Asal Mula Wisata Eling Bening #23

Asal Mula Wisata Eling Bening

Oleh: Trias Nilam Prabandari

 

Di suatu desa yang berada dikejauhan kota besar, jauh dari hiruk pikuk kegaduhan dan orang berlalu lalang, di sebuah desa terpencil dimana masih terasa segar udara dingin dan sejuk di pagi hari, hijau nya sawah di seraya kanan kiri jalan yang membuat mata menjadi teduh, tanaman dan pepohonan yang tumbuh subur merata, sepoi – sepoi angin yang juga berhembus membuat setiap orang yang hidup disana merasa senang.

Di sebuah desa yang sebagian besar masyarakat menyambung diri dengan berkebun dan bertani, membuat desa tersebut menjadi subur dan makmur juga sejahtera, senyuman yang selalu bermekaran di wajah – wajah mereka membuat semakin lengkap terasa sejuk setiap mata memandang. Tepat berada di kaki gunung di sebuah daerah bernama Ambarawa. Setiap pagi merupakan waktu dan pemandangan yang paling menyenangkan. Para petani berbondong – bondong menuju sawah dengan memikul cangkul untuk merawat sawah mereka. Sendau gurau dan keramahan mereka membuat desa tersebut seakan terasa hidup akan kebahagiaan, kesejahteraan, dan kedamaian.

Di desa yang damai itu berdiri kokoh sebuah kerajaan yang bernama kerajaan Ambarawa, yang dipimpin oleh seorang raja bernama Raja Pramudaka. Beliau dikenal sebagai sosok raja yang dapat mengayomi kerajaan juga semua rakyatnya, dan dikenal sangat ramah. Semua orang sangat menghormatinya karena sikap dan sifatnya yang baik. Raja Pramudaka hidup bersama istri nya yang bernama Ratu Candaka dan dikaruniai seorang putri yang sangat cantik bernama Bening.

Banyak sekali pemuda – pemuda desa dan pangeran dari kerajaan lain yang berlomba – lomba untuk menjadi pendamping hidup sang putri. Namun ia sudah menambatkan hatinya pada seorang pemuda yang telah berhasil memenangkan hatinya, dan ia bernama Sanggara. Sanggara merupakan anak dari seorang pemilik kebun teh di desa nya.

Di suatu pagi putri Bening berkata kepada Raja “Ayah, Putri kini sudah dewasa, Putri ingin menikah dan hidup berkeluarga” kata nya kepada Sang Raja.

Kemudian Raja menjawab dengan lembut “ Baiklah Nak, Ayah mengerti, Ayah sudah menyiapkan sosok pendamping hidupmu yang baik dan bisa merawatmu, juga menjadi penerus Ayah untuk memimpin Kerajaan ini.”

“Putri sudah memiliki seorang lelaki yang akan menjadi pendamping Putri Ayah..” Sang Putri menjawab.

“Siapa dia Nak?” Sang Ratu yang sedang berada disitu pun juga ingin tau.

“Sanggara, dia adalah seorang laki – laki yang baik, rajin dan dia juga dapat mengelola perkebunan teh milik ayahnya, Putri sangat mencintai SanggaraYah..Bu..” kata sang Putri dengan tulus untuk membuktikan seorang yang Ia cintai kepada Ayah dan Ibunya.

“Nak, Ayah ingin mencarikan kamu seorang suami yang dapat menjadi penerus Ayah untuk kerajaan ini, Ayah ingin pendamping hidupmu adalah seorang Putra Raja, untuk tetap menjaga amanat kerajaan Ambarawa yang harus berdarah biru..” kata Sang Raja untuk meluruskan putri nya

“Bening tidak ingin menikah terkecuali dengan Sanggara” Kata nya dengan perasaan kecewa dan kemudian  ia pergi meninggalkan Raja dan Ratu.

            Raja dan Ratu merasa sangat kebingungan, mereka sangat menyayangi Putri mereka semata wayang, mereka ingin yang terbaik untuk anaknya, namun mereka juga memikirkan untuk menjaga nama baik kerajaan dan akan terus melaksanakan apa yang sudah menjadi turun temurun di kerajaan Ambarawa tersebut.

            Padahal selama ini diam – diam Raja dan Ratu sudah menyiapkan jodoh untuk Bening, yaitu seorang Putra Raja dari kerajaan Bawen yang bernama Brahmana. Kedua Raja dan Ratu tersebut sudah merencanakan perjodohan Putri dan Pangeran sejak mereka masih kecil, namun Bening sudah menemukan seorang laki – laki yang Ia yakini untuk dapat dijadikan pendamping hidupnya. Perjanjian perjodohan itu dibuat sebagai imbalan karena pada saat kerajaan Ambarawa mengalami gulung tikar dan kemunduran Kerajaan Bawen ikut serta membantu untuk meningkatkan taraf kemajuan kerajaan Ambarawa.

            Sang Raja dan Ratu merasa sangat bersalah jika mereka melanggar perjanjian yang sudah disepakati sejak lama itu. Dan akhirnya mereka pun terpaksa memaksakan Bening untuk tetap menikah dengan Brahmana. Bening sangat kecewa dengan Raja dan Ratu karena mereka tidak pernah menceritakan segala nya yang telah terjadi kepada putri nya. Di sisi lain Ia tetap bersikukuh untuk menikah dengan Sanggara.

            Raja, Ratu dan pangeran Brahmana datang ke kerajaan Ambarawa untuk tetap melanjutkan perjodohan Bening dan Brahmana. Kemudian Bening pergi meninggalkan kerajaan dan menemui Sanggara.

            “Kita harus segera pergi, Ayah dan Ibu akan segara menjodohkan aku dengan pangeran Brahmana, aku tidak mencintai nya, apapun yang terjadi aku tetap ingin menikah denganmu Sanggara..” kata nya setelah bertemu dengan Sanggara.

            “Tapi sejauh apapun kita pergi semua pasukan kerajaan akan tetap mencari kita, semua orang akan mencari kita, dan ini juga membahayakan keselamatan kita dan juga keluargaku.” Jawab Sanggara.

            “Kita harus segera pergi sekarang juga!” Kata Bening sembari mmenyeret tangan Sanggara dan akhirnya mereka pun pergi dari desa agar jauh dari kerajaan.

            Mereka berdua pergi sangat jauh, melewati kebun dan bukit untuk bersembunyi dengan berharap tidak ada satu pun orang yang dapat menemukan mereka. Mereka ingin hidup tentram berdua di sebuah bukit dimana terlihat pemandangan yang sejuk karena terdapat pegunungan yang terlihat sejauh mata memandang. Di bawahnya terdapat pemandangan sungai rawa pening, sawah yang sejuk dipandang dan juga gunung merbabu dan ungaran yang ikut serta membuat pemandangan di bukit itu terasa lebih indah.

            Tanpa mereka berdua sadari bahwa jejak mereka sudah diketahui oleh seseorang patih yang akhirnya melaporkan kepada Raja. Tidak lama kemudian Raja mengirim bala tentara nya untuk segera bertindak membawa pulang Sang Putri, namun terjadi sebuah tragedi. Saat bala tentara melakukan penyerangan terhadap Sanggara, Sang Putri berusaha untuk melindungi Sanggara, namun akhirnya pedang yang sangat tajam menancap di perut Sang Putri dan menyebabkannya meninggal. Hal ini sontak membuat semua orang terkejut, Raja dan Ratu sangat menyesal atas kejadian ini.

            Setelah 1 bulan Bening pergi meninggalkan segalanya Sanggara datang ke bukit itu. Ia selalu terbayang masa ketika Ia dan Bening ada di bukit itu dan menjalani hari – hari bersama, namun kini sudah tinggal cerita dan kenangan sambil berkata “ Aku eling Bening ” yang artinya “Aku ingat Bening ” jadi lah tempat tersebut menjadi Eling Bening.

            Eling Bening yang berada di atas ketinggian dan terdapat pemandangan yang sangat menakjubkan dibawahnya membuat semua orang takjub. Kini Eling Bening menjadi tempat wisata di Kabupaten Semarang yang dikagumi oleh masyarakat sekitar. Bangunan putih yang  semakin bagus dan dilengkapi beningnya air kolam, pemandangan sawah nan hijau dan perkebunan yang tertata rapi di sepanjang jalan dibawahnya serta pemandangan gunung ungaran dan merbabu yang ada membuat setiap oang nyaman untuk memanjakan mata.

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *