Legenda Desa Kenteng, Susukan #31

Legenda Desa Kenteng, Susukan

Oleh: Bambang Murdianto

Dari sini, sekitar abad ke-9, saat kerajaan Mataram Kuno dilanda huru-hara, cerita ini bermula…

“Kakang Djoyo, saya tak bisa lagi mengabdi kepada kerajaan. Kondisi kerajaan saat ini tak lagi tenteram. Banyak intrik semenjak persaingan dua dinasti memanas. Saya ingin menyingkir saja. Kau dan anak buahmu saya bebaskan untuk memilihperintah Tumenggung Kebo Pelet.

Kebo Pelet adalah salah satu perwira tinggi pasukan perang di Kerajaan Mataram Kuno. Sementara Djoyo adalah salah satu lurah (pimpinan regu) di pasukan yang beliau pimpin.

“Rencana saya ingin pergi kedaerah lereng Merbabu, sebuah tempat yang kerap hadir dalam mimpi saya. Saya akan menyepi dan mendekatkan diri kepada Hyang Widi lanjut beliau.

“Sebagai prajurit yang selama ini mengikuti perintah, mengalami suka dan duka selama berperang, saya akan selalu mengikuti kemanapun Tumenggung pergi tegas Lurah Djoyo. “Saya yakin para prajurit dalam kesatuan kitapun akan banyak yang mengikuti kemana Kakang Tumenggung pergi lanjut Lurah Djoyo.

“Baiklah, jika kalian berkehendak sama denganku.Syaratnya kita lupakan pangkat jabatan. Kita akan mulai hidup baru didaerah itu” Tumenggung Kebo Pelet mengakhiri pertemuan.

Singkat cerita, dengan diikuti tak kurang dari 100 prajurit, merekapun berjalan kearah utara, menuju lereng Gunung Merbabu. Sesampainya disebuah lokasi yang sama persis dengan petunjuk dalam mimpinya, Kebo Pelet dan Djoyo mbabat alas bersama para prajurit pengikutnya. Lambat laun pemukiman tersebut berkembang pesat menjadi ramai. Selain tanahnya subur, pemukiman baru itupun aman dan tenteram. Ya, Kebo Pelet telah berhasil menjadi pemimpin yang sangat arif dan bijaksana. Selain itu, beliau juga sakti mandraguna.

Konon, saat terjadi kekeringan berkepanjangan, Kebo Pelet bersemedi sembari mengheningkan cipta di sebuah lokasi. Tak berapa lama, keluarlah mata air yang jernih di tempat dimana Kebo Pelet duduk. Saat ini daerah tersebut dikenal dengan Dusun Sukorejo, yang berasal dari kata senang (suko) dan rejo (kekal). Harapannya air yang memancar tersebut akan menjadikan warga desa senang selamanya. Sampai saat ini, Sukorejo tak pernah lagi kekeringan walaupun kemarau panjang melanda.

Djoyo, tangan kanan Kebo Pelet juga tak kalah sakti. Beliau memiliki kemampuan sekelas empu. Selain memiliki beberapa benda pusaka keramat, gamelan dan seperangkat wayang kulit, juga bisa membuat batu lumpang yang bertuah. Batu lumpang tersebut kemudian digunakan pula sebagai penumbuk sesajen untuk upacara permulaan masa tanam maupun masa panen, persembahan kepada Dewi Sri. Konon ada 8 batu lumpang yang dibuat oleh Djoyo. Sementara batu lumpang yang dipercaya sebagai pusakabertuah disimpan sendiri oleh Ki Joyo. Batu lumpang itu berukuran lebih kecil. Batu lumpang itu kelak dikenal dengan nama Watu Lumpang.

Pemukiman yang dipimpin oleh Kebo Pelet benar – benar gemah ripah loh jinawi. Tak heran, ada saja gangguan dari pihak luar yang sengaja ingin mengusik ketentraman dan kemakmuran desa tersebut.

“Ki, ketiwasan, Ki. Ada gerombolan perampok yang menuju kesini. Perampok itu terkenal kejam menjarah, membakar, menculik anak gadis lapor salah satu warganya sambil menggigil ketakutan.

“Dimana mereka?” tanya Kebo Pelet.

“Mereka sedang mengintai di gumuk tegalan dekat sawah warga, Ki” jawab warga tersebut.

“Djoyo, coba kau selidiki, jangan lupa ajak bekas prajuritmu untuk menemani?” perintah Ki Kebo Pelet. Dia curiga, para perampok itu juga berniat untuk menyerang.

“Baik Ki tangkas Djoyo menyahut,  sambil mengajak 8 bekas prajuritnya untuk segera berangkat, menghadang gerombolan para penyerang. Benar saja, di sebuah gumuk terlihat gerombolan perampok yang kejam. Pengalaman sebagai prajurit Lurah yang pilih tanding, membuat Djoyo tak gentar.

Hai, kalian sedang apa disini?!” gertak Djoyo mengagetkan seluruh gerombolan perampok tersebut.

Kami berlimabelas ini hanya mampir. Tapi kami minta, serahkan harta benda dan anak gadis kalian, hahahahhahaha!” balas ketua perampok.

Saya keamanan desa. Pergi kalian!! Jika kalian tak mau pergi, akan kami beri pelajaran!”, bentak Djoyo tak kalah tegasnya.

“Gombel, kowe! Pusaka keris saktiku ini tak kan mampu kamu lawan. Serang mereka, tumpas!” balas ketua perampok sambil memerintahkan anak buahnya menyerang Djoyo dan ke-8 temannya.

Pertempuran pecah dengan sengit. Berbekal pengalaman panjang sebagai prajurit, walaupun 1 orang melawan 2 perampok, namun perkelahian nampak berimbang. Bahkan semakin terlihat para perampok tertekan.

Apa yang terjadi, memang dluar perkiraan. Hal itu membuat ketua perampok geram, “Ayo, keluarkan pusakamu agar aku tak membunuh orang tanpa senjata  hahahha!!” ejek ketua perampok kepada Djoyo.

Baiklah, ini senjataku!” ucap Djoyo sambil mengeluarkan alu dan lumpang pusakanya.

Haghaghagag…” Ketua perampok tertawa semakin keras.

Disaat lengah itulah, Djoyo melempar alu kearah ketua perampok.Alu yang masih menempel di lumpang itu dilemparnya dengan cara yang sangat menakjubkan, kemudian  tegak lurus sangat cepat dan tepat mengenai kepala ketua perampok, dan….

Duaaarr!

Bunyi beradunya kepala dan alu itu persis seperti petir yang menggelegar dan menimbulkan kilatan cahaya. Seketika, ketua perampok itupun tewas.

Kawanan perampok itu memang naas. Selain pimpinannya, sebagian besar kawanan perampok itupun tewas pula. Hanya tersisa  satu orang yang kemudian melarikan diri.

“Biarlah dia melarikan diri, agar bercerita kepada temannya, agar jangan lagi ke desa kita ini” cegah Djoyo ketika beberapa anak buahnya ingin mengejaranggota komplotan perampok yang melarikan diri. “Sekarang segera kita kuburkan sajam ayat-mayat ini” lanjut Djoyo, memerintahkan anggotanya. Usai menguburkan mayat-mayat tersebut, merekapun melapor ke Kebo Pelet tentang apa yang telah terjadi.

Lokasi dimana gumuk perampok tersebut tewas, kemudian dikenal dengan nama Gumuk (bukit) Sigombel. Djoyo kemudian digelari Ki Potro Joyo Sabuk Alu oleh warganya. Potro sendiri berarti Sinar, sementara Sabuk Alu berarti bersenjatakan alu.

Dilain hari, ada dua kelompok warga yang berselisih paham mengenai batas aliran air. Bahkan sampai berujung perkelahian. Kebo Pelet pun bertindak.

“Mulai hari ini kubuatkan batas aliran air, agar kalian tak saling rebutan lagi” ucap Kebo Pelet. Dengan tongkat kayu jatinya, Kebo Pelet kemudian membuat garis perbatasan dari hulu ke hilir. “Tongkatku ini akan kutancapkan di lokasi ini sebagai penanda bagi kalian agar tak lagi congkrah (berselisih),” titah Kebo Pelet.

Saat perjalanan pulang, karena tak membawa lagi teken jati (tongkat) kesayangannya, Ki Kebo Pelet kemudian mengambil bambu yang digunakan sebagai tongkat. Saat berjalan kaki menuju kediamannya, beliau  melihat gumuk yang gundul dan gersang. Bambu tadi kemudian ditancapkan. Tak  lama kemudian daerah gundul dan gersang itupun menjadi rimbun oleh bambu. Saat ini daerah tersebut dikenal dengan nama Pring Kawak. Konon bambu yang tumbuh disitu dipercaya berkhasiat. Selain itu bambu Pring Kawak juga banyak dipakai tradisi memanggang dan membuat sate kambing.

Lokasi dimana menjadi awal bubak alas dikenal dengan nama Kawiwitan, yang kemudian menjadi Dusun Sawit. Dusun ini kemudian menjadi pusat kegiatan warga, lambat laun dikenal dengan nama Krajan, sampai sekarang.

Setelah meninggal, Ki Kebo Pelet dan Djoyo, sesuai permintaan keduanya, merekapun dimakamkan di Dusun Krajan. Keberadaan makam itu menjadi bukti sejarah legenda Desa Kenteng. Teken Jati yang saat ini berada di pematang sawah warga hingga sekarangpun masih terlihat jelas. Mata Air di Dusun Sukorejo yang jernih dan tak pernah kering juga masih nyata.

Desa Kenteng sendiri konon berasal dari ucapan pepesti Ki Kebo Pelet “Teken kudu eneng”, yang berubah pelafalannya menjadi Kenteng. Versi lain nama Desa Kenteng berasal dari adanya peninggalan sejarah watu Yoni, yang saat ini berada di punden Ki Potro Djoyo Sabuk Alu, juga 8 Watu Lumpang yang ada di Desa Kenteng.

Pemerintah Desa Kenteng juga berusaha untuk mengumpulkan bukti-bukti sejarah. Saat tulisan ini dibuat, Pemerintah Desa Kenteng sedang merintis Museum Desa Kenteng, dimana nanti akan ditampilkan sejarah Kenteng secara lengkap, agar generasi peneruspaham tentang sejarah desanya. Keberadaan museum ini juga diharapkan akan mampu menjadi daya tarik wisata sejarah dan budaya, serta media belajar bagi para pengunjung. Embrio museum ini bisa dilihat di ruang pameran wisata sejarah Desa Kenteng yang berada di salah satu ruang di Balai Desa Kenteng.

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *