LEGENDA NAGA BARU KLINTHING #32

LEGENDA NAGA BARU KLINTHING, ASAL MULA RAWA PENING

Oleh: Dyah Putri Utami

Hari ini matahari enggan muncul, murung, bersembunyi di balik awan-awan tebal. Musim hujan akan segera datang rasanya, gerimis terkadang sudah mulai turun di sore hari, siang harinya, jangan ditanya! Mohon ampun panasnya! Tidak hanya matahari saja rupanya yang murung, Nyai Selakanta pun hari ini tidak ceria. Sedari tadi ia duduk di teras depan rumahnya, menatap ujung jalan, harap-harap cemas menunggu Ki Hajar suami nya pulang dari kebun. Tangan nya sibuk memainkan ujung pakainnya, nampak gelisah. Dari kejauhan, mulai tampak sosok Ki Hajar datang, tergopoh-gopoh, dengan membawa keranjang penuh dengan hasil tani.

“Bapak, lama sekali pulangnya.” gerutu Nyai Selakanta sembari menurunkan isi keranjang.

“Maaf bu, tadi banyak sekali pekerjaan di kebun.” jawab Ki Hajar.

“Ibu ini kesepian pak, di rumah ndak ada siapa-siapa kalau bapak pergi, seandainya saja kita punya anak pak, pasti ibu ndak akan kesepian.” raut Nyai Selakanta mulai sendu.

“Ya bagaimana lagi bu, Sang Hyang belum kirim anak sama kita.”

Sudah hampir 10 tahun menikah, namun Ki Hajar dan Nyai Selakanta belum juga memiliki keturunan. Bagaimana tidak cemas, biasanya warga desa yang lepas menikah, langsung hamil. Paling lama 3 tahun baru hamil, itupun sudah menjadi bahan olok tetangga.

Tidak tega pula Ki Hajar melihat istrinya yang terus-terusan kesepian, terkadang sampai sakit, saking inginnya punya anak. Ki Hajar akhirnya memutuskan untuk pergi bertapa, meminta, memohon dan berdoa agar sudi kiranya Sang Hyang mengirimkan darah daging kepadanya.

 Tidak disangka, tepat pada hari ke-40 pertapaan Ki Hajar, Nyai Selakanta mulai merasa mual, pusing, terkadang tidak nafsu makan. Ya Gusti, rupanya Nyai Selakanta mulai hamil. Tidak terkira berapa syukur yang sudah Nyai Selakanta ucap dan sujud yang ia persembahkan untuk Gusti, Sang Hyang. Tetapi, berdasar mimpi yang didapat Nyai Selakanta pada di mana ia mulai hamil, Ki Hajar belum diijinkan menyelesaikan pertapaan, sampai dijemput oleh anak pemberian Sang Hyang. Ah, masih lama pula anak ini akan lahir!

 Malam ini desa sudah sepi, kata pamong desa, malam ini akan ada angin kencang dan hujan lebat. Sedari tadi Nyai Selakanta resah, perutnya mulas tiada tertahankan. Tepat tengah malam, di tengah hujan lebat dan angin kencang Nyai Selakanta melahirkan, tanpa bantuan siapapun, bahkan memanggil dukun beranak pun tidak sempat. Hanya dengan sinar dari senthir ia mempertaruhkan nyawa. Samar-samar ia melihat ke bayi yang baru saja lahir, masih bersimbah darah. Bukan! Bukan! Itu bukan bayi manusia! Itu, itu bayi naga! Tak terbendung tangis Nyai Selakanta mendapati dirinya malah melahirkan bayi naga, bukan anak seperti yang ia inginkan. Tanpa berpikir panjang, ia memutuskan untuk membesarkan anaknya di lereng Gunung Telomoyo, agar keberadaan nya tidak diketahui orang lain. Dengan sisa-sisa tenaga dan kekuatan, Nyai Selakanta membawa bayi naga nya dan beberapa perbekalan menuju ke lereng Gunung Telomoyo tanpa seorang pun tahu.

Anak naga itu pun diberi nama Baru Klithing oleh Nyai Selakanta. Anehnya, walau berwujud naga, ia bisa berbicara selayaknya manusia.

“Bu, apakah aku punya ayah?” tanya Baru Klithing ketika ia sudah mulai tumbuh besar.

“Tentu punya anak ku. Ayah mu masih bertapa, ia akan pulang ketika kau jemput kelak.” jawab Nyai Selakanta, ia sudah siap ketika tiba saat nya anak nya itu menanyakan ayahnya.

“Boleh ku jemput ayah sekarang, bu? Bukan kah sudah lama ayah tidak pulang?”

Nyai Selakanta pun mengijinkan Baru Klithing menjemput ayah nya di pertapaan. Benar saja, di sana Ki Hajar masih khusuk dalam pertapaan.

“Ki Hajar, ini aku anakmu Baru Klinthing.” sapa Baru Klinthing ragu.

Betapa kaget nya Ki Hajar tatkala melihat mahluk di depan nya yang berwujud naga, bukan anak lelaki seperti yang ia bayangkan. Tak percaya bahwa anaknya adalah seekor naga, Ki Hajar meminta Baru Klinthing untuk melingkari Gunung Telomoyo sebagai bukti bahwa ia adalah anaknya. Tanpa membutuhkan waktu lama, Baru Klinthing pun berhasil melingkari Gunung Telomoyo. Tak ada pilihan lain, Ki Hajar pun mengakui Baru Klinthing sebagai putranya. Ki Hajar pun meminta Baru Klinthing untuk bertapa di Bukit Tugur, agar kelak ia dapat berubah menjadi manusia.

Baru Klinthing bertapa dengan khidmat di Bukit Tugur sesuai perintah ayahnya. Tak jauh dari Bukit Tugur, terdapat sebuah desa yang konon katanya berisi dengan orang-orang yang sombong dan angkuh, setiap hari mereka berpesta pora, bersenang-senang. Hari ini warga seperti biasa mencari buruan untuk pesta nanti malam. Ah nasib malang, dari tadi mereka belum mendapatkan satupun hasil buruan. Tidak disangka, mereka menemukan Baru Klinthing yang tengah bertapa, dengan tamaknya, mereka memotong-motong badan Baru Klinthing dan digunakan sebagai santapan pesta para warga nanti malam. Untung saja, Baru Klinthing berhasil melepas jiwanya dari badan naganya dan menjelma menjadi seorang anak laki-laki yang berkoreng, bau busuk.

Baru Klinthing memutuskan untuk turun ke desa, melihat orang-orang itu berpesta dengan dagingnya. Semua orang di desa itu jijik padanya, karen bau busuk dari koreng di tubuhnya.

“Pergi kau anak jelek! Jangan rusak pesta kami dengan bau busukmu!” tak sedikit orang-orang yang berteriak, memaki dan mengusir Baru Klinthing. Dengan rasa lapar, ia pun menyusuri pinggir desa, berharap seseorang akan memberikan nya makanan. Tiba-tiba, ia bertemu dengan seorang nenek, dengan tubuh bungkuk dan rambut penuh uban.

“Nenek, bolehkah aku meminta makan?” tanya Baru Klinthing pelan, kehabisan tenaga.

“Sini nang, nenek ada makanan. Kau pasti diusir oleh orang-orang sombong itu?” kata nenek itu yakin, sudah paham apa yang terjadi, sambil memberi Baru Klinthing makanan. Ternyata selama ini nenek tua itu juga kerap diperlakukan kasar oleh warga desa, seakan mereka akan hidup berjaya selamanya. Baru Klinthing mulai geram dengan tingkah laku warga desa yang semena-mena, tak hanya padanya, tapi juga pada nenek.

“Terima kasih nek sudah memberi ku makanan. Kelak, orang sombong itu akan mendapatkan balasan dari Gusti. Nenek ingat pesan ku yang satu ini, pergilah bersembunyi dan bawalah lesung.” pesan Baru Klinthing sembari meninggalkan nenek itu dengan membawa sebuah lidi. Baru Klinthing kemudian menuju ke pusat pesta, tanpa gentar.

“Hei kalian orang-orang sombong tidak punya hati!” teriak Baru Klinthing yang seketika menjadi pusat perhatian.

“Kau anak jelek! Mau apa kau di sini? Pergi! Jangan rusak acara kami.” teriak seorang lelaki setengah baya,

“Buktikan kalau kalian memang hebat. Cabut lidi ini!” seru Baru klinthing sembari menancapkan sebuah lidi di tanah.

“Hahahaha kau sedang bercanda anak jelek? Memang apa susahnya mencabut lidi itu, hanya sebatang lidi.” remeh seorang pemuda sambil berjalan menuju lidi itu berdiri dan mencabutnya. Ternyata tidak berhasil! Tidak semudah yang mereka bayangkan. Laki-laki, perempuan, tua, muda dan anak-anak semua mencoba mencabut lidi itu, namun tidak ada yang berhasil, tidak ada satupun.

“Lihat! Mana kekuatan yang kalian sombongkan! Sungguh kalian semua akan mendapatkan hukuman dari Sang Hyang.” dengan mudah Baru Klinthing mencabut lidinya dan terpancarlah air dari lubang bekas lidi itu tanpa bisa terbendung. Air terpancar dengan derasnya, sampai menenggelamkan desa dan seluruh warganya yang sombong itu. Hanya sang nenek saja yang berhasil selamat dengan menaiki lesung yang ia bawa, sesuai nasehat Baru Klinthing. Sejak saat itu, Baru Klinthing berkelana entah kemana. Desa sombong itupun berubah menjadi sebuah rawa, dengan air yang bening dan diberi nama Rawa Pening.

Rawa Pening kini menjadi salah satu tempat wisata yang mahsyur di Kabupaten Semarang. Rawa Pening menjadi tujuan wisata favorit para pelancong, baik dalam maupun luar kota. Terdapat Wisata Kampung Apung, bisa juga memancing atau sekedar foto-foto di pinggir rawa kala sunset.

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *