Legenda Curug Klenting Kuning #20

Legenda Curug Klenting Kuning

Oleh : Steffani Putri

“Tidak! Aku tidak akan menikahinya!” Tolak seorang pangeran gagah nan tampan dari singgasananya yang terlihat sangat mewah.

“Tapi kenapa, Raden? Bukankah dia sempurna? Lihatlah paras eloknya yang bagaikan bidadari. Kulitnya yang putih halus seperti susu, tubuhnya yang sangat pas untuk bersanding di sebelah Raden?”

“Sekali aku bilang tidak, ya tetap tidak! Bilang padanya untuk keluar dari kerajaanku! Aku tak ingin melihat wajahnya lagi!” Bentak sang pangeran dengan kemarahan membara.

“Sekali lagi hamba bertanya,  jangan sampai Raden menyesal dikemudian hari,” tanya pelayan kerajaan itu lagi untuk memastikan keputusan tuannya.

“Aku bahkan tak pernah merasa seyakin ini dalam hidupku. Aku tak akan pernah menikahi putri dengan kelakuan brandalan seperti dia!”

            Wajah pangeran itu mengeras, matanya terbuka lebar penuh amarah. Emosinya sudah berada di ujung kepala dan siap untuk meledak. Mengeluarkan berbagai sumpah serapah pada wanita cantik di depannya.

            Sementara wanita yang sejak tadi berdiri di depan sang pengeran dan pengawalnya itu hanya bisa menunduk dalam-dalam. Ini sudah perjodohannya yang kesekian kali, tapi hasilnya tetap sama. Para pangeran itu menolaknya.

            Dewi Galuh Candra Kirana memanglah seorang putri kerajaan yang amat cantik. Bahkan banyak yang menyebutnya wanita tercantik di seantero kerajaan. Sifatnya pun baik dan lembut.

            Namun, semua kelebihannya itu seperti terabaikan oleh sifat-sifat buruk ibunya yang orang-orang percaya pasti menurun kepadanya. Anggapan buah jatuh tak jauh dari pohonnya agaknya sangat melekat kuat pada pikiran penduduk bahkan para pangeran di sana pun mempercayainya. Ya, peribahasa tersebut sangat diyakini akan terjadi pula pada diri Dewi Galuh.

            Paras ayu Dewi Galuh sebenarnya adalah turunan dari ibunya. Hanya saja perilakunya saat muda sangatlah nakal dan sering membuat para penduduk resah. Karena hal inilah mereka seakan menutup mata akan kebaikan yang dimiliki Dewi Galuh.

            Padahal sejak kecil Dewi Galuh dibesarkan oleh seorang pelayan istana bernama Mbok Srenggi yang sangat telaten. Usianya memang sudah lebih dari setengah abad, tetapi beliau sangatlah perhatian sehingga bisa menggantikan figur seorang ibu bagi Dewi Galuh yang tak pernah mau merawatnya sekalipun. Jadi pemikiran orang-orang itu sangat berbanding terbalik dengan kepribadian Dewi Galuh yang sebenarnya.

***

            Saat perjalanan pulang, Dewi Galuh tak sengaja melihat seorang nenek tua yang kelaparan di pinggir jalan. Buru-buru ia menghampiri nenek tua itu dan memberinya roti yang baru saja dibelinya.

            Roti itu sebenarnya akan ia berikan pada Mbok Srenggi. Tapi tak apalah, Mbok Srenggi pasti paham dengan hal yang dilakukannya ini.

            Dewi Galuh menemani nenek tua tadi sampai menghabisakan roti yang ia berikan. Ia tersenyum senang melihat nenek tua itu makan dengan lahap bagaikan sudah tak makan berminggu-minggu.

“Kau terlihat seperti anak baik, tapi keberuntungan sedang tidak memihak padamu,”

            Dewi Galuh tersenyum samar membenarkan perkataan nenek tua itu.

“Pergilah ke air terjun dibawah lereng gunung! Berdoalah disana sampai engkau mendapatkan wangsit! Turutilah perkataan ku jika kamu ingin bersuami seorang raja dan beranakkan pangeran tampan nan gagah!”

            Setelah berkata, nenek tua itu tiba-tiba hilang saat Dewi Galuh sedang memahami perkataannya.

            Perkataan nenek tua tadi tak bisa lepas dari pikiran Dewi Galuh selama perjalanan pulangnya menuju istana. Mungkinkah ia harus melakukannya?

***

“Haruskah aku melakukannya, Mbok?” Tanya Dewi Galuh pada Mbok Srenggi setelah menceritakan apa saja yang baru dilaluinya.

“Cobalah minta pendapat kepada Maha Guru. Ia pasti lebih memahaminya daripada aku,” jawab Mbok Srenggi dengan lembut sambil tersenyum tulus.

            Dewi Galuh langsung berlari ke ruangan dimana Maha Guru biasanya berdiam. Usia Dewi Galuh memang sudah matang untuk menikah. Hanya saja masalah perjodohan yang selalu mendapat tolakan menjadi penghalang.

            Dewi Galuh menceritakan semua yang terjadi pada Maha Guru di depannya yang hanya diam sambil memejamkan matanya. Hal yang biasa ia lakukan ketika bersemedi. Walaupun sedang bersemedi, Dewi Galuh yakin beliau pasti mendengarkan keluh kesahnya ini dan akan segara memberi saran.

“Pergilah kalau begitu! Berusahalah dengan sungguh-sungguh!”

            Sedikit rasa lega hinggap dihati Dewi Galuh menggantikan semua rasa gelisah yang sebelumnya mendominasi. Ia yakin hal yang akan dilakukannya ini tidak sia-sia.

            Bermodalkan perbekalan dan informasi secukupnya dari orang-orang istana, Dewi Galuh berangkat menuju  lereng gunung yang dimaksudkan oleh si nenek tua yang ia tolong.

            Para pengawal kerajaan pun sudah siap untuk menemani perjalanan Dewi Galuh, tetapi ia malah menolak dan berkata akan pergi sendiri. Hal tersebut tentu saja dilarang keras oleh sang raja yang juga merupakan ayah Dewi Galuh.

            Dewi Galuh berlutut pada sang ayah memohon izin serta doanya. Ia meyakinkan sang paduka raja bahwa dia sudah dewasa dan akan menyelesaikan masalahnya sendiri. Juga sebagai pembuktian diri bahwa Dewi Galuh merupakan putri kerajaan yang sebenarnya. 

            Setelah perdebatan yang panjang dengan para pengawal kerajaan, akhirnya Dewi Galuh diizinkan untuk pergi sendiri oleh sang raja, walaupun dengan berat hati. Ia hanya tak mau putri semata wayangnya terluka saat berada di hutan nanti.

***

            Perjalanan Dewi Galuh pun sangatlah tak mudah. Bekalnya habis ditengah perjalanan setelah diberikannya pada para musafir. Jalan menuju lereng gunung yang terjal menjadi tantangan terbesar baginya. Namun, Dewi Galuh sudah bertekad. Ia harus sampai ke air terjun yang dimaksud si nenek tua dan berdoa disana.

            Saat ditengah perjalanan, langit tiba-tiba menjadi gelap. Dalam hitungan detik saja suara guntur mulai terdengar disusul dengan petir yang mulai menyambar. Langit seperti akan jatuh dari tempatnya saat itu juga. Jutaan air bening tak bersalah mulai dijatuhkan menimpa tanah yang sebelumnya kering.

            Dewi Galuh berlari tanpa mengetahui arah mana yang ditujunya. Sampai tak lama, ia menemukan sebuah gua kecil untuk berteduh sementara. Tanpa berpikir panjang, Dewi Galuh langsung masuk ke dalam gua tersebut dan berteduh sampai hujan di luar reda.

            Sayangnya, hujan tak kunjung reda dan malah bertambah deras sampai malam tiba. Rasa kantuknya yang sudah tak dapat tertahankan membuat Dewi galuh tertidur di atas batu gua yang dingin.

            Angin dingin pagi hari membelai halus kulit Dewi Galuh, membangunkannya dari tidur. Dirasakannya hawa sejuk bekas hujan semalam saat pertama kali membuka mata. Dewi galuh memperhatikan sekitarnya setelah keluar dari dalam gua. Ia baru sadar bahwa dirinya tersesat setelah berlari ke sembarang arah untuk menghindari hujan kemarin.

            Dewi galuh melanjutkan perjalanannya lagi sambil berusaha mengingat arah mana yang telah dilewatinya kemarin. Berkali-kali ia berjalan, tetapi ia justru kembali ke tempat semula yang telah ia lewati. Hingga tak terasa peluh keringatnya semakin mengucur deras disertai panas matahari yang kian menyengat di kulit.

            Akhirnya, ia memutuskan untuk menghentikan langkahnya sebentar. Berniat untuk mengistirahatkan diri.

            Saat beristirahat di bawah sebuah pohon rindang, tak sengaja Dewi Galuh menginjak seekor ular yang berada di depannya. Ular tersebut langsung bersiap menggigit kaki Dewi Galuh. Racunnya yang sangat mematikan menetes dengan eloknya dari taring tajam itu.

            Dalam sekejap mata, taring tajam ular tadi sudah menembus kulit lembut Dewi Galuh. Menyebarkan racun mematikan ke seluruh tubuh. Buru-buru Dewi Galuh melepaskan gigitan ular itu dari kakinya dengan susah payah. Reaksi dari racun ular tersebut sangat cepat menyebar sehingga Dewi galuh tumbang sesaat setelahnya.

***

            Terbukalah mata indah Dewi Galuh setelah tertutup selama beberapa jam. Bekas gigitan ular sebelumnya telah terbungkus rapi dengan daun kari yang banyak tumbuh di hutan ini. Dicarinya orang yang telah mengobati bekas gigitan ular tersebut, tetapi nihil. Tak ada siapapun yang terlihat di sana.

            Setelah berjuta tantangan yang telah dihadapinya, Dewi Galuh akhirnya sampai ke lereng gunung yang dimaksud si nenek tua. Buru-buru ia mencari air terjun dan segera berdoa di sana.

            Tujuh hari berlalu, tak ada apapun yang terjadi. Dewi Galuh sempat berpikiran bahwa perkataan nenek tua itu hanyalah sebuah lelucon. Sepertinya tak ada pangeran yang mau menikahinya benar-benar akan menjadi kutukan seumur hidupnya. .

            Angin berembus pelan seperti membisikkan bahwa Dewi Galuh harus melanjutkan pertapaannya dan tidak mudah menyerah. Penjaga air terjun ini seolah sedang mengisyaratkan bahwa Dewi Galuh sedang diuji kesabaran dan kesungguhannya dalam berdoa.

            Dilanjutkanlah tapa Dewi galuh dengan sungguh-sungguh. Tujuh hari lainnya sudah berlalu, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya. Dari suaranya saja sudah bisa dirasakan bahwa penjaga air terjun ini sangat sakti.

“Hei! Wanita yang cantik tetapi tak kunjung dapat pasangan! Apa yang engkau inginkan dariku?” Sapa suara berat nan menggelegar yang entah darimana asalnya.

“A-aku ingin segera mendapatkan seorang suami dan anak-anak yang baik perilakunya,” jawab Dewi Galuh sedikit gugup di awal.

“Baiklah jika itu maumu! Berpura-pura lah menjadi rakyat jelata! Ganti namamu menjadi Klenting Kuning dan berjalanlah ke arah matahari terbit! Kau akan bertemu takdirmu nanti!” jelas sang penjaga air terjun yang diketahui berupa raja jin bernama Prabu Kisbomurti.

“Baiklah. Aku akan melakukannya. Terima kasih telah menjawab doaku,” ucap Dewi Galuh sebelum berlalu melanjutkan perjalanannya.

            Kisah Dewi Galuh pun berlanjut dengan perjalanannya menuju ke arah matahari terbit yang lantas mempertemukannya dengan Nyi Tatali atau yang kerap disapa Mbok Rondo. Dewi Galuh pun kemudian diangkat menjadi anak oleh Mbok Rondo.

            Air terjun yang digunakan Dewi Galuh untuk bertapa sampai sekarang dikenal dengan nama Curug Klenting Kuning. Nama tersebut diberikan setelah perintah dari Prabu Kisbomurti untuk mengganti nama Dewi Galuh Candra Kirana menjadi Klenting Kuning. Curug indah ini sendiri terletak di Sumowono, Kabupaten Semarang

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.