Misteri Desa di Bawah Air #36

Misteri Desa di Bawah Air

Oleh: Fuad Romansah

 

Dahulu kala ada sebuah desa di lembah yang subur dan berlimpah hasil alamnya. Apapun yang dibutuhkan penduduk desa, semua tersedia. Buah-buahan, sayur mayur, bahkan hewan buruan begitu mudah mereka dapatkan sebagai santapan sehari-hari. Dengan pepohonan yang rimbun berjajar, mereka tak perlu repot mencari bahan untuk membangun rumah, membuat peralatan dan senjata, serta untuk kayu bakar. Untuk minum pun mereka hanya perlu menimba di mata air yang tak pernah berhenti mengalir. Bertahun-tahun mereka hidup tanpa kekurangan. Sayangnya hal ini justru membuat mereka semakin rakus akan hasil alam tanpa mempedulikan kelestariannya.

Namun tak semua penduduk desa berfikir demikian. Dikisahkan seorang wanita yang kini hidup sebatang kara bernama Sumi. Wanita ini mewarisi sifat keluarganya yang selalu peduli dengan lingkungannya, yang mana dia tinggal di antara keserakahan sifat warga lain di desa itu yang suka berfoya-foya dengan hasil alamnya. Ini mengingatkan Sumi akan cerita dari orang tuanya tentang keindahan desanya yang semakin memudar karena ulah penduduknya sendiri.

Dahulu keluarga Sumi merupakan penduduk yang rajin. Mereka sudah mengenal cara bercocok tanam dan dapat menggembalakan hewan ternak yang kemudian sebagian dijualnya ke warga. Walaupun begitu, mereka tetap selalu membagikan pengetahuan tersebut kepada warga lain. Namun warga lain selalu mengabaikan dan mentertwakan usaha keras keluarga Sumi.

“Kami tak butuh hewan-hewanmu, daging rusa jauh lebih lezat dibandingkan domba.” Celetuk seorang warga saat ditawari hasil ternaknya.

Hingga suatu ketika, tanpa disadari, area perburuan mereka semakin meluas karena di area terdekat dari desa sudah semakin sulit ditemukan sumber makanan. Namun mereka menganggap sumber makanan akan selalu bisa didapatkan meskipun harus ditempuh lebih jauh. Bagaimanapun saat berburu di hutan yang jauh warga harus membentuk kelompok yang besar untuk mencegah penyerangan binatang buas. Kebutuhan warga untuk mengkonsumsi daging menjadi berkurang bilamana tak berangkat berburu karena tidak bisa mengumpulkan warga. Kesempatan ini dimanfaatkan orang tua Sumi untuk menawarkan hasil ternak dan kebunnya sekaligus menganjurkan agar mereka mengikutinya. Alih-alih mendengarkan nasehat orang tua Sumi, warga yang sakit hati justru menuduh orang tua Sumi lah yang mengambil hewan-hewan dari hutan kemudian dijual ke penduduk desa. Tak berhenti sampai di situ, dengan keji mereka membunuh orang tua Sumi dan merampas semua hasil kerjanya. Sumi yang ketakutan hanya bisa bersembunyi dan tak mampu berbuat apa-apa.

“Biarkan alam yang membalas.” Ucap Sumi dalam tangisnya.

Musim berganti musim, tahun berganti tahun, alam pun tak lagi dermawan kepada penduduk desa. Pohon yang tadinya berbuah lebat kini hanya tumbuh hitam, kusut dan tak bisa dimakan. Rumput yang berpangkal umbi gendut saat dicabut, kini hanya akar kurus bercampur tanah berdebu. Telaga yang selalu dikelilingi tapir dan rusa, kini hanya ada keong-keong kecil, itupun malu-malu saat dicari. Para wanita tetap seperti biasa mengumpulkan tumbuh-tumbuhan, walaupun kini hanya dedaunan, batang pohon, dan jamur seadanya untuk dimakan. Para lelaki sering pulang hanya membawa bajing dan kadal. Namun sekalinya mereka mendapatkan hewan besar, mereka langsung berpesta, terlihat keadaan itu tidak membuat penduduk prihatin. Bahkan para pemimpin desa berencana untuk mengajak seluruh warga meninggalkan desanya yang sudah semakin usang tergerus kerakusan mereka sendiri dan mencari daerah lain yang lebih subur.

Di suatu pagi sebelum terbit fajar, para warga hendak berburu ke Selatan, ke arah hutan di seberang gunung Mojo, gunung yang selalu mereka hindari karena terkenal terjal dan angker. Mereka meyakini bahwa hewan-hewan dari lembah pasti bersembunyi ke gunung itu. Namun setelah mereka melalui bukit-bukit dan hampir separuh mengitari gunung Mojo, mereka belum mendapati hewan besar untuk diburu. Barulah sesampainya mereka di dekat gua di lereng gunung, terkejutnya mereka dihadapkan dengan seekor ular yang sangat besar. Tanpa pikir panjang mereka langsung mengepung dan membantai ular besar itu dengan menghunuskan parang dan kapak di tubuhnya. Tak lama setelah mereka puas mencabik-cabik tubuh ular itu dan merasa ular itu telah mati, mereka langsung memotong tubuhnya menjadi beberapa bagian agar mudah dipikul ke desa. Usai menjagal ular raksasa tersebut, mereka bergegas kembali ke desa.

“Ayo cepat tinggalkan tempat ini! Sudah mulai gelap, aku mulai merasakan ada yang aneh dengan tempat ini.” Sambil bergetar, ucap seorang warga kepada rombongannya.

“Ah, dasar kau penakut. Wajahmu kan lebih seram dari semua hantu di sini, hahaha..” Jawab temannya, kemudian rombongan lain pun tertawa.

            Langit mulai padam, arah jalan pulang pun tak terlihat, terpaksa mereka bermalam di hutan. Mereka mengumpulkan hasil buruan dan mengelilinginya di tengah. Beberapa orang menyalakan api untuk mencegah binatang buas mendekat. Beberapa yang lain berjaga-jaga. Sesekali memang terdengar suara di semak-semak. Mereka menganggap itu suara dari binatang buas yang mendekat. Kemudian salah seorang yang berjaga mengusirnya dengan menggunakan obor.

Pagi-pagi mereka melanjutkan perjalanan. Sesampainya di desa, para wanita menyambut dengan suka ria dan langsung menyiapkan api untuk memasak hasil buruannya.

“Daging apa ini, besar dan banyak sekali?” Tanya seorang wanita kepada kedua pria yang tampak kelelahan setelah meletakkan sepotong daging.

“Kami menemukan ular raksasa di gunung Mojo.” Jawab seorang pria.

“Bagaimana mungkin kalian bisa melawan ular sebesar ini?” Wanita itu bertanya lagi dengan takjub.

“Aku sendiri juga heran, mengapa ular ini tak melawan saat kami datang, bahkan meronta pun tidak.” Pria satunya berkata sambil mengusap keringat dan darah kering di dahinya.

Tak menghiraukan lagi ularnya, mereka bersorak merayakan hasil perburuan mereka. Sambil menunggu makanan dihidangkan, beberapa warga menabuh genderang sebagai tanda berlangsungnya pesta. Beberapa yang lain menyambutnya dengan menyanyi dan menari. Sumi yang mendengar keramaian dari kejauhan, tak penasaran dengan apa yang mereka rayakan. Namun, Sumi yang kala itu sedang mengerjakan ladangnya tiba-tiba terhenti saat seorang bocah kurus, lusuh, dan kotor terlihat olehnya berjalan sempoyongan dari hutan mendekati kerumunan warga. Sumi yang merasa iba kepada bocah itu berusaha mengejarnya namun sang bocah telah lebih dulu mendekati pesta.

“Huss! Anak siapa kau? Pergi, jangan dekat-dekat dengan kami!” Seorang warga kaget melihat bocah itu langsung mengusirnya.

            Kemudian bocah itu mundur dan terduduk lemas. Warga yang masih berada di dekatnya merasa risih lalu menjauhinya. Bocah tersebut mencoba bangkit dan mendatangi kerumunan lain, namun dia malah ditendang, bahkan beberapa orang melemparinya dengan batu agar bocah itu menjauh. Sumi yang mengawasinya dari jauh tak tinggal diam. Dia menghampiri untuk menyelamatkan bocah tersebut.

“Hentikan! Jangan ganggu anak ini!” teriak Sumi kepada mereka.

Warga yang tahu Sumi datang dan membela bocah itu langsung menyoraki dan melempari mereka berdua. Sumi pun membawa bocah itu ke tempat tinggalnya.

“Siapa namamu, nak? Di mana orang tuamu?” tanya Sumi kepada bocah itu sambil memberinya makanan. “Makan lah, kau pasti kelaparan di luar sana.” Tanpa berkata-kata bocah itu langsung memakannya.

“Tinggalah di sini bersamaku, dan jangan kembali ke sana.” Sumi meminta anak itu untuk tidak mengusik warga desa lagi.

            Malam semakin larut, sebelum tidur, bocah itu mengatakan beberapa hal. Hal yang membuat Sumi takut dan membuat dia terjaga malam itu. Sesekali dia melihat ke arah bocah itu, yang sedang tertidur dengan pulasnya, berharap dia terbangun dan menjelaskan maksud yang dibicarakannya tadi. Banyak sekali pertanyaan yang mengganggu pikiranya, namun akhirnya Sumi pun tertidur.

            Mentari telah tinggi, tak biasanya Sumi bangun sesiang ini. Sontak dia bangun berdiri, bukan karena kesiangan, namun kaget setelah melihat sang bocah sudah tidak di tempatnya. Sumi kawatir terjadi sesuatu padanya. Dia mencarinya ke sana ke mari, namun tak menemukan bocah itu. Pada akhirnya dengan wajah ketakutan, nafas Sumi terhenti saat melihat penduduk desa berduyun-duyun menuju mata air di desa tersebut. Sumi berlari menghampiri sumber kerumunan itu. Dia menerobos warga agar dapat melihat apa yang ada di depan mereka. Sesampainya di depan kerumunan, Sumi tertegun melihat bocah itu memang berada di hadapan mereka. Dia jongkok tepat di sisi sumber mata air. Satu hal lagi yang mengejutkan Sumi dan warga lain adalah ketika air sudah tak terpancar dari satu-satunya mata air yang tersisa di desa itu. Warga menduga itu adalah ulah sang bocah, dengan menancapkan sebatang lidi pada mata air tersebut.

“Cabut saja lidi ini, kalau berhasil kalian tak akan kekurangan air lagi.” Sang bocah berkata pada semua warga yang mengelilinginya.

            Dengan penasaran dan dengan perasaan yang aneh, satu-persatu warga mencoba mencabut lidi tersebut, namun tidak ada yang berhasil. Sampai pada akhirnya mereka semua menyerah.

“Baiklah aku saja.” Kata bocah itu kepada semua warga.

            Sebelum mencabut lidi itu, dia menghampiri Sumi dan berkata: “Ingatlah pesanku semalam.” Dia berbalik dan kembali berucap. “Pergilah sekarang!”

            Sambil ketakutan melihat sang bocah, Sumi perlahan kembali berjalan kerumahnya. Sesaat kemudian bocah itu kembali ke sumber mata air itu, lalu dengan mudah mencabut lidi tersebut. Yang terjadi kemudian tak dapat dilupakan oleh Sumi: Air terpancar deras keluar dari mata air tersebut, menghempaskan orang-orang yang berada di dekatnya. Sambil berlari, Sumi menyaksikan warga desa berteriak berhamburan dan tersapu oleh derasnya gelombang yang semakin membesar. Dia mengingat pesan terakhir yang diucapkan sang bocah kepada dirinya: “Bila besok terjadi bencana, naiklah lesung untuk menyelamaatkan dirimu.”

            “Ternyata ini yang dimaksudkan anak itu tadi malam.” Ucap Sumi dalam hati, mengingat pesan sang bocah. Kemudian Sumi bergegas menuju rumahnya dan menaiki lesung yang dimaksudkan itu. Tak lama kemudian gelombang air mulai menerjang rumahnya dan berangsur menenggelamkan desa.

Setelah cukup lama terapung-apung, akhirnya Sumi terdampar di sebuah bukit. Sumi yang tergeletak di tanah hanya bisa tercengang melihat apa yang telah dialaminya. Dia tak menyangka bahwa ucapannya dulu menjadi sebuah kutukan kepada penduduk desa yang jahat terhadap keluarganya dan terhadap alamnya sendiri.

Sumi semakin tersadar bahwa perkataan sang bocah malam itu adalah konsekuensi yang pantas mereka terima setelah apa yang mereka perbuat. Malam itu sang bocah sempat mengatakan bahwa dirinya adalah rumput dan pohon, yang telah kering dan tak lagi berdiri di atas akarnya; adalah rusa yang berlari ketakutan menghidari tombak dan panah; adalah ular yang tak berdaya bergeliat merasakan tubuhnya terbelah-belah; dan dirinya adalah semua makhluk yang ada di lembah itu, yang telah sekarat dan kini tak punya tempat tinggal. Awalnya Sumi mengira sang bocah hanya ‘ngelantur’. Kemudian semuanya menjadi nyata di hadapanya.

Lembah surga yang telah lapuk, kini tenggelam bersama keserakahan penduduknya sendiri. Namun air akan memberikan tempat tinggal bagi makhluk yang baru. Air yang terus terpancar telah mengubah lembah menjadi danau. Danau yang sangat jernih, sehingga kini dinamakan Rawa Pening. Danau yang masih menyimpan banyak misteri hingga kini. Danau yang memberikan kehidupan kepada Sumi, dan makhluk lain di sekitarnya

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *