Baru Klinting: Cerita Rawa Pening yang Melegenda #21

Baru Klinting: Cerita Rawa Pening yang Melegenda

Oleh : Arinda Sari

 

            Tersebutlah sebuah desa nan elok bernama Ngasem. Konon, sebuah pohon asam jawa tua-lah yang menjadi cikal bakal nama desa itu, hingga warganya tak perlu susah-susah mereka-reka nama. Terletak di lembah subur, di antara gunung-gemunung dan bebukitan. Tempat aneka pohon, kelompok padi, keluarga umbi, rumpun bambu, paku-pakuan, sayur mayur juga ranum buah-buahan, serta berupa bebungaan, tumbuh riang gembira. Beraneka binatang ternak, keluarga unggas, mamalia, ikan, serangga, dan berupa satwa liar, hidup dalam lingkaran rantai makanan sesuai titah alam. Dan tentu manusia dengan segala rupa karakter dan watak, sebagai penguasa tertinggi dari kesatuan ekosistem yang padu.

            Seorang gadis, di antara manusia penduduk desa itu bernama Endang Sawitri. Hidup sendiri dipeluk sepi, terasing dan terpencil dari hiruk pikuk kehidupan warga, gadis cantik itu ternyata tengah berbadan dua. Tak ada yang tahu, sebab gadis itu lihai menyimpannya rapat-rapat. Pun terkait suami Endang yang entah berada di mana. Semua hal mengenai gadis itu dan kehidupannya serupa misteri terselubung di negeri antah berantah.

            Lalu tibalah janin di kandungan Endang tak sabar melihat dunia. Suka cita menanti anak, berubah pilu saat diketahui sosok naga menggeliat, beringsut-ingsut, keluar dari rahimnya. Liat, hijau, panjang, bersisik-sisik.

            “Baru Klinthing,” panggilnya lirih. Demikian sang ibu menyematkan nama agung pada sang putra naga. Nama yang kelak membawanya berjumpa pada sang ayahanda yang telah lama terisolasi dalam pertapaan.

            Waktu berputar secepat gasing. Dari bayi tumbuh semakin besar, rasa gelisah menjalari Endang tatkala putranya mulai menanyakan seluk beluk dirinya dan keberadaan sang ayah.

            “Bu, mengapa aku tidak terlahir seperti ibu?”

            “Bu, siapa ayahku sebenarnya?”

Pertanyaan demi pertanyaan Baru Klinting semakin mengiris hati sang ibu. Ingin rasanya menjawab dengan penuh kejujuran, tapi lidahnya kelu. Sudah tiba masanya sang putra menemukan sosok ayahnya yang masih menjadi misteri baginya. Oleh karenanya, dalam temaram senja, dengan berat hati Endang melepas putranya pergi.

“Ayahmu bernama Ki Hajar Salokantara, Nak. Carilah hutan di gunung-gunung yang mengelilingi desa ini,” ucap sang ibu sembari menyusut air mata yang susah payah ditahannya agar tak meluncur jatuh. Dikalungkannya sebuah klintingan–lonceng pusaka–peninggalan sang ayah sebelum pergi bertapa dulu. Lonceng itu menjadi bukti yang mempermudah pencarian sang putra akan ayahnya.

            “Selamat tinggal, ibu. Doakan aku selalu,” pinta Baru Klinting sedih. Ditinggalkannya sang ibu dan desa tercinta tempat ia dibesarkan. Ditempuhnya perjalanan panjang dan berliku, siang malam, selama berminggu-minggu, demi sebuah harapan bertemu ayah terkasih.

            Di puncak usahanya, Baru Klinthing melihat seorang pertapa di tengah hutan seperti petunjuk ibunya. Dengan hati berdebar-debar, dihampirinya pertapa itu dengan sikap sopan dan bahasa santun.

            “Wahai pertapa, mohon maaf jika hamba mengganggu. Anda-kah yang bernama Ki Hajar Salokantara?” tanya Baru Klinting hati-hati.

            Merasa terusik, sang pertapa menanyakan asal usul sang naga. Lalu mengalirlah cerita dari mulutnya tentang desa Ngasem, ibunya, dan lika liku perjalanan hidupnya selama ini. Ditunjukkannya lonceng kecil di lehernya itu pada Ki Hajar. Lelaki itu mengangguk takzim, namun dia masih ingin meyakinkan dirinya sendiri. Maka, Ki Hajar meminta badan sang naga untuk melingkari gunung Telomoyo. Ajaib, Baru Klinting berhasil melakukannya dengan mudah. Mungkin kesaktian itulah yang diwarisinya dari sang ayah.

            Ayah dan anak itupun berpelukan dengan keharuan luar biasa. Waktu telah membayar kebahagiaan mereka dengan tunai. Setelahnya, Sang Naga Baru Klinting mengikuti jejak ayahnya bertapa di dalam hutan.

            Tak jauh dari hutan tempat Baru Klinting bertapa, ada sebuah desa bernama Pathok. Serupa desa Ngasem, desa itu dianugerahi tanah subur dengan panen melimpah ruah. Padi, palawija, buah-buahan, dan sayur mayur, menjadikan warga makmur. Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Pemberi Rezeki, diadakanlah sedekah bumi. Itulah pesta rakyat nan meriah yang berlangsung selama tiga hari tiga malam. Sayangnya, warga gagal menangkap binatang buruan untuk jamuan pesta. Tak ada rotan, akarpun jadi. Daripada pulang dengan tangan kosong, mereka menemukan naga besar lantas memotong-motongnya untuk dimakan beramai-ramai.

            Seorang bocah kecil jelmaan Baru Klinthing, tiba di pintu gerbang desa Pathok, dengan senyum mengembang. Segala pertunjukan digelar, tari-tarian dengan tabuhan menggema-gema ke segala penjuru, anak kecil berlarian riang menggenggam gula-gula. Mata bocah itu berbinar menatap aneka hidangan dengan aroma sedap yang tercium di udara. Air liurnya nyaris menetes. Tangan mungilnya hendak menggapai bibir piring, ketika seseorang menghardik keras tepat di belakang punggungnya.

            “Mau apa kau, gembel?! Pergi sana! Tak ada jatah makanan untuk pengemis bau amis sepertimu!” matanya tajam menatap Baru Klinthing.

            Bocah itu mengerut takut, lalu memilih berlalu pergi dari hingar bingar perhelatan itu. Rasa lapar yang melilit, kini ditambah dengan rasa sakit di hati. Namun, pantang baginya untuk menangis. Dia melangkah gontai tanpa arah tujuan, hingga langkahnya terhenti di sebuah gubug tua. Nyi Latung, si tuan rumah merasa iba dengan penampilan bocah pucat, kumal, bersisik, dan beraroma amis itu. Hatinya tergerak untuk menolong.

            “Kau siapa, Nak? Masuklah. Kebetulan aku selesai memasak,” tawar perempuan tua itu dengan ketulusan dan keramahan yang tak dibuat-buat.

            Baru Klinting tak sempat menjawab sebab makanan itu telah menyelubungi saraf penciumannya, lalu memanjakan lidahnya, juga mengisi lambung perihnya yang berhari-hari tak berjumpa makanan. Nyi Latung tersenyum melihat tamu kecilnya yang makan selahap itu. Makanan yang dihidangkan tandas. Piring-piring bersih, licin, tak bersisa.

            Setelah mengakhiri acara makan, Baru Klinting mengisahkan tentang kejahatan warga desa yang mengusirnya dengan kasar. Nyi Latung menyimak lalu mengatakan bahwa memang itulah tabiat warga desa Pathok. Bahkan nenek tua itu juga dilarang mendatangi pesta.

            “Mereka harus diberi pelajaran, nek!” geram Baru Klinthing. Tangannya mengepal. Sorot matanya merah, berkilat-kilat. “Jika nenek mendengar suara gemuruh, segera siapkan lesung dari dalam lumbung.”

            Baru Klinting kembali mendatangi pesta rakyat itu, dengan langkah tegap. Namun, lagi-lagi, kena usir dengan tendangan dan perlakuan semena-mena. Baginya, ini sudah keterlaluan. Kemarahan bocah itu sampai di ubun-ubun. Diambilnya sebuah lidi lalu ditancapkannya di tanah. Di tengah keramaian, dia berkacak pinggang. Menantang seberapa hebat orang-orang untuk mencabut lidi yang telah tertancap itu.

            Alih-alih tertantang, warga desa itu malah tertawa terbahak-bahak.

“Mencabut sebatang lidi? Hahaha! Apa susahnya!?” Sebagian mengatakan bocah itu konyol, bodoh, bahkan gila. Mereka memandang remeh tantangan Baru Klinting. Mula-mula, anak-anak dan kaum perempuan diminta mencabut lidi itu, tapi semuanya gagal. Penasaran, kaum lelaki yang kuat satu per satu maju. Hasilnya nihil. Bahkan ketika mereka mengerahkan segenap kekuatan untuk mencabutnya bersamaan, tetap saja lidi itu bergeming di tempatnya. Lidi itu seperti terkena kutukan.

Merasa diperdaya oleh seorang bocah ingusan itu, warga ganti menantang Baru Klinting untuk mencabut lidi itu. Bocah itupun maju dengan tenang. Lantas, dengan gerakan ringan saja, lidi itu tercabut dengan mudahnya. Orang-orang ternganga-nganga mulutnya macam kena sihir. Tak ada yang menyangka, jika dari lubang bekas tancapan lidi itu muncul mata air. Pada awalnya merembes, mengucur, lalu memancar ke atas dengan deras seumpama gletser. Mereka panik, berlarian menghambur ke segala arah demi menyelamatkan diri. Perhelatan meriah itu menjadi kacau balau sebab air semakin membumbung tinggi, menggenangi desa. Warga desa Pathok yang congkak itupun tenggelam, kecuali seorang nenek tua yang murah hati itu. Dia mendayung sebuah lesung, melambai-lambaikan tangannya pada Baru Klinthing yang kini berdiri di atas puncak gunung.

Daerah itu menjadi rawa seluas mata memandang. Konon, tersebab airnya bening, maka disebut ‘Rawa Pening’ oleh warga setempat. Letaknya di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *