Cerita Legenda Berdirinya Masjid Kauman Ungaran #38

RANTING POHON JATI SUNAN KALIJAGA

JADI SAKA GURU MASJID

(Cerita Legenda Berdirinya Masjid Kauman Ungaran Kelurahan Ungaran

Kecamatan Ungaran Barat)

Oleh : Junaedi

 

Pada sekitar abad ke-15, Raden Patah berkuasa sebagai raja pertama di Kesultanan Demak. Dia berkehendak mendirikan sebuah masjid agung sebagai tempat bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keinginannya itu mendapat dukungan dari para Waliyullah kondang tanah nusantara yang dikenal sebagai Wali Sanga. Maka bersegeralah mereka mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan.

Empat orang wali mendapat tugas mencari kayu yang akan dijadikan  tiang utama penyangga atau saka guru atap masjid. Mereka adalah Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga. Kayu yang akan dipakai haruslah bermutu tinggi dan memiliki panjang sesuai kesepakatan. Para sunan itu lalu berpencar dan berusaha menemukan kayu seperti itu secepat mungkin. Tujuannya agar masjid dapat segera didirikan dan digunakan sebagai tempat ibadah.

Konon, perjalanan Sunan Kalijaga mencari kayu sampai ke suatu tempat yang berdekatan dengan wilayah Gunung Pati.  Sunan Kalijaga berkeliling di sekitar untuk menemukan apa yang dicarinya. Akhirnya setelah menempuh perjalanan beberapa waktu lamanya, usaha Sunan Kalijaga membawa hasil.    Beliau mendapatkan pohon Jati yang cocok sebagai saka guru di wilayah Selatan Pudak Payung. Setelah ditebang, potongan pohon Jati itu diletakkan dan disimpan di suatu tempat di perengan atau tepian aliran Kali Garang. Daerah itu bernama Sapen.

Karena ada sesuatu urusan, Sunan Kalijaga meminta kepada dua orang pengikutnya yakni Pangeran Joyodiningrat atau Ki Ageng Ngaran dan Purbojati Purwonegoro alias Ki Samud untuk menjaga Pohon Jati itu.  “Ki Ageng berdua, aku titip pohon Jati itu. Jagalah bersama para balamu itu selama aku pergi,” kata Sunan Kalijaga kepada Ki Ageng Ngaran dan Ki Samud yang bersama bala para kera. Keduanya mengiyakan dan menyanggupi untuk menjaga potongan pohon Jati itu.

Seiring perjalanan waktu, Ki Ageng Ngaran dan Ki Samud juga melakukan perjalanan spiritual ke wilayah sekitar tempat penyimpanan potongan pohon Jati itu. Mereka melakukan babat alas atau membuka wilayah baru yang sebelumnya berupa tempat yang tidak layak untuk dihuni manusia.  Sampailah mereka di suatu tempat yang dinilai cocok untuk mendirikan masjid sebagai tempat ibadah. Keduanya lalu meminta bantuan guru mereka yakni Sunan Kalijaga untuk membantu membuat pelataran atau tanah lapang. Lapangan itulah yang akan dijadikan tempat mendirikan masjid.

Dengan kemampuan Sunan Kalijaga yang dibantu kedua pengikutnya itu, akhirnya dapat dibuat pelataran itu. Namun, ternyata pelataran itu belum bisa diselesaikan seluruhnya. Masih ada bagian yang memerlukan tambahan tanah agar dapat selesai dengan sempurna. “Ki Ageng Ngaran, pergilah ke Demak untuk mengambil tanah sebagai penyempurna pelataran ini. Gunakan ini sebagai wadah membawa tanahnya,” perintah Sunan Kalijaga sambil menyerahkan sehelai sapu tangan.

Secepatnya, Ki Ageng Ngaran pergi menuju Demak untuk melaksanakan perintah Sunan Kalijaga. Setelah memenuhi sapu tangan pemberian Kanjeng Sunan dengan tanah dari Demak, Ki Ageng Ngaran kembali ke pelataran yang belum selesai dibuat itu. Ajaibnya, tanah yang hanya sejumput terbungkus sapu tangan itu menjadi berkubik-kubik jumlahnya ketika ditebar di pelataran. Akhirnya, pelataran itu selesai dibuat dan siap untuk didirikan masjid diatasnya.  

Sunan Kalijaga memulai proses pendirian masjid dengan membuat pondasi dasar. Lalu dia memerintahkan kedua pengikutnya itu untuk melanjutkannya. Keduanya menyanggupi dan segera akan mendirikan tiang utama penyangga atap masjid. Terlintas pikiran di benak Ki Ageng Ngaran  melibatkan Sunan Kalijaga untuk mendirikan tiang utama itu. Namun tidak dilakukan secara langsung tapi dengan jalan lain. Lalu dengan menetapkan niat dihatinya, Ki Ageng Ngaran bertanya kepada Sunan Kalijaga. “Maaf, Kanjeng Sunan, jika diperkenankan Saya ingin minta ranting pohon Jati milik Kanjeng Sunan yang disimpan di Sapen untuk saka guru masjid ini,” ucapnya.

“Ambillah dan gunakanlah sebaik-baiknya,” kata Sunan.

Tanpa membuang waktu lagi, Ki Ageng Ngaran dan Ki Samud memotong ranting pohon Jati milik Sunan Kalijaga itu. Tujuh ranting berurutan dari atas dipotong dan diambil oleh keduanya. Lalu dimulailah pembuatan kerangka masjid  dengan menggunakan ranting-ranting pohon Jati itu.

Ranting teratas diolah menjadi empat tiang utama masjid. Ranting kedua menjadi kayu kerangka bagian atas masjid dan ranting ketiga dijadikan cagak pembatas yang mengelilingi pelataran masjid. Sedangkan ranting ke empat sampai ke tujuh dijadikan rusuk atap masjid.

Empat tiang utama masjid tersusun membentuk persegi empat imajiner. Pada saat mendirikannya, Ki Ageng Ngaran dan Ki Samud juga dibantu oleh pengikut Sunan Kalijaga lainnya. Yakni Mbah Kyai Hasan Munadi dan putranya Mbah Hasan Dipuro. Keduanya dikenal sebagai penyebar agama Islam dan telah mendirikan masjid di daerah Nyatnyono. Letaknya hanya sepenguyahan sirih dari tempat pendirian masjid.

Dua tiang utama masjid yang berada di depan menghadap arah kiblat atau ke arah Barat didirikan oleh Ki Ageng Ngaran dan Kyai Hasan Munadi.  Sedangkan dua tiang lainnya didirikan oleh Ki Samud dan Mbah Hasan Dipuro. Pengaturan dan penyelesaian pembuatan atap masjid konon ditangani langsung oleh Sunan Kalijaga. Pembatas keliling masjid saat itu berupa anyaman bambu atau gedheg. Sementara atap masjid berupa sirap.

Masjid yang didirikan itu konon kabarnya menjadi cikal bakal Masjid Besar Kauman Kelurahan Ungaran Kecamatan Ungaran Barat sekarang. Belum ada penelitian dan bukti nyata yang bisa dijadikan dasar untuk memastikan kebenaran cerita ini. Namun petilasan Ki Ageng Ngaran  diyakini berada di wilayah Sapen yang tidak jauh dari lokasi Masjid Kauman Ungaran. Sedangkan makam Ki Samud menjadi cikal bakal tempat pemakaman umum Sisemut di lingkungan Sariharjo Ungaran. Lokasi makam itu juga hanya sepelemparan batu jaraknya dari Masjid Besar Kauman, Ungaran sekarang. Wallahu a’lam bishshawab.(*)

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *