BARUKLINTHING WITH LOGICAL THINGKING #34

BARUKLINTHING WITH LOGICAL THINGKING

Oleh: Fahrul Zidane

 

Cerita ini dimulai oleh seorang gadis yang sangat cantik bernama Endang Sawitri, yang baru saja mengalami putus cinta dengan pasangannya. Hal ini menyebabkan gadis itu sangat tertekan. Karena dirasa sudah tidak mampu menahan segala bentuk emosi dan mereda masalah yang melemahkan hati dan pikirannya, Endang Sawitri pun pergi menuju ke Gunung Telomoyo untuk menemui seorang petapa yang saleh bernama Ki Hajar Salokantara guna meminta petuah untuk menyelsaikan masalah yang tengah dihadapinya tersebut. Singkat cerita, Endang Sawitri telah berhasil menemui Ki Hajar Salokantara dan menceritakan tentang masalahnya. Beberapa petuah pun didapatkan Endang Sawitri dan diberikan pula sebuah pusaka berbentuk keris dengan sebuah syarat dimana Endang Sawitri pantang meletakkan pusaka tersebut di atas pangkuannya.

Setelah itu, Endang Sawitri kembali ke desa yang mana saat itu, desa tersebut tengah menggelar pesta rakyat. Seluruh warga turut berpartisipasi guna menyukseskan keberlangsungan pesta rakyat tersebut. Endang Sawitri pun ikut andil membantu ara wanita menyiapkan masakan, dengan mengambil tugas memotong beberapa bahan untuk dimasak. Karena tidak ada pisau yang dijumpai, maka ia nekat memakai pusaka yang diberikan Ki Hajar Salokantara kepadanya. Beberapa jam telah berlalu dengan kesemua bahan telah selesai dipotong. Lelah pun menghampiri dan memaksa dirinya untuk beristirahat. Tak sengaja, dirinya meletakkan pusaka tersebut di pangkuannya. Hal aneh pun langsung menjalari tubuh Endang Sawitri karena melanggar pantangan dari Ki Hajar Salokantara. Perutnya langsung membesar seakan sesuatu masuk kedalamnya, pusaka tesebut juga menghilang. Konon pusaka itulah yang memaski perut dari Endang Sawitri. Dirinya panik, begitupula warga sekitar yang melihatnya. Dan setelah diperiksa oleh seorang dukun setempat, maka dipastikan Endang Sawitri tengah mengandung. Sontak warga sekitar bertambah kaget. Bagaimana seorang gadis yang belum menikah dapat mengandung ?

Dari dua paragraf ini terdapat dua point yang perlu dicermati, yaitu pemberian pusaka berupa keris oleh Ki Hajar Salokantara dan membesarnya perut Endang Sawitri. Pemberian keris merupakan sebuah analogi dimana keris yang dimaksud adalah kejantanan pria. Ketika Endang Sawitri menemui Ki Hajar Salokantara yang tengah bertapa dirinya menggunaka beragai cara untuk menarik perhatian Ki Hajar Salokantara agar mau mendengarkan dan memberikan penyelesaian terhadap masalahnya. Hingga akhirnya Ki Hajar Salokantara menyudahi pertapaannya untuk menemui Endang Sawitri. Tak di sangka Ki Hajar Salokantara terkesima kepada Endang Sawitri sehingga menimbulkan hasrat didalamnya. Dirinya pun meninggalkan kegiatan bertapanya dan memilih untuk mengikuti Endang Sawitri pulang ke desa. Kemudian larangan untuk menaruh pusaka di pangkuan merupakan kalimat konotatif yang berarti untuk tidak menggoda hasrat dari Ki Hajar Salokantara. Namun ketika tengah istirahat setelah membantu warga memasak, Endang Sawitri melanggar pantangan Ki Hajar Salokantara yang menyebabkan pusaka tersebut masuk kedalam perutnya dan menjadikan Endang Sawitri mengandung. Masuknya pusaka dan membesarnya perut merupakan analogi jika telah terjadi hubungan (suami isteri) di kedeuanya dimana pria dilambangkan dengan keris yang memasukiperut wanita dan menyebabkan kehamilan. Dari sini secara tersirat dijelaskan bahwasanya manusia memiliki musuh utama yaitu nafsu. Bahkan orang yang saleh pun dapat dikalahkan oleh nafsu. Sehingga esan yang didapat yaitu kita harus menjaga diri kita dari segala nafsu yang berorientasi kepada hal yang negatif.

Cerita berlanjut dengan lahirnya anak yang dikandung Endang Sawitri. Namun bukan berwujud manusia, melainkan seekor ular naga yang dinamai anak Bajang. Kemudian bertahun-tahun berlalu menjadikan anak Bajang tumbuh hingga muncul pertanyaan di mana ayahku ? Endang Sawitri pun menjawab jika ayahnya sedang bertapa di gunung Telomoyo. Anak Bajang pun senang mendengar keberadaan ayahnya, berangkatlah anak Bajang menuju tempat pertapaan Ki Hajar Salokantara dengan di bekali sebuah lonceng sebagai isyarat bahwa anak Bajang merupakan keturunan Ki Hajar Salokantara. Sesampainya di sana dan anak Bajang behasil menemui Ki Hajar Salokantara, dirinya bercerita bahwasanya ia merupakan anak Ki Hajar Salokantara. Namun anak Bajang tidak langsung diakui menjadi anaknya. Terdapat banyak syarat yang di ajukan oleh Ki Hajar Salokantara jika anak Bajang ingin diakui sebagai anaknya, yang saat itu kesemua syarat yang di ajukan di terima oleh anak Bajang. Salah satunya yaitu anak Bajang musti berubah dari bentuk asalnya (ular naga) menjadi manusia dengan cara melingkarkan tubuhnya mengitari gunung Telomoyo  dengan badannya. Sempat akan gagal karena panjang tubuhnya tak sanggup mengitari gunung Telomoyo kemudian Ki Hajar Salokantara menyarankan untuk menyambungnya dengan lidah.

Pertapaan Ki Hajar Salokantara merupakan pengganti pertapaan yang dulu ia tingalkan. Hal ini mengajarkan kita tentang tanggung jawab yang harus kita kerjakan. Ketika tanggung jawab itu kita tinggalkan, maka wajiblah untuk kita tetap menjalankannya bahkan dikemudian hari selama masih ada waktu. Kemudian maksud anak Bajang musti berubah menjadi manusia yaitu. Bukan hanya wujudnya yang manusia melainkan sifat dan prilakunya, dimana manusia merupakan makhluk yang paling sempurna, maka agar kita dapat diterima kita harus menjadi manusia seutuhnya melalui sikap dan sifat yang semestinya manusia miliki. Untuk meligkari gunung dengan menyambung lidah memiliki arti apabila kita ingin menyatukan sesuatu maka kita harus merangkul keseluruan apa yang ada. Kemudian lidah digunakan untuk merekatkan yang mana lidah memiliki arti denotasi sebagai alat yang menimbulkan suara. Maka sebagai manusia, untuk menggapai sebuah persatuan diperlukan sebuah komunikasi yang baik antara satu sama lain.

Setelah berhasil menjalankan syarat terakhir, anak Bajang berubah menjadi manusia dan telah diakui oleh Ki Hajar Salokantara sebagai anaknya. Dirinya pun diminta untuk kembali ke desa menemui ibunya. Anak Bajang pun menapat nama baru dari sang Ayah yaitu Baruklinthing yang diperoleh dari suara klinthing lonceng yang dipakainya. Ditengah perjalanan ke desa Baruklinthing merasa sangat lapar, kemudian dia meminta makanan kepada warga desa. Melihat fisik Baruklinting saat itu yang penu sisik dan berbau tidak sedap, Baruklinthing pun mendapat banyak penolakan dan perlakuan tidak baik dari warga desa.

Makna yang terkandung didalamnya yaitu, ketika seseorang telah menjadi manusia seutuhnya, dirinya tidak boleh melupakan masalalunya dimana disana lah tempat dia berproses hingga dapat menjadi seperti saat ini. Kemudian penolakan warga kepada Baruklinthing yang dilihat memiliki fisik yang tidak lazim juga merupakan analogi terhadap realita yang berkembang dimasyarakat ketika menilai seorang anak yang lahir diluar pernikahan yang sah. Karena bukan hanya orang tua yang mendapat penilaian negaif dari masyarakat, sang anak pun juga mendapatkan dampak sosial berupa citra buruk dimata masyarakat ketika melihatnya.

Setelah mendapat penolakan dari warga setempat, Baruklinthing pun melanjutkan perjalanannya dan berhenti disebuah gubug kecil milik mbok Rondo. Di sana Baruklinthing meminta makanan kepada mbok Rondo. Kasihan melihat kondisi Baruklinthing yang sedang kelaparan dan tanpa meperdulikan fisik dari Baruklinthing mbok Rondo memberi makanan yang langsung dilahap oleh Baruklinthing. Merasa tebantu oleh mbok Rondo dan mendapat kebaikan setelah mengalami banyak penolakan dari warga sekitar, Baruklinthing pun berterimakasih kepada mbok Rondo sambil memberikan sebuah lesung dan menitipkan suatu pesan manakala terjadi sebuah bencana alam dalam hal ini Baruklinthing menggambarkan nya dengan luapan air yang sangat besar, Baruklinthing menyuruh agar mbok Rondo menyelamatkan diri menggunakan lesung tersebut untuk mengarungi luapan air yang sangat besar.

Setelah itu, kembali lah Baruklinthing menuju ke desa sambil memanggili seluruh warga untuk berkumpul di lapangan desa. Saat setelah emua warga berkumpul, diumumkan lah disana bahwasanya Baruklinthing mengadakan sayembara mencari orang terkuat di desa itu. Dengan cara barang siapa yang berhasil mencabut lidi yang ditancapkan Baruklinthing di tanah, maka dia lah orang terkuatnya. Kemudian, ditancapkan lah sebuah lidi yang dinamai jimat Kalimasada ke tanah. Warga desa saling bergantian untuk mencoba mencabut lidi tersebut. Namun tak satupun yang dapat mencabutnya dari tanah, bahkan beberapa diantara mereka mencoba mencabutnya bersama-sama, namun tetap gagal. Hingga pada akhirnya Baruklinthing sendiri yang mencoba mencabutnya setlah semua warga desa kepayahan dibuatnya. Tidak butuh banyak tenaga, lidi berhasil tercabut oleh tangan Baruklinthing dan dari bekas tancapan yang ada ditanah tersebut menyemburkan air yang sangat banyak dan tidak dapat terbendung. Sontak para warga Desa punpanik dan berlari untuk menyelamatkan diri. Dahsyatnya semburan air menyebabkan seluruh desa tergenang, tak satupun warga dapat menyelamatkan diri nya, kecuali mbok Rondo yang berhasil selamat karena menghiraukan perintah Baruklinthing untuk menggunakan lesung yang di berikannya sebagai tunggangan untuk menyelamatkan diri. Baruklinthing pun kembali kepada wujud aslinya yaitu sekor ular naga. Daerah desa itupun akhirnya sepenuhnya ditenggelamkan air hingga membentuk sebuah genangan air besar dan dalam yang disebut rawa, dan didasari karena airnya yang sangat jernih, maka daerah tersebut dikenal dengan nama Rawa Pening.

Hal yang mungkin sering diragukan yaitu bagian dimana Baruklinthing mencabut lidi dan kemudian dari situ muncul semburan air. Manusia mungkin mustahil untuk menciptakan fenomena tersebut, namun tidak untuk Tuhan. Ketika kita mengikuti cerita perjalanan hidup Baruklinthing, kita akan mnemukan dirinya memiliki kehidupan yang malang dan sangat tidak diinginkan. Banyak cobaan dan sekadar penolakan akan keberadaannya. Akan tetapi, karena kerendahan hati, kepatuan, ketulusan dan hal baik yang dimiliki Baruklinthing inilah yang membuat Tuhan memiliki pandangan lain dari manusia lainnya. Dimana derajat Baruklinthing menjadi sangat tinggi dimata Tuhan, sehingga tidak ada keraguan untuk Tuhan membantu Baruklithing dan memberikan teguran berupa bencana alam kepada makhluknya agar tidak bersikap semena-mena terhadap sesama. Dari sinilah Tuhan berharap agar kisah pilu tentang diskriminasi sosial tidak terjadi lagi di masyarakat.

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *