap sia-sia.

            “Hai bocah miskin, kenapa lidi ini tidak bisa dicabut?” tanya warga dengan heran.

            Tanpa menjawab, Baru Klinting langsung mencabut lidi itu. Kemudian langit bergemuruh dan muncul percikan air dari dalam tanah. Semua panik karena lama-kelamaan percikan air mulai meluap dan menenggelamkan Desa Ngasem beserta warganya, kecuali nenek tua tadi yang pernah Baru Klinting temui. Setelah mendengar suara gemuruh, nenek tersebut langsung menaiki lesung sehingga tidak ikut tenggelam.

            “Hei para warga! Ini adalah akibat dari keserakahan dan kesombongan kalian,” teriak Baru Klinting.

            Lalu Baru Klinting pergi menuju rumah nenek tua yang pernah ia temui. Sesampainya di rumah nenek tua, Baru Klinting mendapati bahwa nenek tersebut sudah berada di atas lesung.

            “Wahai anak muda kemari, naiklah ke lesung ini karena air sudah semakin tinggi,” ucap nenek tua dengan penuh khawatir.

            Baru Klinting langsung naik ke atas lesung dan mulai mendayung lesung untuk menjauh dari desa.

            “Kenapa desa ini bisa tenggelam wahai anak muda?” tanya si nenek.

            “Desa ini tenggelam karena kesalahan para warganya sendiri. Mereka terlalu serakah dan tak memiliki hati nurani terhadap sesama manusia,” jawab Baru Klinting.

            Akhirnya Baru Klinting dan nenek tua tersebut selamat dari desa yang sudah tenggelam. Desa yang tenggelam itu kini dikenal dengan Rawa Pening

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *