Legenda Rawa Pening #37

Legenda Rawa Pening

Oleh: Hesti Rohmah

 

Terkisahlah disebuah desa yang bernama desa Ngasem,yang terletak di lembah antara Gunung Merbabu dan Gunung Telomoyo.Hiduplah sepasang suami istri yang begitu saling mengasihi, begitu harmonis, mereka adalah Ki Hajar Selakantara dan Endang Sawitri, atau biasa di panggil Nyai Selakantara.Mereka keluarga yang terkenal ramah dan berbudi baik,sehingga tidak heran kalau mereka terpandang dan di segani di masyarakat.Mereka terlihat selalu harmonis dan bahagia,mereka terlihat begitu serasi dan menjadi keluarga idaman.

Dan suatu hari,Nyai Selakantara sedang duduk termenung, wajahya seperti menyimpan kedukaan, melihat sang istri bersedih,Ki Hajar datang mendekatinya lalu bertanya “Apa gerangan yang membuat dinda bersedih?” Nyai Selakantara terkejut mendengar ucapan suaminya,lalu Nyai selakantara mengangkat wajahnya dan memandang suaminya, mata Nyai Selakantara terlihat berkaca-kaca tidak bisa menyembunyikan rasa sedih yang mendalam.Dan dengan suara lirih Nyai Selakantara memberanikan diri untuk mengutarakan rasa sedihnya kepada suaminya. “Kanda, bagaimana dinda tidak bersedih, sekian lama kita hidup berumah tangga bersama hingga saat ini belum juga mendapatkan seorang putra,dinda ingin sekali menimang seorang putra” kata Nyai Selakantara sembari terisak sedih.Mendengar ucapan istrinya, Ki Hajar sedikit terkejut, hatinya menjadi terenyuh. Lalu dengan lembut memeluk istrinya seraya berkata “ memang kehadiran seorang putra dalam kehidupan rumah tangga ibarat secercah pelita dalam kegelapan, yang menerangi dan membawa keceriaan.Ki Hajar berusaha untuk mengerti dan menenangkan kegelisan istrinya. “ Dinda, janganlah engkau bersedih !’’ Ki Hajar menghela nafas dan raut mukanya terlihat memikirkan sesuatu, lalu kembali berkata “ Dinda, Kanda memutuskan untuk melakukan sebuah perjalanan ke Gunung Telomoyo, untuk melakukan pertapaan disana. “Kanda akan mencoba untuk meminta kepada sang  hyang widhi, agar berkenan menolong kita, agar masalah ini ada jalan keluarnya’’ Ki Hajar berusaha untuk meyakinkan Istrinya.Mendengar ucapan suaminya, Nyai Selakanta malah semakin bersedih, lalu berkata, “ Jadi kanda akan pergi meninggalkan dinda seorang diri ?’’ ucap Nyai selakanta, kembali menghela nafas  Ki Hajar pun berkata “ bersabarlah dinda, ini semua untuk kebaikan kita berdua, agar awan mendung yang bergelayut di kehidupan kita berdua, bisa berubah menjadi mentari yang bersinar terang.’’ Seraya tersenyum memandang wajah istrinya. Nyai Selakanta menjadi lebih tenang mendengar ucapan suaminya. Dan dengan berat hati ahirnya Nyai Selakantara mengizinkan suaminya untuk pergi melakukan pertapaan di Gunung Telomoyo.

Perjalanan ke Gunung Telomoyo pun di persiapkan, dengan menggunakan bekal secukupnya. Sebelum pergi Ki Hajar memberikan sebuah keris pusaka kepada istrinya,sembari berpesan agar jangan pernah sekalipun meletakkan keris tersebut diatas pangkuan Nyai selakanta.Dengan deraian air mata, Nyai selakantara melepas kepergiaan suaminya.Dan hari –hari yang terasa panjang dan begitu sepi dilalaui oleh Nyai selakantara, yang tinggal seorang diri, apabila perasaan sepi dan rindu kepada suaminya begitu menyiksa, Nyai Selakantara mengambil keris pusaka peninggalan suaminya, dengan membayangkan bagaimana keadaan suaminya sekarang. Hanya itulah yang bisa dilakukanya untuk menghibur dirinya sendiri.

Dan pada suatu hari di desa tersebut ada sebuah acara, yang membuat Nyai selakanta harus ikut menyiapkan masakan bersama atau biasa disebut rewang. Banyak sekali orang yang rewang, dengan beragam kesibukan, seperti memotong sayur, mengupas bawang dan sebagainya.karena terburu-buru, nyai selakantara pergi ke tempat tersebut dengan membawa sebuah bingkisan yang ternyata berisi keris pusaka, yang tidak sengaja terbawa olehnya, Nyai selakantara tidak sempat memeriksa isi bingkisan tersebut. setibanya ditempat masak tersebut, Nyai selakantara langsung ikut bergabung dengan para wanita yang sedang sibuk menyiapkan makanan. Nyai selakantara langsung duduk,lalu dibukanya bingkisan yang ia bawa,dia terkejut ternyata ada keris pusaka yang dibawanya,karena baginya benda itu teramat beharga, dia bingung harus menaruhnya di mana, takut kalau hilang ataupun di ambil orang.lalu karena kerepotan, agar dapat segera membantu menyiapkan masakan, ditaruhlah keris pusaka tersebut diatas pangkuanya.karena begitu sibuk dan asyik menyiapkan makanan, hingga melupakan pesan dari suaminya.setelah selesai rewang, Nyai selakantara langsung pulang kerumah, dan dia baru ingat apa yang telah dilakukanya, hatinya bergetar, antara takut dan cemas,selang beberapa hari, Nyai Selakantara merasa perutnya sakit dan mual mual. Setelah di periksa ternyata dia hamil, perasaanya bercampur aduk, antara senang dan juga bingung. Berita kehamilanya segera menyebar luas di masyarakat. Menjadi perbincangan, hangat di masyarakat, bagaimana mungkin dia hamil sedangkan suaminya sudah lama pergi,Nyai selakantara berusaha untuk tetap tegar menghadapi cercaan ataupun hinaan warga. Baginya yang terpenting adalah kehamilanya dapat berjalan sehat dan baik.hari-hari dilaluinya, hingga tiba saatnya masa kelahiranya tiba,dengan susah payah dia berjuang melahirkan anaknya, dibantu oleh seorang dukun beranak, Nyai selakantara melahirkan di rumahnya sendiri.Lalu tidak lama kemudian, lahirlah anak yang selama ini di kandungnya, dukun beranak tersebut begitu terkejut,melihat apa yang terjadi, Nyai selakantara bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Dengan tangan gemetar di serahkanya kain pembungkus bayi tersebut, melihat apa yang ada di dalam kain tersebut,Nyai selakantara berteriak histeris dan hampir pingsan, bahwa yang telah di lahirkanya adalah seekor ular naga. Dan warga masyarakat menjadi gempar atas kelahiran seekor ular naga dari perut Nyai selakantara., ular naga tersebut bisa berbicara layaknya manusia, ular naga tersebut di beri nama Baru Klinting sesuai dengan nama pusaka peninggalan suaminya.waktu berlalu begitu cepat, Baru Klinting tumbuh semakin besar,dan suatu hari Baru Klinting bertanya kepada ibunya tentang keberadaan ayahnya. “ Ibunda, di manakah ayahanda berada?’’ tanyanya meminta penjelasan kepada Ibunya.lalu dengan tenang, dijawabnya pertanyaan anaknya. “Anakku Baru Klinting, Ayahmu adalah Ki Hajar selakantara, beliau bertapa di lereng Gunung Telomoyo.’’ Mendengar penjelasan dari ibunya, Baru Klinting segera mengutarakan maksudnya untuk pergi menyusul ayahnya, dan bertapa disana. “Baiklah Ibunda, izinkanlah Aku untuk pergi ke Gunung Telomoyo, menyusul Ayahanda dan juga bertapa disana.’’Nyai Selakantara mendengarkan ucapan anaknya dengan seksama, lalu berkata “ Bila kau ingin pergi dan bertapa di Bukit Tugur di lereng Gunung Telomoyo, berhati – hatilah, dan bawalah keris pusaka ini, sebagai bukti bahwa kau adalah anak dari Ki Hajar Selakantara, Dengan penuh hormat, ahirnya Baru klinting meminta izin kepada ibunya, untuk segera pergi .

Dan berangkatlah Baru klinting menuju ke Gunung Telomoyo,dengan membawa keris pusaka tersebut, sesampainya di Gunung telomoyo,Dia berjumpa dengan seorang pertapa yang sedang melakukan pertapaanya. Sang pertapa tersebut di kejutkan dengan kedatangan Baru Klinting, yang menanyakan keberadaan Ki Hajar selakantara, “ Siapa dirimu ?’’ tanya pertapa itu yang ternyata adalah Ki Hajar selakantara itu sendiri, “ saya adalah Baru klinting, putra dari Ki Hajar selakantara, dan ini adalah keris pusaka miliknya,’’ Mendengar pengakuan dari Baru Klinting, antara percaya dan tidak percaya,Ki Hajar lantas berkata, “ Akulah Ki Hajar selakantara, jika kau memang benar anakku, kau harus mampu membuktikan bahwa kau mampu melingkari Gunung Telomoyo ini,ujarnya.lalu Baru Klinting pun segera melingkari Gunung Telomoyo dengan kesaktianya,dan ketika hampir selesai melingkari Gunung tersebut, hanya kurang satu jengkal,lalu Baru Klinting Menyambung dengan lidahnya,melihat seperti itu lantas Ki Hajar Mengambil keris pusakanya, lalu memotong lidah Baru Klinting,sembari berkata, “Kau memang benar anakku, kau akan terbebas dari pertapaan ini, akan datang banyak orang yang akan mengambil dagingmu,lalu Ki Hajar berlalu pergi meninggalkan Baru klinting yang masih dalam keadaan melingkari Gunung Telomoyo.

Tidak lama kemudian, di sebuah desa yang bernama Desa Pathok, sedang diadakan acara merti dhusun atau selamatan bersama setelah panen, setiap warga tumpah ruah untuk memasak bersama-sama menghidangkan makanan untuk di makan bersama –sama.Dan para laki-laki pergi berburu untuk mencari daging untuk dijadikan santapan, mereka pergi melangkah ke wilayah Gunung Telomoyo, sekian lama mencari hewan buruan, tidak juga mendapatkanya. Mereka merasa putus asa, dan hari semakin berlalu begitu cepat, mereka merasa lelah dan mereka memutuskan untuk beritirahat sejenak,dan salah satu dari mereka melihat ada ular yang begitu besar sedang melingkari Gunung Telomoyo, mereka mendapat ide untuk mengambil daging itu saja, untuk dijadikan hidangan.Mereka bekerja sama untuk mengambil daging tersebut, mereka begitu girang, pulang dengan membawa daging yang begitu banyak.

Sampai di desa, segeralah dimasak daging tersebut untuk dimakan bersama –sama. Dan mereka semua berpesta memakan makanan dengan begitu lezatnya. Tak jauh dari tempat itu ada seorang bocah laki –laki kecil yang seluruh badanya begitu kotor penuh dengan borok sehingga menimbulkan bau amis.Bocah kecil itu begitu lapar , dia mendekati tempat itu untuk meminta sedikit makanan, namun semua orang mengusirnya karena jijik melihat Baru klinting, yang badanya penuh borok dan berbau.Rasa lapar begitu menyiksa, sekaligus rasa sakit hati yang di terimanya, membuat badanya semakin lemah, dengan berjalan tertatih –tatih, Baru Klinting melewati sebuah rumah, dan didekatinya rumah tersebut, sampai di depan rumah itu, di lihatnya seorang nenek yang sedang duduk, lalu katanya, “ nek, bolehkah saya meminta sedikit makanan, saya begiu lapar, dari tadi belum makan’’ rasa iba menjalar di hati nenek tersebut, yang di kenal sebagAI Nyi Latung, seorang janda yang hidup sendiri. “ kemarilah nak, ambilah nasi ini dengan lauk seadanya,’’ nenek tersebut memberikan sebuntal nasi dan lauknya, lalu di terimanya buntalan tersebut  dan segera di makannya dengan lahapnya.setelah selesai makan,Baru klinting berpikir untuk memberi pelajaran kepada para orang yang telah menghinanya, sebelum dia pergi, dia kembali menemui Nenek Latung, “ nek, ambilah lesung dan  bila nanti ada banjir besar naiklah ke lesung tersebut!’’ dan Baru Klinting langsung pergi meninggalkan nenek itu menuju ke kerumunan warga yang sedang berpesta. “Hai semuanya, adakah yang bisa mencabut sebatang lidi ini,’’ sembari menancapkan sebatang lidi di atas tanah. Semua orang tertawa terbahak-bahak menganggap lelucon yang di bawa oleh bocah kecil itu. Satu per satu orang mencoba untuk mencabut lidi tersebut, semua seperti kesulitan, merasa begitu berat dan begitu susah.Hingga ada yang berusaha mencabutnya secara bersama-sama, namun tetap saja tidak berhasil.Dan ahirnya Baru Klinting sendiri yang mencabut lidi tersebut,dengan begitu mudah. Setelah lidi itu berhasil di cabut, keluarlah air yang begitu banyak dan mengalir semakin besar, dan lidi yang di cabut di lemparkan oleh Baru Klinting ke arah utara, yang saat ini dikenal sebagai Gunung Kendalisada.Air semakin bertambah banyak, semua orang semakin panik,Banjir besar telah terjadi,menenggelamkan Desa Pathok, Nenek Latung ingat pesan bocah kecil tadi, dan segera menaiki lesung, konon lesung yang di tumpangi Nenek Latung,terbawa arus air dan melalang ke suatu tempat, yang sekarang dikenal sebagai Dusun mangkelang, yang terletak di Desa Asinan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang.

Maka terbentuklah sebuah danau yang airnya jernih, yang di hiasi oleh tanaman enceng gondoknya, yang dikenal sebagai Rawa Pening. Di dalam rawa tersebut terdapat banyak jenis ikan, yang hingga sekarang di jadikan sebagai mata pencahariaan oleh para nelayan setempat.Rawa pening dengan keindahanya menjadi daya tarik untuk berwisata,kini semakin di kenal luas oleh masyarakat bahkan wisatawan manca Negara

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *