ASAL MUASAL TERJADINYA RAWA PENING #29

ASAL MUASAL TERJADINYA RAWA PENING

Oleh: Wahyu Kusuma Dewi

 

Alkisah, dahulu kala terdapat sebuah desa yang Gemah Ripah Loh Jinawi  di tanah kekuasaan Kerajaan Mataram, yang bernama Desa Ngasem. Desa ini dipimpin oleh seorang kepala desa yang arif dan bijaksana yang bernama Ki Sela Gondang. Desa Ngasem terletak di kaki Gunung Telomoyo.  

Pada suatu hari, diperlukan sarana tolak bala berupa pusaka sakti sebagai salah satu syarat agar penyelenggaraan acara merti  desa bisa berjalan lancar tanpa ada halangan apapun. Kepala Desa meminta  putrinya, Endang Sawitri, untuk meminjam pusaka sakti milik sahabatnya, seorang resi bernama Ki Hajar Salokantara.

Singkat cerita, Endang Sawitri berhasil menemui Ki Hajar Salokantara di Padepokannya. Dia berhasil meminjam sebuah  pusaka sakti yang berwujud Keris. Namun sebelum meninggalkan padepokan tersebut Ki Hajar Salokantara memberi sebuah pesan penting, “ Hati-hatilah saat membawa pusaka ini. Ingatlah satu hal, jangan pernah meletakkan pusaka sakti ini di atas pangkuanmu,” kata sang Resi seraya menyerahkan pusaka sakti kepada Endang Sawitri. “Baiklah, Ki…. Amanat Ki Hajar Salokantara akan saya laksanakan dengan baik,” jawab Endang Sawitri sambil menerima pusaka sakti itu.

 Endang Sawitri bergegas meninggalkan padepokan tersebut untuk segera menyerahkan Keris itu kepada ayahandanya. Namun di tengah perjalanan, Endang Sawitri merasa kelelahan dan mengantuk. Dia berhenti dan mencari tempat sejuk untuk beristirahat. Tatkala dia terlelap dalam istirahatnya, dia lupa akan pesan Ki Hajar Salokantara, dia meletakkan keris tersebut di atas pangkuannya. Seketika keris tersebut raib tak terlihat lagi wujudnya.

Endang Sawitri sangat panik, dan segera menemui ayahandanya untuk meminta maaf atas kelalaiannya tersebut.  Setelah berhasil menenangkan putinya dan  menguasai keadaan desa yang dipimpinnya, Ki Sela Gondang segera menemui sahabatnya Ki Hajar Salokantara untuk menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan yang telah dibuat oleh putrinya. Alangkah terkejutnya Ki Sela Gondang ketika mendapat penjelasan dari sahabatnya itu bahwa keris tersebut tidak hilang melainkan masuk ke dalam rahim sang putri. Maka tak lama kemudian Endang Sawitri akan mengandung. Untuk  itu Ki Sela Gondang memohon agar Ki Hajar Salokantara mau menikahi sang putri untuk menutup aib keluarganya.

Dengan berat hati, maka Ki Hajar Salokantara pun menerima Endang Sawitri sebagai istrinya. Namun setelah mereka menikah, Ki Hajar Salokantara memutuskan untuk meninggalkan istrinya, dan berpesan kepada Endang Sawitri, “Ni Ayu Endang Sawitri, aku menikahimu hanya sebagai syarat saja, aku tidak akan menyentuhmu. Aku akan  pergi bertapa untuk  berdoa kepada Tuhan agar kamu terlepas dari kutukan keris milikku itu. Jagalah dirimu dan kandunganmu dengan baik. Apabila kelak kau melahirkan, kalungkanlah klinthingan ini sebagai bukti bahwa anak itu adalah anakmu. Suruhlah ia mencariku untuk melepaskan kutukannya.”  Endang Sawitri menjawab, “Iya, Ki. Semoga Tuhan  melindungi kita semua. Saya akan menjaga janin dalam kandungan ini.”

Hari telah berganti minggu, minggu berganti bulan, maka genap sembilan bulan Endang Sawitri pun melahirkan. Namun alangkah terkejutnya dia, ketika mengetahui bahwa yang keluar dari rahimnya bukanlah seorang bayi, melainkan seekor ular. Dan anehnya ular itu pun bisa berbicara layaknya manusia. Lalu dinamailah ular itu dengan sebutan Baru Klinting.

Waktu terus berjalan, Baru Klinting yang sudah menginjak masa remaja bertanya kepada ibunya, apakah ia mempunyai ayah. “ Bu, tolong beritahu aku sebenarnya siapa ayahku?” Tanya Baru Klinting. “Baiklah, sudah waktunyanya kamu tahu nak, ayahmu adalah Ki Hajar Salokantara yang sedang bertapa di Gunung Telomoyo” Jawab Endang Sawitri.

Dalam hitungan hari, Baru Klinting pergi ke gunung Telomoyo untuk menemui ayahnya, sesaat sebelum pergi Baru Klinting diberi klintingan oleh ibunya sebagaimana telah diamanatkan oleh Ki Hajar Selokantara. Setelah menempuh perjalanan yang jauh, akhirnya Baru Klinting bertemu dengan Ki Hajar Selokantara yang sedang bertapa. Lalu Baru Klinting pun segera menjelaskan maksud dan tujuannya menemui sang ayah tersebut. “Ayahanda, saya ke sini untuk mencari ayah, saya adalah anak Endang Sawitri dari Desa Ngasem. Klintingan ini diberikan oleh ibu sebagai bukti bahwa saya adalah anak ayah” Kata Baru Klinting dengan mantap sambil menunjukkan klintingan dari ibunya. “Hm… baiklah, klintingan ini memang benar dariku, tapi aku masih butuh satu bukti lagi. Kamu harus bisa melingkari Gunung Telomoyo ini” Ucap Ki Hajar Salokantara.

Baru Klinting beranjak pergi dari gua tempat ayahnya bertapa, dan dia pun berusaha untuk melingkari gunung Telomoyo dengan tubuhnya. Setelah berupaya dengan sekuat tenaga, akhirnya dia berhasil melingkari Gunung Telomoyo dengan menjulurkan lidahnya untuk menyambung antara ekor dan kepalanya. Maka sesudah  itu,  Ki Hajar mau mengakui  bahwa Baru Klinting adalah anaknya.  Selanjutnya Ki Hajar Salokantara menyuruh Baru Klinting untuk bertapa kembali di gunung Telomoyo agar dia terlepas dari kutukan pusaka sakti tersebut.  

Di sisi lereng Gunung Telomoyo yang lain, terdapat sebuah desa yang bernama Desa Pathok. Suatu hari, penduduk Desa Pathok, akan mengadakan merti desa yang berupa pesta rakyat sebagai rasa syukur terhadap tuhan  atas anugerah  hasil panen mereka yang melimpah ruah.  Maka penduduk  desa berbondong- bondong pergi ke hutan untuk mencari binatang buruan sebagai hidangan lezat saat pesta. Suatu ketika, salah satu  penduduk menancapkan sebilah golok dilereng gunung Telomoyo dan terkejut saat mencabutnya karena ada darah segar mengalir. Lalu beberapa orang mengikuti menancapkan golok sehingga mereka akhirnya mengetahui bahwa benda tersebut adalah seekor ular naga yang besar. Dan tak lama kemudian ular tersebut dibunuh dan dijadikan hidangan saat pesta.

Semua penduduk desa bersuka cita merayakan pesta tersebut kecuali nenek tua yang hidup sebatang kara di tepi hutan, yang bernama Nyi Latung.  Dalam acara pesta tersebut muncullah seorang anak  laki – laki yang tak lain adalah jelmaan dari ular yang dibunuh oleh penduduk di desa tersebut. Anak bertubuh kecil itu kira-kira berusia 10 tahun. Dia  datang ke Desa Pathok dengan luka kudis di sekujur tubuhnya, baju kotor, bau amis, dan kumal. Anak tersebut menghiba untuk minta makanan dan minuman kepada penduduk sekitar, namun tidak ada satupun penduduk yang mau memberinya. Mereka justru mencaci maki, menghardik, mengusir dan memperlakukannya seperti binatang.

Dengan rasa sakit hati yang teramat sangat, Baru Klinthing keluar dari pesta itu sampai akhirnya tiba di tepi hutan tempat Nyi Latung berada. Hari itu, Baru Klinting dirawat dan diberi makanan dan minuman oleh janda sebatang kara tersebut. Kemudian Nyi Latung membujuk agar Baru Klinting mau tinggal bersamanya. Namun Baru Klinting menolak, “Aku tidak mau karena penduduk disini jahat, ingatlah Nek,  jika nanti Nenek dengar suara kentongan dan gemuruh air bah,  Nenek segera naik ke lesung ini, terima kasih Nenek sangat baik kepadaku,” Jawab Baru Klinting sambil beranjak pergi.  

Dengan  hati pilu Baru Klinting pergi meninggalkan Nyi Latung. Dia kembali masuk ke Desa  Pathok dan kembali  mendatangi pesta warga.

“Hei, beraninya kamu datang lagi kesini? Dasar Bau! Pergi sana!” Ucap salah satu penduduk dengan nada tinggi. “ Aku kembali kesini untuk menantang kalian,” sahut Baru Klinting dengan marah. “ Apa menantang kami? Sana pergi saja dasar dekil…!” jawab salah satu penduduk gusar.

“Baiklah aku akan pergi asalkan kalian bisa mencabut lidi yang aku tancapkan in,i” Ucapnya sambil menancapkan lidi yang ia pegang.

Penduduk desa itu kembali menghina Baru Klinting, bahkan mereka mengatakan Baru Klinting anak yang tidak waras karena menantang untuk mencabut lidi. Tapi setelah satu persatu penduduk mencoba dan tidak ada yang berhasil, kemudian mereka mengumpul dan mencoba mencabut bersama-sama, namun tetap saja mereka gagal mencabut lidi tersebut.

 Maka setelah semua orang menyerah, Baru Klinting mencabut lidi tersebut dengan mudahnya. Dan seketika itu, dari bekas cabutan lidi tersebut, tersemburlah air yang sangat deras dan menjadi air bah yang merupakan bencana bagi Desa Pathok. Sontak peristiwa itu membuat penduduk desa panik. Beberapa orang memukul kentongan sebagai tanda bahaya. Air bah mulai menggenangi Desa Pathok. Semuapenduduk berlarian menyelamatkan diri. Di tempat lain Nyai Latung mendengar bunyi kentongan dari kejauhan. Ia teringat pesan Baru Klinting untuk segera naik ke atas lesung. Nyai Latung menyaksikan air bah itu terus datang dan semakin tinggi  dan dalam sekejap menggenangi Desa Pathok. Nyai Latung merasa bersyukur dia bisa selamat dari bencana  tetapi dia juga merasa sedih karena tanah kelahirannya terendam air bah dan menjadi rawa.  

Daerah  tersebut, oleh warga sekitar disebut dengan Rawa Pening, yang besarnya sekitar 2670 hektar. Lokasi Rawa Pening berada di wilayah antara Kecamatan Ambarawa, Kecamatan Bawen,Kecamatan Tuntang, dan Kecamatan Banyubiru, di Kabupaten Semarang. Rawa nan indah tersebut terletak di daerah cekungan terendah lereng Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo, dan Gunung Ungaran

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.