Legenda Rawa Pening #25

Suatu Legenda, Rawa Pening

Oleh : Eva Yunita Sari

Pada suatu hari di Desa Aran, ada seorang gadis cantik bernama Dewi Ariwulan. Tidak jauh dari tempat tinggalnya, ada padepokan di Desa Ngasem yang dipimpin oleh Ki Hajar Salokantoro. Dewi Ariwulan adalah salah seorang murid di padepokan tersebut. Suatu ketika di desa Ngasem ada yang mengadakan  hajatan. Dewi Ariwulan turut membantu dalam acara tersebut, namun dia membutuhkan pisau untuk memotong bahan-bahan masakan. Akhirnya dia memberanikan diri datang ke rumah Ki Hajar Salokantoro untuk meminjam pisau.

Sesampainya Dewi Ariwulan di rumah Ki Hajar Salokantoro, dia langsung menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya yakni untuk meminjam pisau. Ki Hajar Salokantoro kemudian megambilkan sebuah pisau, namun beliau berpesan agar pisau ini tidak diletakkan dipangkuannya. Dewi Ariwulan kemudian kembali ke acara tersebut. Dia membantu memotong bahan makanan dengan pisau yang dipinjamnya. Karena kelelahan memasak, akhirnya dia lupa dengan amanat yang disampaikan oleh Ki Hajar Salokantoro. Tidak sengaja pisau itu ditaruh di atas pangkuannya, lalu pisau itu menghilang. Dewi Ariwulan sangat terkejut dengan hilangnya pisau itu. Kemudian Dewi Ariwulan kembali menemui Ki Hajar Salokantoro dan menceritakan peristiwa yang dialaminya.  

Ki Hajar Salokantoro seketika menjadi resah. Lalu beliau bertapa dan meminta petunjuk dari Sang Maha Kuasa. Ki Hajar Salokantoro mendapatkan petunjuk bahwa pisau yang dipinjam oleh Dewi Ariwulan tidak hilang, namun  masuk ke dalam perutnya. Dewi Ariwulan mengandung seorang bayi, meskipun dia tidak pernah melakukan hubungan dengan seorang laki-laki. Ki Hajar Salokantoro hanya bisa berpesan bahwa ini semua adalah takdir dari Yang Maha Kuasa yang harus dijalaninya.

“Sudahlah Dewi, terima saja apa yang sudah ditakdirkan Yang Maha Kuasa untuk dirimu, aku yang akan bertanggung jawab dengan bayi yang ada di dalam kandunganmu itu”, kata Ki Hajar Salokantoro menenangkan Dewi Ariwulan.

Dewi Ariwulan pun akhirnya kembali ke kampung halamannya di Desa Aran. Di desa itu dia dihina oleh tetangganya karena hamil tanpa memiliki suami. Dewi Ariwulan memutuskan untuk pergi ke hutan yang sangat lebat. Dewi Ariwulan merasa sangat lapar, dia berniat untuk mencari buah-buahan yang ada di hutan. Pada saat itu dia bertemu dengan Kakek Ndarum. Sang kakek mendirikan sebuah gubuk di dekat sendang Rogo Jembangan dengan tujuan agar saat Dewi Ariwulan melahirkan nanti dekat dengan sumber air.

Beberapa hari kemudian Dewi Ariwulan melahirkan seorang bayi. Kelahiran bayi tersebut disertai dengan hujan badai yang sangat deras. Namun bayi yang dilahirkannya tidak berwujud manusia, melainkan seekor ular. Ular itu semakin besar dan panjang seiring dengan hujan yang semakin deras. Ular besar itu seperti naga. Ular itu bisa berbicara layaknya seorang manusia. Kemudian ular itu sujud di hadapan sang ibu. Dewi Ariwulan memberi nama ular itu Naga Baru Klinting.

“Ibu,ibu yang telah melahirkan saya, terima kasih ibu”, kata sang ular.

“Sudah menjadi kewajiban dan tugas dari seorang ibu untuk menjaga anaknya Nger”, kata sang ibu.

Naga Baru Klinting tumbuh menjadi ular yang sangat besar. Suatu hari, dia menanyakan keberadaan ayahnya. Dewi Ariwulan menjelaskan jika ayahnya saat ini sedang bertapa di Gunung Sleker. Baru Klinting meminta pamit dan memohon doa restu dari sang ibu untuk mencari ayahnya. Dewi Ariwulan memberikan dua benda pusaka yakni, genta (lonceng) dan sunting (pelengkap dari mahkota yang diselipkan di telinga) sebagai tanda bukti untuk ditunjukkan ke Ki Hajar Salokantoro.

“Ibu, izinkanlah saya mencari ayah, saya ingin tahu siapa ayah saya” pinta Baru Klinting.

“Tidak semudah itu Nger, ayahmu Ki Hajar Salokantoro sedang bertapa di Gunung Sleker. Tetapi jika kau ingin bertemu dengan ayahmu maka bawalah dua pusaka ini sebagai tanda bukti bahwa kau adalah anak Ki Hajar Salokantoro” kata Dewi Ariwulan dengan berat hati.

Kemudian Baru Klinting melakukan perjalanan untuk mencari ayahnya. Saat di perjalanan, Baru Klinting teringat dengan pesan sang ibu agar tidak melewati perkampungan. Baru Klinting adalah ular naga yang sakti. Dia masuk ke dalam bumi dan muncul di suatu tempat. Kemunculan Baru Klinting menimbulkan sumber mata air yang sangat besar. Baru Klinting terus melanjutkan perjalanannya, melewati gunung, lembah, jurang dan sungai. Perjalanan Baru Klinting mencari sang ayah sudah berjalan cukup lama, namun belum juga dipertemukan. Hingga akhirnya dia merasa putus asa. Sang ibu secara diam-diam mengikuti Baru Klinting. Melihat anaknya yang sedang sedih, sang ibu menyanyikan kidung (tembang/lagu) untuk anaknya. Samar-samar Baru Klinting mendengar suara nyanyian yang mirip dengan suara sang ibu. Baru Klinting merasa ada dorongan semangat yang kuat lewat nyanyian kidung yang terdengar dari kejauhan. Baru Klinting pun melanjutkan perjalanannya.

Hingga suatu hari Baru Klinting sampai di sebuah gunung yang dikiranya adalah Gunung Sleker. Di sana dia bertemu dengan Eyang Esmoyo. Eyang Esmoyo tinggal di gunung itu dan setiap hari hanya memakan ketela dari pohon ketela yang ditanamnya. Kemudian Baru Klinting  bertanya kepada sang kakek.

“Kek, apakah benar ini Gunung Sleker?” tanya Baru Klinting.

“Bukan Nger, ini Gunung Telomoyo. Gunung Sleker ada di sebelah sana” kata Eyang Esmoyo sambil menunjuk ke arah tempat yang dimaksud.

Eyang Esmoyo menjelaskan bahwa ini adalah Gunung Telomoyo, yang asalnya dari kata telo (ketela) dan moyo (diambil dari nama Eyang Esmoyo). Kemudian Eyang Esmoyo memberikan petunjuk tempat yang ingin dituju oleh Baru Klinting. Tidak lama setelah itu, sampailah Baru Klinting di Gunung Sleker.

Di Gunung Sleker dia bertemu dengan seorang kakek yang tidak lain adalah ayahnya sendiri yakni, Ki Hajar Salokantoro.

“Kakek, apakah kakek ini Ki Hajar Salokantoro?” tanya Baru Klinting.

“Iya benar Nger, aku Ki Hajar Salokantoro, lalu kau ini siapa?” tanya Ki Hajar Salokantoro.

Seketika Baru Klinting bersujud dihadapan ayahnya. Baru Klinting menjelaskan bahwa dirinya adalah anak dari Ki Hajar Salokantoro. Namun Ki Hajar Salokantoro tidak mudah percaya begitu saja. Kemudian Baru Klinting menunjukkan genta dan sunting yang diberikan ibunya.

“Saya adalah putra dari Ki Hajar Salokantoro” kata Baru Klinting.

“Kau adalah putraku? Apa buktinya jika benar kau ini adalah putraku” pinta Ki Hajar Salokantoro kepada Baru Klinting.

“Ibu saya memberikan pusaka genta dan sunting ini sebagai tanda bukti bahwa saya adalah putra Ki Hajar Salokantoro” jawab Baru Klinting.

Ki Hajar Salokantoro tetap tidak percaya dengan Baru Klinting. Akhirnya Baru Klinting bercerita tentang siapa nama ibunya dan dari mana asalnya. Namun Ki Hajar Salokantoro masih tetap tidak percaya dengan Baru Klinting. Akhirnya Ki Hajar Salokantoro meminta Baru Klinting untuk melingkari Gunung Sleker.

“Baiklah Nger, jika memang kau ini putraku, pasti kau bisa melingkari Gunung Sleker itu” kata Ki Hajar Salokantoro.

“Baiklah ayah, saya akan melingkari Gunung Sleker itu dengan tubuh saya” kata Baru Klinting bersemangat.

Tidak membutuhkan waktu yang lama, dengan kekuatan yang dimilikinya akhirnya Baru Klinting sampai di Gunung Sleker. Dia mencoba untuk melingkari gunung itu, namun badannya tidak cukup panjang untuk bisa melingkar sempurna di gunung itu. Hanya kurang beberapa jengkal dia bisa melingkari gunung itu dengan sempurna. Lalu dia menjulurkan lidahnya untuk bisa melingkari gunung itu. Ki Hajar Salokantoro menganggap Baru Klinting bertingkah tidak sopan karena menjulurkan lidahnya dihadapan orang tua. Kemudian Ki Hajar Salokantoro mengeluarkan pusaka untuk memotong lidah Baru Klinting. Lidah yang dipotong itu kemudian terbang ke angkasa dan berubah menjadi pusaka Baru Klinting yang sangat sakti. Baru Klinting merasa kesakitan, kemudian Ki Hajar Salokantoro mencoba untuk mengobatinya. Setelah itu Ki Hajar Salokantoro memerintahkan Baru Klinting untuk bertapa di suatu tempat.

“Baiklah Nger, sudah cukup semua pembuktianmu itu. Sekarang bertapalah kau di Pertapaan Sleker maka aku akan mengakuimu sebagai anakku” kata ayahnya.

“Baiklah ayah” jawab Baru Klinting.

Beberapa tahun kemudian Baru Klinting berhasil menyelesaikan pertapaannya. Dia telah diakui sebagai anak dari Ki Hajar Salokantoro dan diberi nama Jaka Bandung. Tidak jauh dari tempat bertapanya, ada sebuah kademangan yang cukup besar, namanya Kademangan Puserwening. Pada saat itu di Kademangan Puserwening sedang mengadakan kegiatan sedekah bumi. Sang Demang memerintahkan para pemuda untuk mencari hewan buruan di hutan. Namun mereka tidak mendapatkan hewan buruan apapun  setelah berburu selama tiga hari tiga malam. Pada saat itu banyak orang yang menginang (memakan buah pinang), salah seorang warga tidak sengaja menemukan kayu yang sangat besar dan berniat menjadikan kayu itu sebagai landasan untuk memotong buah pinang. Tidak disangka kayu itu mengeluarkan darah yang sangat banyak. Ternyata kayu itu merupakan bagian dari tubuh Baru Klinting yang sedang bertapa. Orang tersebut kemudian berteriak dan meminta tolong kepada pemuda desa yang lain. Akhirnya para pemuda itu memotong badan Baru Klinting untuk dijadikan hidangan pesta.

Sukma Baru Klinting keluar dari tubuhnya dan menjelma menjadi seorang anak remaja. Baru Klinting merasa sangat lapar karena selama bertapa tidak makan dan minum. Baru Klinting pun akhirnya mengikuti para pemuda yang membawa dagingnya. Daging itu kemudian dimasak dan dijadikan sebagai makanan dalam pesta sedekah bumi yang diadakan di Pademangan Puserwening. Baru Klinting berjalan dari rumah yang satu ke rumah yang lain untuk meminta sesuap nasi beserta lauknya. Tetapi tidak seorang pun yang memberinya makanan. Hanya cacian dan hinaan yang diterimanya. Akhirnya dia bertemu dengan seorang nenek di ujung desa. Sang nenek sedang memasak nasi di gubuk kecilnya. Baru Klinting meminta makanan kepada nenek itu. Sang nenek dengan senang hati memberikan makanan kepada Baru Klinting meski hanya dengan sayuran. Nenek dan Baru Klinting makan bersama di gubuk kecil itu.

“Permisi Nek, bolehkah saya meminta sesuap nasi? Saya sangat kelaparan Nek” pinta Baru Klinting.

“Kemarilah Nger, nenek punya sedikit nasi dan sayur. Mari kita makan bersama” kata sang nenek kepada Baru Klinting.

Setelah itu Baru Klinting berpesan kepada sang nenek jika bumi di Pademangan Puserwening ini bergetar dan ada suara petir yang sangat dahsyat, maka sang nenek diminta untuk segera naik ke lesung dan membawa serta centong miliknya. Baru Klinting mohon pamit kepada sang nenek. Namun nenek itu belum mengetahui siapa nama dari pemuda yang baru saja makan dengannya itu. Baru Klinting memperkenalkan diri. Kemudian sang nenek ingin memberinya nama. Nenek itu memberi nama Jaka Pening karena mereka bertemu di Pademangan Puserwening.

“Nek, jika nanti bumi di Pademangan Puserwening ini bergetar dan ada suara petir yang sangat keras, nenek segera naik lesung dan membawa centong ini” pinta Baru Klinting.

“Memangnya ada apa to Nger?” tanya sang nenek.

“Nanti nenek akan tahu. Ingat pesan saya ya Nek, saya mohon pamit” kata Baru Klinting sambil mencium tangan sang nenek.

“Tunggu dulu Nger, nenek belum tahu siapa namamu?” tanya sang nenek.

“Ibu saya memberi nama Naga Baru Klinting, tetapi ayah saya memberi nama Jaka Bandung” jawab Baru Klinting.

“Kalau begitu nenek juga ingin memberimu nama, karena nenek bertemu kamu di Pademangan Puserwening ini, maka kamu nenek beri nama Jaka Wening” kata sang nenek.

Beberapa saat kemudian Baru Klinting datang ke tempat pertunjukan wayang kulit di mana banyak orang yang sedang berpesta di sana. Baru Klinting mengadakan sayembara di tempat itu. Dia membawa sebuah pusaka yang didapatkan setelah menyelesaikan pertapaannya, yakni pusaka Sodo Lanang.

“Wahai semua orang yang ada di Pademangan Puserwening, terutama yang sebaya dengan saya, bagi siapa saja yang bisa mencabut Sodo Lanang yang saya tancapkan di bumi pertiwi ini, maka kalian semua termasuk orang yang sakti dan patut saya sembah sampai tujuh kali” Kata Baru Klinting dengan suara yang lantang.

“Hai anak kecil, memangnya kau ini siapa? Hanya mencabut sebuah lidi saja semua orang pasti bisa! Hahaha” kata salah seorang warga.

Baru Klinting pun akhirnya menancapkan pusaka Sodo Lanang di bumi Pademangan Puserwening. Satu per satu pemuda di pademangan itu mencoba untuk mencabut Sodo Lanang yang ditancapkan Baru Klinting. Tapi tidak ada yang mampu mencabut pusaka itu. Kemudian orang-orang dewasa dan orang tua lainnya mencoba mencabut pusaka itu, namun tetap saja tidak ada yang berhasil. Bahkan dalang dan Ki Demang Puserwening mencoba mencabut pusaka itu, namun tidak berhasil juga. Akhirnya Ki Demang memerintahkan Baru Klinting agar Sodo Lanang itu dicabut dari Pademangan Puserwening. Baru Klinting bersedia untuk mencabut pusaka itu, hanya saja dia berpesan kepada semua warga bahwa akan ada karma yang timbul akibat perbuatan yang telah dilakukan oleh warga pademangan tersebut terhadap dirinya.

“Jika saya diminta untuk mencabut pusaka Sodo Lanang ini, maka saya akan mencabutnya. Namun akan ada karma yang terjadi pada kademangan ini akibat perbuatan yang telah dilakukan oleh semua warga terhadap saya” jawab Baru Klinting.

Baru Klinting menengadah ke atas seraya berdoa kepada Sang Maha Kuasa dan memohon agar diberikan kekuatan. Kemudian Baru Klinting memegang Sodo Lanang itu dengan tangan kiri lalu dibantu dengan tangan kanan. Bumi seketika bergetar, suara gemuruh dan petir yang sangat dahsyat. Glegerrrrrrrrrr……… Pusaka itu dapat dicabut lalu dilempar di suatu tempat dan mengeluarkan sumber air yang sangat besar dan jernih. Pusaka Sodo Lanang yang dilempar tersebut berubah menjadi Gunung Kendalisodo yang berasal dari kata kendale sodo (bekas cabutan pusaka sodo). Sedangkan cipratan dari cabutan pusaka itu saat ini menjadi Gumuk Sukorini dan Gumuk Sukorina yang merupakan cerminan atau wujud dari kaum laki-laki dan kaum perempuan. Seketika lubang bekas tancapan itu mengeluarkan sumber air yang sangat besar dan jernih. Air yang melimpah itu akhirnya menenggelamkan wilayah Kademangan Puserwening.

Air yang menggenangi Kademangan Puserwening tersebut menjadi rawa yang disebut Rawa Bening dan juga Rawa Pening. Rawa Pening artinya jiwa dan raga harus pen dan hening. Ibarat air yang diletakkan dalam gelas semakin lama akan menjadi keruh, kemudian jadilah Rawa Bening untuk menjernihkan segala sesuatu yang keruh. Rawa Pening sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar dan juga digunakan sebagai sarana penyedia air serta berguna dalam berbagai sektor kehidupan.

Di suatu tempat yang lain, sang nenek yang telah menolong Baru Klinting mendengar suara gemuruh yang sangat dahsyat. Dia teringat pesan yang disampaikan oleh Brau Klinting. Dia segera naik ke atas lesung dan membawa serta centong miliknya. Nenek itu melewati rawa yang sangat luas kemudian berhenti di suatu daerah yang diberi nama Padepokan Mbahrowo, yang berasal dari kata ngambah (melewati) dan rowo (rawa), sekarang dikenal dengan Ambarawa.

Rawa Pening yang berada di Ambarawa saat ini dikenal sebagai tempat wisata yang menyimpan kekayaan alam yang sangat melimpah. Rawa Pening merupakan kekayaan alam yang dimiliki oleh warga sekitar Ambarawa yang harus tetap dijaga dan dilestarikan agar tetap bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Bukan hanya keindahan alamnya saja yang patut untuk dilestarikan, namun cerita tentang legenda Rawa Pening juga harus dilestarikan agar dapat diketahui oleh generasi mendatang.

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *