Asal Usul Terjadinya Rawa Pening #35

Baru Klinting, Asal Usul Terjadinya Rawa Pening

Oleh: Dahyu Afni

 

Suatu malam di Desa Ngasem, hujan turun dengan deras. Petir menggelegar memecah keheningan malam dan angin bertiup sangat kencang. Suara longlongan anjing kampung membuat suasana malam itu semakin mencekam. Di sebuah gubuk kecil, seorang wanita sedang berjuang melahirkan buah cintanya. Endang Sawitri namanya. Ia hanya tinggal seorang diri. Suaminya adalah seorang petapa yang sudah beberapa bulan terakhir meninggalkan rumah. Di tengah rasa sakitnya, ia hanya meminta bantuan Yang Maha Kuasa agar bisa melahirkan anaknya, sebab mustahil baginya untuk mencari bantuan dukun beranak karena hujan turun begitu deras.

Tepat saat petir menggelegar dengan sangat keras, lahirlah anak Endang Sawitri. Betapa kagetnya ia saat mengetahui bahwa yang dilahirkannya adalah seekor naga. Diangkatnya naga itu sambil bercucuran air mata. Nalurinya sebagai seorang ibu membuatnya tidak takut dan tidak menyesali apa yang telah ia dapatkan. Bagaimanapun, naga itu adalah anaknya. Anak yang telah sembilan bulan ia kandung dalam rahimnya. Anak yang ia lahirkan sendiri dari rahimnya. Baru Klinting. Begitu ia kemudian memberi nama kepada anaknya.

Mempunyai anak seekor naga tak membuat Endang Sawitri acuh kepada anaknya. Ia merawat dan membesarkannya dengan sangat baik dan tulus. Mulai dari memandikan, memberi makan, dan mengajaknya bermain. Semua itu ia lakukan semata karena kasih sayang yang begitu besar kepada Baru Klinting, Bertahun-tahun berlalu, kini Baru Klinting berusia tujuh tahun.

Suatu hari saat sedang makan, tiba tiba Baru Klinting bertanya kepada ibunya, “Ibu, boleh aku bertanya sesuatu?” Endang Sawitri langsung menoleh dan berkata, “Tentu saja boleh. Apa yang ingin kau tanyakan, Nak?” Sambil menunduk, Baru Klinting mulai mengumpulkan keberanian untuk bertanya hal yang selama ini mengganjal di pikirannya. “Emm.. Dulu Ibu pernah bercerita tentang Ayah, Ibu bilang, Ayah adalah seorang petapa. Maka dari itu, Ayah tidak akan pulang sebelum ia selesai bertapa. Ibu, sekarang aku sudah besar. Aku ingin tahu siapa nama Ayah. Aku juga ingin bertemu dengan Ayah, Bu.” Mendengar hal itu, Endang Sawitri terdiam sejenak. Ia mulai menimbang dan akhirnya berkata, “Anakku, Baru Klinting. Kau memang benar. Sekarang kau sudah besar dan sudah seharusnya kau mengetahui siapa dan di mana Ayahmu berada.” Endang Sawitri menghela nafas panjang, lalu melanjutkan perkataannya, “Ayahmu bernama Ki Hajar Selokantoro. Jika kau ingin bertemu dengan Ayahmu, pergilah ke Gunung Telomoyo. Di lereng Gunung Telomoyo-lah Ayahmu bertapa.” Baru Klinting merasa senang ketika ia mengetahui siapa nama ayahnya. Ia pun meminta izin kepada sang ibu untuk pergi menemui ayahnya. “Terima kasih, Ibu. Besok pagi, aku akan pergi untuk bertemu dengan Ayah. Aku mohon izin dan doa restu dari Ibu supaya aku bisa bertemu dengan Ayah.” Sambil menitikkan air mata, Endang Sawitri pun memberikan restu kepada anaknya, “Ibu mengizinkan dan merestuimu, Nak. Tapi, kamu harus membawa ini,” Endang Sawitri mengambil klintingan dari kotak yang ia simpan lalu menyerahkannya kepada Baru Klinting, “Ayahmu akan langsung mengetahui jika kamu adalah benar darah dagingnya.” Baru Klinting menerima klintingan itu dan mengucapkan terima kasih kepada ibunya, “Terima kasih, Bu.”

Keesokan harinya, Baru Klinting memulai perjalanan untuk mencari ayahnya. Tak lupa, ia membawa klintingan dari ibunya untuk ditunjukkan kepada ayahnya. Sesampainya di lereng Gunung Telomoyo, ia menemukan sebuah gua yang di dalamnya terdapat pria paruh baya yang sedang bertapa. “Apakah benar bahwa Anda adalah Ki Hajar Selokantoro?,” tanya Baru Klinting kepada pria itu. “Ya, benar. Siapa kau? Mengapa kau bisa tahu namaku?,” pria itu menjawab masih dengan menutup matanya. Baru Klinting membunyikan klintingan yang ia dapatkan dari ibunya. Sambil membunyikan klintingan itu, Baru Klinting menjawab, “Ayah, ini aku, Baru Klinting, anakmu. Aku sudah meminta izin kepada Ibu, Endang Sawitri, untuk menemui Ayah di sini.” Ki Hajar Selokantoro seketika langsung membuka matanya dan betapa terkejutnya ia melihat sosok naga yang berada di hadapannya. “Anakku? Mustahil. Aku adalah seorang manusia, sedangkan kau adalah seekor naga. Mana mungkin istriku melahirkan seekor naga,” tanya Ki Hajar Selokantoro dengan rasa curiga. “Aku memang seekor naga, Ayah. Tapi aku ini memang benar anakmu. Aku lahir dari rahim seorang Endang Sawitri dari Desa Ngasem. Jika Ayah tidak percaya, ini kubawa klintingan yang diberi oleh Ibu,” jawab Baru Klinting sambil menunjukkan klintingannya. Melihat klintingan itu, Ki Hajar Selokantoro pun ingat bahwa ia pernah memberikan klintingan itu kepada Endang Sawitri, istrinya.

Dengan perasaan masih tidak percaya dengan apa yang ia hadapi, Ki Hajar Selokantoro memberikan tantangan kepada Baru Klinting. “Baiklah. Aku akan memberimu satu tantangan. Jika kau berhasil melakukan tantangan itu, aku akan menerimamu sebagai anakku,” ucap Ki Hajar Selokantoro kepada Baru Klinting. “Apa itu, Ayah?,” tanya Baru Klinting. “Kau harus bisa melingkari Gunung Telomoyo ini dengan tubuhmu,” jawab Ki Hajar Selokantoro. Baru Klinting pun menerima tantangan yang diberikan ayahnya, “Baiklah, Ayah. Aku menerima tantangan itu dan akan kulakukan dengan baik. Mohon restu Ayah agar aku berhasil melakukan tantangan itu,” ujar Baru Klinting. Dengan kepala berada di hadapan sang ayah, Baru Klinting mulai melingkarkan tubuhnya ke Gunung Telomoyo. Akan tetapi, ia tak berhasil melingkari Gunung Telomoyo dengan tubuhnya. Ekor dan kepalanya tak bisa bertemu. Tak kehilangan akal, Baru Klinting pun menjulurkan lidahnya yang panjang agar bisa menyentuh ekornya. Melihat hal itu, Ki Hajar Selokantoro tidak terima. Ia langsung mengambil keris dan langsung memotong lidah Baru Klinting. Petir menyambar dengan sangat keras saat keris tersebut berhasil memotong lidah Baru Klinting. Bersamaan dengan itu, tubuh Baru Klinting masuk ke dalam tanah dan menjelma menjadi seorang anak kecil dengan luka borok di sekujur tubuhnya. Anak kecil tersebut lari keluar hutan sambil menangis.

Suatu hari, di sebuah desa sedang diadakan syukuran desa. Para warga bergotong royong untuk melaksanakan syukuran tersebut. Para wanita memasak, sedangkan para pria membersihkan jalanan menuju desa dengan memotong ilalang dan menebang pohon. Ketika parang dari seorang pria mengenai salah satu akar pohon, keluarlah darah dari akar tersebut. Pria tersebut langsung memanggil rekan-rekannya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya ada di dalam tanah. Para pria langsung berbondong-bondong mendatangi tempat tersebut. Mereka merasa sangat senang ketika mengetahui bahwa ternyata di dalam tanah ada seekor binatang yang sangat besar. Tidak pikir panjang, para pria tersebut langsung memotong daging dan membawanya untuk di masak dan di makan seluruh warga desa.

Dari kejauhan, ada seorang anak kecil yang sedang berjalan menuju desa. Ia mendatangi rumah-rumah warga untuk meminta makanan. Akan tetapi, para warga yang ia datangi rumahnya tidak mau memberikan makanan kepadanya. Para warga merasa jijik melihat anak kecil tersebut. Bau busuk yang keluar dari luka borok anak kecil tersbut membuat para warga langsung menutup hidung saat anak kecil itu meminta makanan. Bahkan, mereka tak segan langsung mengusir anak kecil itu dari rumah mereka. Sudah seharian, sang anak kecil mendatangi rumah-rumah warga, namun tak ada satu pun dari mereka yang mau memberikan makanan. Sampai di satu rumah di ujung desa yang dekat dengan persawahan, anak kecil yang sudah sangat kelaparan itu memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Rumah tersebut dihuni oleh seorang nenek yang bernama Nyai Lembah. Ketika Nyai Lembah membuka pintu dan melihat anak kecil tersebut, ia langsung merasa iba.

“Ada apa gerangan, Nak? Mengapa kau terlihat sangat lemas?,” tanya Nyai Lembah kepada anak kecil itu. “Aku lapar, Nek. Aku sudah seharian berkeliling desa untuk meminta makanan, tapi tak ada seorang pun yang mau memberiku makan,” jawab anak kecil tersebut sambil menangis. Nyai Lembah langsung menyuruh anak kecil itu masuk ke dalam rumahnya, “Masuklah, Nak. Akan kusiapkan makanan untukmu.” Anak kecil tersebut langsung masuk ke rumah Nyai Lembah. Tak lama berselang, Nyai Lembah sudah membawakan piring yang penuh dengan makanan. Kedua mata anak kecil itu membelalak dan terlihat senyum lebar dari mulutnya. “Ini, Nak, makanlah,” kata Nyai Lembah. “Terima kasih, Nek,” ucap anak kecil itu.

Dalam waktu singkat, makanan yang diberikan Nyai Lembah kepada anak kecil itu sudah habis. Nyai Lembah pun merasa senang ketika anak kecil itu terlihat kenyang. Setelah Nyai Lembah membawa piring yang digunakan anak kecil itu ke dapur, ia bertanya kepada sang anak kecil, “Siapa namamu, Nak?” Anak kecil itu tersenyum sambil berkata kepada Nyai Lembah, “Namaku Baru Klinting, Nek.” Belum sempat Nyai Lembah bertanya lebih mengenai asal-usul anak kecil itu, Baru Klinting langsung berpamitan dan memberi pesan, “Terima kasih Nenek sudah memberikan makanan kepadaku. Sebelum aku meninggalkan rumah ini, aku ingin jika suatu saat Nenek mendengarkan suara kentongan, Nenek harus naik ke atas lesung yang ada di depan rumah Nenek. Sekarang aku mohon pamit, Nek. Terima kasih sekali lagi atas makanan yang sudah Nenek berikan kepadaku dan jangan lupa dengan apa yang sudah aku katakan kepada Nenek tadi.” Nyai Lembah terheran-heran dengan apa yang dikatakan Baru Klinting. Ia hanya terdiam melihat Baru Klinting keluar dari rumahnya.

Keesokan harinya, Baru Klinting pergi ke desa itu lagi dan muncul di tengah warga yang sedang berpesta. Para warga kaget dengan kehadiran Baru Klinting dan langsung menutup hidung mereka saat mencium aroma busuk dari tubuh Baru Klinitng. Tanpa mengucap kata, Baru Klinting langsung menancapkan sebatang lidi ke tanah. Hal ini membuat suasana pesta menjadi riuh. Tanpa rasa takut dan dengan suara lantang, Baru Klinting berkata, “Hai, warga desa yang sombong, yang tidak mau memberikan makanan pada anak kecil ini, aku ingin menantang kalian untuk mencabut lidi ini dari tanah.” Para warga desa tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Baru Klinting. Mereka menganggap bahwa tantangan yang diberikan Baru Klinting mudah untuk dilakukan. Salah seorang warga berbadan kurus mulai maju dan berkata dengan meremehkan Baru Klinting. “Anak kecil. Tantangan ini sangatlah mudah. Kau tidak perlu repot memberikan tantangan ini kepada kami. Jangankan kami yang sudah dewasa, bayi pun bisa dengan mudah mencabut lidi ini dari tanah,” ujar warga berbadan kurus itu sambil setengah tertawa kemudian diikuti oleh tawa seluruh warga desa. Baru Klinting tidak menghiraukan cemoohan para warga desa. Ia justru berkata, “Coba saja kalau bisa.”

Warga berbadan kurus pun langsung bersiap melakukan tantangan dari Baru Klinting. Dengan rasa percaya dirinya, ia menggunakan satu tangannya untuk mencabut lidi itu, tapi ternyata ia tidak bisa melakukannya. Kemudian ia menggunakan dua tangannya, namun tetap saja lidi itu masih menancap di tanah. Setelah dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk mencabut lidi itu, akhirnya ia menyerah. Warga lain yang merasa penasaran, satu per satu mulai mencoba untuk mencabut lidi itu. Hampir seluruh warga desa yang datang di pesta tersebut tak ada yang bisa mencabut lidi yang telah ditancapkan Baru Klinting.

Baru Klinting tersenyum melihat para warga tidak bisa melakukan tantangannya. Ia kemudian maju mendekati lidi yang telah ia tancapakan sambil berkata, “Tidak ada satu pun dari kalian yang bisa mencabut lidi ini dari tanah. Kemarin kalian menolak memberiku makan, padahal kalian memiliki makanan yang berlimpah. Hari ini kalian meremehkan tantangan yang sudah aku berikan dengan mengatakan bahwa tantangan ini sangat mudah untuk dilakukan. Akan tetapi, pada kenyataannya kalian tidak bisa melakukan tantanganku. Lihatlah ini!” Baru Klinting mulai mencabut lidi itu dari tanah. Tiba-tiba, dari lubang tancapan lidi itu keluar air yang sangat deras. Baru Klinting langsung berlari meninggalkan desa menuju rumah Nyai Lembah. Bersamaan dengan itu, para warga langsung membunyikan kentongan tanda bahaya. Nyai Lembah yang mendengar suara kentongan itu mulai bersiap naik ke atas lesung dan melihat Baru Klinting berlari menuju rumahnya. Kemudian, Baru Klinting langsung naik ke atas lesung bersama dengan Nyai Lembah. Tak lama berselang, air mulai menggenang dan menenggelamkan desa. Baru Klinting dan Nyai Lembah berhasil menyelamatkan diri, sedangkan  seluruh warga desa tenggelam dalam genangan air. Genangan air tersebut kini menjadi sebuah rawa yang dikenal dengan nama Rawa Pening

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *