Legenda Candi Gedong Songo #27

Legenda Candi Gedong Songo

Oleh: Exi Gayaputri

 

“Disini, pengkhianat sepertimu tidak akan di terima. Tugasmu sudah jelas, sebagai jenderal yang dipercaya, seharusnya kau mampu menjaga Pusaka Jongko Donya dengan baik. Bukan malah membantu musuh untuk mendapatkannya,” ucap seorang pria berambut putih panjang, kedua tangannya mengepal di lengan singgahsana.

Tepat dihadapannya, berlututlah seorang pria dengan baju putih lusuh. Perlahan, pria itu mendongak, menatap tuannya yang marah besar. Wajahnya yang pucat pasi sarat akan kekhawatiran dan ketakutan yang nyata.

“Mohon maaf paduka,” bisiknya lirih. “Saya mengakui apa yang saya perbuat amatlah fatal,” sambungnya.

“Permintaan maaf tidaklah cukup. Pusaka itu kini telah berpindah tempat. Keseimbangan alam telah terganggu akibat ulahmu. Ribuan nyawa telah melayang,” pria berambut panjang itu berhenti sejenak.

Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya, “Aku, raja Kerajaan Awang Bawana, menitahkanmu untuk angkat kaki dari kerajaan ini. Karma dari perbuatanmu akan senantiasa membayangimu. Kutukan dari ribuan mulut yang sengsara akan membawamu menuju takdir akhirmu.”

Temon Samudro, jenderal kepercayaan kerajaan yang kini hanya bisa bersimpuh di depan rajanya, menahan napas terkejut. Mulutnya tak lagi bisa berkata-kata.

“Kau akan menanti hadirnya Titisan Naga Langlang, satu-satunya makhluk yang dapat mengembalikan Pusaka Jongko Donya kembali ke tempat asalnya,” sang raja berkata tegas.

Temon menatap rajanya tak percaya. Titisan Naga Langlang? Yang benar saja. Naga keramat itu terakhir kali menitis ribuan tahun lalu, entah kapan dan kepada siapa Naga Langlang akan menitis lagi. Temon bisa saja menunggu ribuan tahun untuk itu.

Namun, tiba-tiba, sebuah pertanyaan melintas di benak Temon. Apa yang akan terjadi setelah ia berhasil bertemu dengan Titisan Naga Langlang? Apakah pusaka itu akan kembali ke tempat semula dan kemudian Ia boleh hidup bahagia setelah itu?

Seperti mengetahui apa yang ada di pikiran Temon, sang raja menghela napas panjang. “Aku tidak tahu, Temon. Hanya Titisan Naga Langlang yang pantas menentukan nasibmu setelah itu.”

            Ufuk timur mulai berwarna kemerahan. Matahari perlahan keluar dari peraduannya, menghangatkan sebuah desa yang menggeliat memulai aktifitas. Seorang lelaki tua keluar dari sebuah gubuk. Dia menarik napas dalam-dalam, menghirup segarnya udara pagi.

            “Pagi, Mpu Samudro,” sapa seorang pemuda yang melewati gubuknya. Ya, lelaki tua ini ialah Temon Samudro.

Sudah dua puluh lima tahun semenjak Ia angkat kaki dari Kerajaan Awang Bawana. Selama itu pula Temon telah melanglang buana mencari Titisan Naga Langlang. Namun, Ia tak kunjung menemukannya. Maka, pada akhirnya, Temon memutuskan untuk menetap di suatu tempat, menantikan wahyu dari Naga Langlang.

Temon mengangguk ramah kepada pemuda itu. Mpu Samudro, begitulah panggilan baginya di desa ini. Tak seorang pun mengetahui jati diri Temon sebenarnya. Saat pertama kali datang di desa ini, Temon memperkenalkan dirinya sebagai seorang pembuat keris dari negeri seberang, bukan mantan jenderal yang telah berkhianat.

Tiba-tiba, telinga Temon menangkap suara ribut dari dalam gubuknya. Dia menghela napas sembari mengusap dadanya, berusaha untuk bersabar. Keributan itu pastilah berasal dari dua putra kembarnya yang tak pernah akur.

Temon berbalik memasuki gubuknya. Delapan belas tahun lalu, Temon dan istrinya dikarunia dua putra kembar. Dia menamai mereka Banyu dan Agni.

“Diamlah, Agni! Sebentar lagi kita berpisah jadi tutup mulutmu sebentar saja,” seru Banyu kepada adiknya. Wajahnya memerah, kedua tangannya mengepal, siap berkelahi. Di hadapannya Agni juga sudah memasang kuda-kuda. Ia balas berteriak kepada kakaknya, “Hah! Kau pikir siapa yang memulai keributan ini? Jika saja kau tidak menumpahkan sarapanku, aku tidak akan sudi membuang tenagaku sia-sia seperti ini!”

Temon buru-buru mendekati mereka. Tangan kirinya memegang dada Agni sedangkan yang kiri memegang dada Banyu.

“Berhenti,” ucapnya tenang. Seketika itu juga Agni dan Banyu memisahkan diri. Sosok di depan mereka inilah yang selama dua puluh tahun ini berhasil menyatukan mereka. Dua puluh tahun tanpa saling bunuh karena sosok ayah yang sangat mereka sayangi.

“Kami akan pergi, Ayah,” bisik Agni. Mendengar itu, Temon sama sekali tidak terkejut. Dia sudah tahu bahwa suatu hari kelak kedua putranya harus saling memisahkan diri agar tidak ada pertumpahan darah.

“Mungkin perjalanan ini memakan waktu yang lama, ayah,” kini giliran Banyu yang berbisik.

“Baik, jaga diri kalian,” hanya itu yang diucapkan Temon. Dia memang tidak pandai mengungkapkan perasaannya dalam kata-kata.

Temon berbalik menuju teras gubuknya, hari itu kesedihan merayapi hati Temon. Kedua putranya, sisa kebahagiaan yang dia miliki, pergi meninggalkannya.

            Tiga tahun sudah kedua putra Temon pergi. Agni pergi ke kota nun jauh di selatan, sementara Banyu pergi jauh ke utara sana.

            Semakin hari Temon kian ragu akan kedatangan titisan itu. Mungkinkah penantian ini memang tidak akan menemui kata akhir? Apakah memang ini karma yang harus ia jalani? Menanti dalam kesendirian selamanya?

            Namun, tanpa Temon duga, di suatu sore yang damai, semua pertanyaan Temon menemukan jawaban. Temon tengah bertapa di tengah hutan ketika visi itu datang. Visi yang mengabarkan akan kehadiran Titisan Naga Langlang.

            Menurut visi itu, Titisan Naga Langlang sudah berada di gubuknya. Temon buru-buru berlari menuju gubuknya. Senyum mengembang di wajahnya. Penantiannya telah usai. Perkara apa yang akan terjadi padanya setelah ini urusan belakangan.

            Sesampainya di gubuk, Temon tidak tahu lagi apakah ia harus merasa bahagia atau menangis tersedu-sedu. Pasalnya, Ia menemukan kedua putranya berada di sana. Bingung, mengapa tiada pertengkaran diantara mereka.

            “Ada apa ayah?” tanya Agni dengan panik.

            Temon menggeleng, tidak mungkin kedua putranya adalah titisan dari Naga Langlang. Bukankah Naga Langlang hanya menitis di satu raga? Atau inikah alasannya mengapa mereka tidak lagi bertengkar saat ini?

            “Kami mendapat visi, Ayah,” Banyu angkat suara. Wajahnya penuh dengan kesedihan.

            “Apa itu?” tanya Temon. Namun, dari raut sedih Banyu, Temon sudah bisa menebak visi apa yang mereka dapat.

            “Kami berdua, dalam wujud naga, membunuh Ayah,” Banyu berucap lesu. Temon hanya mengangguk. Ia memutuskan untuk menceritakan apa yang telah terjadi di masa lalunya. “Siapa namaku?” tanyanya sebagai permulaan. Kedua putranya mengernyit heran, “Mpu Samudro,” jawab mereka serempak. Temon hanya tersenyum tipis mendengar jawaban kedua putranya. Bahkan anaknya sendiri tidak mengetahui jati dirinya yang sebenarnya.

            “Aku adalah Jenderal Temon Samudro, orang yang telah memindahkan Pusaka Jongko Donya dari tempat asalnya,” seakan merespon apa yang diucapkan Temon, suara guntur menggelegar di langit.

            Temon kemudian berlutut di hadapan kedua putranya seraya berucap, “Aku telah menanti kehadiranmu, wahai Titisan Naga Langlang.”

            “Ayah, berdiri! Kita masih punya waktu untuk menyelamatkan nyawa Ayah! Aku dan Banyu akan membangun tempat perlindungan bagi Ayah,” Agni memberikan solusi. Temon hanya menggeleng. Inilah takdirnya, ia tak boleh mengingkarinya.

            “Dengan kesaktian yang telah kami peroleh, kami yakin kami bisa melindungi Ayah. Hanya Ayah yang kami punya, Ayah harus selamat.” Maka, sebelum Agni dan Banyu berubah menjadi Naga Langlang, mereka berlari ke tengah hutan berpacu dengan waktu. Mereka bertekad untuk membangun candi sebagai benteng pertahanan bagi ayah yang mereka cintai.

            Namun, Temon tidak yakin dengan ikhtiar kedua putranya. Karma ini adalah bagian dari penebusan dosanya dan jika memang Ia harus mati, hal itu tidak mungkin dapat diganggu gugat.

            Lalu ia berjalan menuju tempat dimana kedua putranya membangun candi dan meminta pada roh Naga Langlang agar bersedia menghentikan kedua putranya  supaya dirinya tuntas menggenapi karma yang ia jalani. Agar jiwanya puas dan termaafkan setelah menyiksa ribuan manusia di masa lampau.

            Karena ketulusan hati Temon, akhirnya roh Naga Langlang mengabulkan permintaannya. Tiba-tiba angin berhenti bertiup, Guntur yang tadinya menggelegar seketika berhenti. Agni dan Banyu menghentikan pekerjaan mereka sambil menatap bingung ke hutan di sekitar mereka.

            Kemudian, peristiwa itu terjadi. Tubuh Agni dan Banyu seakan berbaur menjadi gumpalan asap dan berpilin menjadi satu. Mereka tergabung menjadi berubah wujud menjadi satu raga, yaitu Naga Langlang.

            Temon hanya pasrah sambil berbisik, “Selamat tinggal, putra-putraku.” Ia kemudian maju mendekati Naga Langlang dan berlutut. Sang naga menatapnya kemudian melibaskan ekornya, menyapu tubuh Temon. Di kepalanya sebuah pusaka berbentuk keris muncul. itulah Pusaka Jongko Donya, sang penjaga keseimbangan alam.

            Setelah itu, cahaya putih nan menyilaukan keluar dari tubuh Naga Langlang. Wujud sang naga perlahan berubah menjadi dua orang laki-laki yang tak lain adalah Agni dan Banyu.

            Kemudian sadarlah mereka bahwa mereka telah membunuh ayah yang mereka sayangi. Sambil menangis tersedu-sedu, mereka mengangkat jasad ayah mereka dan meletakkannya di sebuah bangunan candi. Mereka juga menyimpan Pusaka Jongko Donya di salah satu candi. Kemudian, masing-masing dari mereka memasuki bangunan candi. Dengan kesaktian luar biasa yang mereka miliki, Agni dan Banyu menyembunyikan keempat candi tersebut jauh di kedalaman perut bumi.

            Seiring berjalannya waktu, lima candi yang tersisa itu dinamai Candi Gedong Songo meskipun jumlahnya hanya lima. Karena masyarakat setempat meyakini bahwa pada hari-hari tertentu, keempat candi yang disembunyikan oleh Agni dan Banyu muncul ke permukaan bersamaan dengan kemunculan Naga Langlang.

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *