Kisah Tiga Bangsawan Mataram #33

Kisah Tiga Bangsawan Mataram

Oleh: Ghata Kemal

 

Pada zaman dahulu, alkisah di Kerajaan Mataram sepeninggal Sultan Agung Hanyakrakusuma terjadi gonjang-ganjing. Kerajaan Mataram Islam mengalami banyak sekali kemunduran, hal ini membuat kewibawaan kerajaan mataram menjadi menyusut karena terjadi banyak sekali perebutan kekuasaan antara para pangeran kerajaan yang ingin menjadi penerus sah tahta Mataram. Perebutan kekuasaan ini dimanfaatkan VOC untuk menancapkan pengaruhnya di Pulau Jawa dengan menerapkan taktik adu domba antara para pangeran tersebut. Di daerah Bantul, Jogjakarta tersebutlah tiga bangsawan yang merasa prihatin terhadap keadaan Kerajaan Mataram yang semakin terpuruk. Mereka adalah Raden Ayu Sekar Gadung, Raden Wangsadiwirya dan Raden Digdadiwirya.

Pada suatu malam Raden Ayu Sekar Gadung mendapatkan wisik bahwa akan terjadi Bubruh Mataram. Raden Ayu Sekar Gadung memberitahukan mimpinya pada adik adiknya.

“Semalam aku bermimpi, Ngeksiganda akan kehilangan purba wasesa dan Raja Mataram akan kehilangan wahyu keprabon” dengan perasaan yang gelisah Raden Ayu Sekar Gadung bercerita pada adik-adiknya.

“Apa yang akan terjadi pada tanah Mataram ini kakak? Sehingga kakak dapat berkata demikian?” tukas sang adik.

Kemudian Raden Ayu Sekar Gadung menceitakan bahwa dalam mimpinya kerajaan mataram akan terpecah-pecah menjadi empat kerajaan, yang dimulai dengan adanya perselisihan Amangkurat IV yang dibantu VOC melawan Pangeran Purbaya, Pangeran Blitar dan Pangeran Arya Mataram.

            “Sepertinya kita harus menghindar dari kerusuhan ini kakak. Aku tidak ingin para rakyat kecil yang menjadi korban dari ketamakan para penguasa, kita harus keluar dari kerajaan ini dan menyepi menjadi warga biasa, agar pengaruh kita digunakan untuk kepentingan para pencari kuasa” kata Raden Digdadiwirya.

            “Tapi kemanakah kita akan pergi dik? Menurutku lebih baik kita melawan saja !“ balas Raden Wangsadiwirya sang kakak.

            “Bukankah kamu sudah tahu, cerita saat Trunajaya memberontak dan berhasil memporak-porandakan keraton? Melawan hanya akan membuat kita menumpahkan darah orang-orang yang tidak bersalah hanya untuk kekuasaan belaka. Ketika orang sudah mabuk kekuasaan mereka tidak akan peduli berapapun darah yang tumpah asalkan mereka dapat mencapai tampuk kekuasaan” kata Raden Ayu Sekar Gadung bijak.

Setelah berembuk panjang lebar ketiga saudara tersebut sepakat mereka akan meninggalkan kebangsawanan mereka dan menjalani hidup sebagai orang biasa (kawula alit) mereka pun berganti nama dari Raden Ayu Sekar Gadung menjadi Nyai Muizzil Nurul Insyafi, Raden Wangsadiwirya menjadi Kyai Sari dan Raden Digdadiwirya menjadi Mbah Godhek.

Setelah meminta petunjuk dari Yang Maha Kuasa, mereka mengembara kearah utara. Disetiap perjalanan mereka menunjukkan perkataan yang baik dan perilaku yang baik sehingga banyak dari warga-warga merasa senang dan mengikuti mereka mengembara. Sampai suatu di suatu masa merekapun akhirnya memutuskan untuk menghentikan perjalanan mereka di suatu daerah yang masih berupa hutan belantara.

“Ini tempat yang cocok, mari semua kita membuka lahan disini” kata Nyai Muizzil Nurul Insyafi

“Maaf kakak, mengapa kita berhenti di sini? Bukankah tempat ini masih berupa hutan lebat?” Tanya Raden Digdadiwirya.

“Aku merasa tempat sangat aman, aku memilih tempat ini karena jauh dari pusat kerajaan sehingga para warga akan aman apabila kita membuat perkampungan disini” jawab Nyai Muizzil Nurul Insyafi.

Setelah melakukan pembagian kerja diantara para pengikutnya, mereka mulai bergotong royong untuk membangun desa dan melakukan pekerjaan-perkerjaan lainnya. Namun, dalam benak Kyai Sari timbul sebuah ambisi bahwa ia ingin menjadi penguasa di daerah tersebut, ia menantang sang kakak “Kakak bagaimana kalau kita adu kesaktian, siapa yang menang ia akan menjadi penguasa di daerah baru ini” kata kyai sari.

“Apa yang membuatmu berkata seperti itu ananda? bukankah kita membuka lahan disini untuk menghindari perpecahan?” jawab sang kakak.

“Sudahlah tidak usah banyak bicara !, terimalah tantanganku” balas Kyai Sari dengan pongah.

Raden Digdadiwirya si bungsu yang bergelar Mbah Godhek hanya bisa meminta ampun pada Sang Hyang Agung, mengetahui adanya perpecahan diantara saudaranya sehingga ia memutuskan untuk melakukan tapa brata di atas batu. Nyai Muizzil dan Kyai Sari akhirnya bersepakat. Mereka berdua mengadakan perlombaan, kyai sari membabat rumput dan nyai muizzil membakar rumput, dan barang siapa yang paling banyak menyelesaikan tugas tersebut akan mendapat lahan seluas yang dikerjakannya.

Kedua duanya mengeluarkan kesaktian masing-masing, Kyai Sari tampak meremehkan kakak perempuannya yang sedang meminta pertolongan Yang Maha Kuasa. Namun tidak disangka angin pun berhembus dengan kencang sehingga api yang dibuat Nyai Muizzil menjadi besar dan membakar rumpu-rumput yang dibabat oleh Kyai Sari. Api pun ber kobar dengan besar dan mambakar apa yang ada disekitarnya. Kemudian pada akhirnya lahan yang paling luas adalah lahan yang terbakar sehingga Nyai Muizzil mendapatkan wilayah yang paling luas.

Pada akhirnya desa yang telah dibangun bersama itu terbagi menjadi dua bagian, Desa sebelah barat dipimpin oleh Kyai Sari, walaupun mendapat bagian yang sempit beliau sangat senang dengan daerah tersebut sehingga daerah itu dinamakan Langensari (Langen dalam bahasa Jawa berarti kesenangan) sedangkan di desa bagian timur dipimpin Nyai Muizzil dan daerah tersebut diberi nama “Wujil” yang berasal dari serapan nama beliau.

Setelah perlombaan tersebut mereka mencari sang adik yang melakukan tapa brata, namun mereka tidak menemukannya di tempat dimana ia bertapa. Namun alangkah terkejutnya ketika mereka mencari sang adik mereka mendengar suara yang terbawa oleh angin

“Janganlah saling berebut kekuasaan, haus kekuasaan hanya akan mendatangkan penderitaan. Ikhlaskan aku kakanda, aku sudah menyatu dengan Sang Hyang Widhi. Berbuat baiklah pada sesama dan saling tolong-menolong”. Kemudian suara itu pun hilang terbawa angin.

Kemudian Nyai Muizzil dan Kyai Sari saling bermaafan sambil menitikkan air mata. Disaksikan oleh para pengikutnya mereka akhirnya berdamai layaknya saudara. Mereka mendengarkan keluhan warga bahwa di desa belum menemukan sumber air untuk berkegiatan sehari-hari. Nyai Muizzil dan Kyai Sari kemudian bertapa meminta petunjuk pada yang maha kuasa agar dapat menemukan sumber air. Mereka kemudian berjalan kearah barat dan menemukan suatu taman yang indah. Nyai Muizzil menancapkan tongkatnya kemudian muncullah sumber air, sehingga disebutlah daerah tersebut menjadi “Kali Taman”. Sumber air tersebut sampai sekarang digunakan sebagai sarana warga desa dalam memenuhi kebutuhannya dan dapat mengaliri seluruh wilayah di desa Wujil.

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *