Gending Asmoro #26

Gending Asmoro

Oleh : Hardianing

 

            Suatu hari, ada seorang pemilik kelompok pentas wayang bernama Mbah Karyo. Ia dan anak buahnya selalu sukses saat menghibur para tamu hajatan di berbagai desa, sehingga membuatnya besar kepala. Kali ini, Mbah Karyo didatangi seorang kepala desa yang memintanya untuk memeriahkan acara hajatan di desanya.

            “Baiklah, Pak. Saya akan datang. Saya jamin Bapak tidak akan kecewa sudah membayar kami dengan mahal,” ujar Mbah Karyo.

            Tibalah saat di mana acara hajatan itu dimulai. Kepala Desa sudah tersenyum lebar sejak tadi. Tentunya ia benar-benar berharap semua warganya menonton acara itu dengan sukacita. Apalagi, kelompok pentas wayang pimpinan Mbah Karyo ini terkenal sekali hingga ke seluruh desa.

            Beberapa jam kemudian, belum ada satu pun warga yang melihat pertunjukkan wayang mereka. Kepala desa mulai khawatir.

            “Jangan-jangan, mereka tidak akan datang,” katanya dengan cemas.

            Mbah Karyo menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin mereka tidak akan datang! Selama bertahun-tahun, hajatan yang saya meriahkan pasti selalu sukses. Kelompok pentas wayang saya ini begitu terkenal dan yang paling terbaik. Tunggu saja, saya yakin sebentar lagi mereka akan berbondong-bondong datang kemari hingga lapangan ini sesak!”

            Jawaban Mbah Karyo tersebut sedikit membuat Kepala Desa merasa lega. Mereka lalu menunggu hingga malam semakin larut.

            Tapi yang terjadi justru di luar harapan. Sampai menjelang pagi hari, tidak ada satupun orang yang datang. Kepala Desa lantas kecewa pada Mbah Karyo.

            “Saya rugi besar karena Anda!” serunya. “Anda bilang, kelompok pentas wayang Anda adalah yang paling terbaik. Tidak mungkin tidak ramai. Tapi, apa buktinya? Kemana mereka?”

            “Justru ini karena Anda tidak memberitahukan mereka kalau kelompok saya akan ikut acara hajatan ini! Wajar saja kalau mereka tidak datang!” balas Mbah Karyo dengan sengit. Maka dengan penuh emosi, Mbah Karyo pun mengembalikan uang Kepala Desa dan pulang dengan tangan hampa.

            Tapi ternyata, kesialan itu tidak hanya terjadi sekali. Berkali-kali acara hajatan yang dihadiri kelompok Mbah Karyo gagal. Tidak ada satupun yang datang, bahkan di siang hari yang cerah sekalipun.

“Kita tidak bisa seperti ini terus, Mbah,” ucap pemain gendang. “Kalau keadaan ini terus berlanjut, kita akan makan apa?”

            “Ya, benar itu!” ujar pemain gong. “Kita bahkan punya utang yang banyak sekali. Kalau tidak segera mendapatkan uang, mereka akan menuntut kita!”

            “Tidak mungkin! Sudah kukatakan sejak awal, kita ini kelompok pentas wayang yang paling terbaik. Tidak ada kelompok lainnya yang bisa menyaingi kehebatan kita!” balas Mbah Karyo dengan congkaknya.

            “Saya lihat, kelompok pentas wayang yang lain itu sudah jauh di atas kita. Mereka selalu punya hal-hal yang baru yang tidak akan membuat penontonnya merasa bosan,” kata pemain gambang. “Kalau kita masih seperti ini terus tanpa menampilkan pertunjukan yang baru, kita akan bangkrut,”

            “Omong kosong!” Mbah Karyo masih tetap membantah. “Kalau kubilang tidak mungkin, sudah pasti benar-benar tidak mungkin! Silakan kalian takut dengan pemikiran buruk kalian itu. Aku tetap tidak percaya!” 

            Ketakutan para anak buah Mbah Karyo pun terjadi. Sudah sebulan lebih tidak ada satupun orang yang ingin mengundang mereka untuk memeriahkan acara hajatan lagi. Beberapa pemain gamelan yang tidak betah pun memilih keluar. Terlebih, mereka semakin jengkel dengan kesombongan Mbah Karyo yang tiada habis.

            Pada akhirnya, Mbah Karyo tinggal seorang diri. Kelompoknya bubar. Gamelannya juga sudah ia jual demi bisa melunasi semua utangnya. Mbah Karyo pun jatuh miskin.

            Mbah Karyo merasa sedih. Tidak ada seorang pun yang mau membantunya.

***

            Di dalam kamarnya yang kecil, Mbah Karyo termenung. Ia berpikir bagaimana cara supaya bisa keluar dari kemiskinan ini. Tapi semakin dipikir, semakin sulit saja jadinya. Mbah Karyo yang putus asa lalu tertidur karena sudah terlalu lelah.

            Mbah Karyo lalu bermimpi. Di mimpinya itu, ia diberi petunjuk tentang keberadaan seperangkat gamelan di suatu air terjun di dalam hutan bambu yang lebat. Suaranya sangat merdu sekali. Tapi untuk mendapatkannya, ia harus bersemadi selama sebulan. Mendapati mimpi seperti itu membuat Mbah Karyo terbangun dengan perasaan gembira. Pagi itu, ia kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan bersiap-siap pergi ke air terjun itu.

            Dan benar saja, hutan bambu itu lebat seperti di dalam mimpinya. Setelah berhasil melewati hutan bambu itu dengan susah payah, akhirnya Mbah Karyo menemukan air terjun tersebut. Air terjun itu benar-benar indah, airnya begitu jernih seperti kaca. Sesuai petunjuk dari mimpinya, Mbah Karyo lalu bertapa di sebuah batu besar di dekat air terjun tersebut selama sebulan.

            Setelah sebulan Mbah Karyo bertapa, akhirnya Mbah Karyo menemukan seperangkat gamelan di bawah air terjun. Karena penasaran, Mbah Karyo   pun memainkan beberapa alat musik gamelan itu dan suara yang dihasilkannya benar-benar merdu. Tapi kemudian ia mengurungkan niat untuk mengambil seperangkat gamelan itu. Pastilah berat kalau ia membawa semuanya sendirian. Dan akhirnya, Mbah Karyo  pulang dengan perasaan kecewa.

            Tapi tak disangka, setibanya Mbah Karyo di rumah, seperangkat gamelan itu sudah ada di kamarnya. Dengan perasaan bahagia, Mbah Karyo mengajak para anak buahnya dulu untuk bergabung lagi.

            “Aku tidak memaksa,” ujar Mbah Karyo saat banyak di antara mereka yang tidak mau ikut. “Tentu saja kalian tidak menyukai sikap sombongku, tapi aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku sudah belajar bahwa kesombongan akan menghancurkan segalanya. Jadi untuk terakhir kalinya, apakah kalian ingin kembali bergabung?”

            Mereka kemudian setuju untuk kembali bergabung. Tak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk kembali mementaskan wayang di setiap hajatan seperti dulu lagi. Tapi bedanya, sekarang Mbah Karyo jauh lebih rendah hati dan mau mendengarkan pendapat orang lain. Dan karenanya, pentas serta lagu-lagunya selalu dicintai semua orang.

            Sebagai ucapan terima kasihnya, Mbah Karyo lantas menamakan air terjun itu ‘Curug Gending Asmoro’ karena suara gamelannya yang merdu dapat membuat semua orang jatuh hati. Air terjun itu berada di Desa Kalongan. Bahkan hingga kini, banyak warga sekitar yang mendengar suara gamelan yang merdu dari air terjun tersebut di malam-malam tertentu. Barangkali, itu berasal dari seperangkat gamelan ajaib yang ingin dimainkan kembali.

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *