Legenda Curug Gending Asmoro #18

Legenda Curug Gending Asmoro

Oleh : Yumna Nada Athifa

Sepucuk surat terjatuh di ujung kaki seorang lelaki. Ia ragu, tetapi ia mengambilnya. Ia baca surat yang dituliskan pada kertas lusuh dengan tulisan tegak bersambung. Ia tersenyum cerah setelah membacanya.

“Joko Along, bacalah surat ini,” katanya sambil memberikan surat yang ditemuinya tadi.

Sama sepertinya, Joko Along pun tersenyum cerah setelah membaca surat tersebut. “Ajakan yang bagus. Kita ajak teman yang lain untuk memenuhi ajakan surat ini bersama.” Mereka berjalan menuju gubuk bambu di tepi sawah.

“Hei, tidakkah engkau tertarik mengikutinya?” tanya lelaki penemu surat.

Matanya berbinar. Seorang lelaki dengan pakaian lusuhnya berkata tidak sabaran, “Tentu saja! Ini kesempatan emas untuk pergi ke kota. Ayo, segera berlatih!”

Mereka bergegas menuju ruang kesenian desa untuk berlatih seni karawitan. Seni karawitan yang akan mereka tunjukkan pada pertunjukan budaya di kota pekan esok.

Waktu berlalu begitu cepat bagai gugurnya dedaunan ketika angin menghempasnya kencang. Seluruh waktu dan tenaga telah dihabiskan untuk melatih kemampuan berseni. Suasana ramai perkotaan menyambut Joko Along dan teman-temannya. Dengan kepercayaan diri dan kemampuan, mereka berhasil menunjukkan seni karawitan pada warga kota.

“Kalian pulanglah ke desa terlebih dahulu. Saya memiliki keperluan penting di kota.”

“Baik, kami pulang. Segera selesaikan urusanmu di kota. Sore ini kita harus memberi makan hewan ternak.”

Joko Along bertemu seorang wanita sebelum ia tampil pada acara pertunjukan budaya. Wanita tersebut telah memikat hatinya. Senyumnya yang rupawan mendamaikan hati setiap orang yang melihatnya. Alasan ini menjadikan Joko Along meminta temannya pulang ke desa dahulu.

Joko Along mengikuti sang wanita diam-diam hingga tiba di rumah sang wanita. Bersembunyi di balik pohon tua, Joko Along bergumam, “Aku sudah tahu rumah wanita ini. Ku harap kelak ia bisa menjadi istriku.” Joko Along berlalu dari pohon tua.

***

Kehidupan berlanjut hingga Joko Along menikahi wanita yang ia temui ketika pertunjukan budaya di kota beberapa waktu lalu. Wanita yang ia ikuti diam-diam kini telah menjadi istrinya. Takdir menghendaki ia hidup bahagia dengan wanita yang ia cintai. Namun, hari esok tak ada yang mengetahui bagaimana jalannya. Mereka hanya bisa menjalani setiap detik yang dilalui dengan kebahagiaan selama kesempatan itu masih ada.

“Hahaha.” Suara tawa bahagia menghiasi malam kelabu. Mereka bercanda tawa. Namun, langit pun tak demikian. Gerimis perlahan turun dari langit kelabu. Semakin lama semakin deras seolah mengajak manusia untuk beristirahat dengan nyaman di bawah derasnya air hujan. Cahaya lentera menerangi rumah kayu yang terguyur hujan. Selimut-selimut mulai membungkus tubuh manusia menciptakan kehangatan sebagai pengantar tidur.

Matahari kembali mengenalkan dirinya pada bumi. Joko Along berjalan menuju curug di antara pepohonan bambu. Dengan membawa potongan bambu kuning yang telah dihaluskan, Joko Along mengadakan ritual di curug untuk meminjam gamelan gaib.

“Wahai pemilik gamelan! Sudi, kah engkau meminjamkan gamelan sucimu padaku?”

“Engkau telah memenuhi syarat untuk meminjam, akan ku pinjamkan gamelanku ini padamu, Joko Along.” Pemilik gamelan bersedia meminjamkan gamelannya pada Joko Along. ” Namun, aku memiliki satu syarat yang harus kau penuhi.”

“Syarat apakah itu, wahai pemilik gamelan?”

“Engkau harus mengembalikan gamelanku esok sebelum matahari tepat berada di atas kepala. Karena aku akan menggunakannya untuk persembahan terbaikku pada raja kaumku.” Pemilik gamelan menjelaskan syarat lain disertai kepergiannya.

Pertunjukan wayang dimulai ketika suara jangkrik telah menghiasi langit hitam. Seluruh warga desa berkumpul di tanah lapang. Sang dalang memulai bercerita panjang lebar tentang kisah perjalanan hidup Ramayana. Alunan gamelan mengiringi sang dalang. Tanpa niyaga di sana. Makhluk gaib telah meminjamkan gamelannya pada Joko Along.

“Harapanku yang terwujud. Telah ku selenggarakan pertunjukan wayang setelah aku menikahi wanita yang kucintai,” kata Joko Along pelan. Senyum senantiasa tercetak di wajahnya.

***

Rasa lelah setelah semalam menyelenggarakan pertunjukan wayang masih tersisa. Namun, Joko Along harus bekerja. Pisau gergaji berada di genggaman tangannya. Mencari-cari bambu yang layak tebang untuk dimanfaatkan sebagai anyaman bambu. Keringat terus membasahi seluruh tubuhnya. Manusia tetaplah manusia yang mengenal lelah. Kekuatannya memiliki batas. Ia memutuskan beristirahat di bawah pohon rimbun. Istrinya menemani beristirahat siang hari. Mereka bercakap-cakap hingga tanpa terasa matahari telah redup sinarnya.

Joko Along dan istrinya bergegas kembali ke rumah mereka. Namun di tengah perjalanan, langkah kaki Joko Along melambat. Tubuhnya lemas. Ia telah melupakan janjinya. Janji mengembalikan gamelan gaib pada makhluk gaib yang memilikinya. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia sangat lelah hingga ia hanya bisa berharap tidak akan terjadi marabahaya pada dirinya. Ia berniat memohon maaf pada sang pemilik gamelan esok hari.

***

Sang makhluk gaib pemilik gamelan mendengar mantra yang terucap dari mulut Joko Along memanggil dirinya.Mulut itu berdusta padanya. Mulut yang pernah beranji bahwa ia akan mengembalikan gamelannya pada waktu yang telah ditentukan. Namun hingga saat ini, sang makhluk gaib tak pernah menerima gamelannya kembali. Ia marah. Kemarahannya telah mencapai ubun-ubun. Tubuhnya berapi-api. Ia menampakkan diri dan menjawab panggilan sang pendusta dengan suara bagaikan guntur yang menyambar-nyambar.

“Wahai manusia penuh dusta! Kau bawa ke mana gamelanku?! Kau tak mengembalikannya padaku dan kau tak tahu malu masih berani memanggilku?!”

“S..saya memanggil engkau karena saya harus memohon maaf padamu, wahai sang pemilik gamelan!” Keringat mengucur deras di pelipis Joko Along. Ia merinding ketakutan.

“Kau masih ingat kata maaf? Hahaha,” ucapan sang pemilik gamelan terhenti karena tawanya yang sarkastik, “aku ini sang pendendam. Jika kau berbuat masalah padaku, aku akan membalasnya dengan penderitaan yang menyayat hati.” Sang pemilik gamelan menghilang dengan meninggalkan asap hitam yang menusuk mata Joko Along.

***

Pemilik gamelan tidak mengingkari janjinya untuk memberikan penderitaan pada Joko Along. Sore ini, istri Joko Along pergi ke curug untuk mencuci pakaian. Joko Along diam-diam mengikutinya. Ia melihat arus aliran sungai tiba-tiba menjadi deras. Dalam batin Joko Along, “Apakah ini tanda bahwa akan terjadi marabahaya?”

Duak..duak..duak

Batu-batu besar saling bertabrakan. Guncangan dahsyat di curug telah mengobrak-abrik batu-batu besar. Joko Along tersandung batuan hingga kakinya  terhimpit di antara batuan. Ia berusaha mengeluarkan kakinya, namun yang dirasa  kakinya semakin ditekan oleh hal tak kasat mata. Kakinya semakin terhimpit. Istri Joko Along pun berusaha lari. Namun takdir tak menghendaki ia selamat. Tubuh kurusnya terhimpit di antara batuan besar. Tubuhnya mati rasa. Tubuh tak berdaya itu seperti hancur berkeping-keping.

Suara tabuhan gamelan tak beraturan memekikkan telinga manusia. Gumpalan asap hitam yang menusuk mata mengepul di atas air sungai.

“Wahai Joko Along! Terimalah akibat engkau mengingkari janjimu! Engkau tidak mengembalikan gamelanku dan engkau sibuk bercakap-cakap bersama istrimu hingga melupakan janjimu!” teriak sang pemilik gamelan dengan suaranya yang menggelegar membelah angkasa.

Joko Along terus berusaha mengeluarkan kakinya dari himpitan batu. Dengan suara yang putus asa Joko Along menjawab, “Wahai pemilik gamelan! Mohon maafkanlah saya. Saya terlampau senang bercakap-cakap dengan istri saya. Mohon maafkanlah saya atas kesalahan saya, wahai pemilik gamelan!”

“Dengar, Joko Along! Aku menunggu gamelan itu! Aku diusir oleh raja dari istana karena telah ingkar janji untuk mempersembahkan gamelan terbaik kepadanya! Ini semua karena engkau dan istrimu!” seru sang pemilik gamelan dengan murka.

Tubuh kurus istri Joko Along semakin tak kuat menahan perihnya terhimpit batu. Ia menghembuskan napas terakhirnya sebelum mengucapkan selamat tinggal pada suaminya. Darah merah semakin mengotori pakaian putih Joko Along. Dengan tangis penyesalan, Joko Along kembali berkata, “Saya sungguh bersalah, maafkanlah saya. Saya akan menerima akibat ini. Mohon keluarkan saya dan istri saya dari himpitan batu.” Air mata Joko Along telah terkuras habis menyesali perbuatannya. Namun menyesal saat ini adalah hal yang sia-sia.

“Manusia memanglah lalai. Kesedihanku akan kuberikan pada curug ini. Biarlah pada waktu yang kutentukan gamelanku berbunyi di sini.”

Suara sang pemilik gamelan menghilang dan batuan besar yang menghimpit kaki Joko Along dan istri Joko Along bergeser memberi cukup ruang untuk dapat dikeluarkan dari himpitan. Ia melihat istrinya dengan tangis penuh penyesalan.  Ia menyalahkan dirinya sendiri yang mengingkari janjinya. Ia yang telah lalai hingga orang yang ia cintai harus menerima akibat kelalaiannya mengembalikan gamelan kepada sang pemilik sesuai janji yang telah ia ucapkan.

Curug yang terletak di Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang kini dikenal dengan Curug Gending Asmoro. Gending yang berarti gamelan dan asmoro yang berarti cinta. Gamelan yang telah membawa malapetaka bagi orang yang dicintai.

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *