Banar dan Kangar #15

Banar dan Kangar

Oleh : Farezha Ray

Pada suatu wilayah kewedanaan yang dipimpin oleh seorang wanita paruh baya, terjadi kericuhan antara dua putra kembarnya: Banar si kakak dan Kangar si adik. Kelahiran mereka hanya terpaut sebelas menit. Bopo si kembar mangkat ketika keduanya masih balita, pada perang perebutan wilayah, hingga siap tak siap memaksa sang istri ambil alih pemerintahan demi mematangkan alutsista istana maupun gerbang perbatasan.

Banar adalah pemuda tampan berkarisma, berperangai lembut, dan memiliki senyuman maut yang mampu membuat gadis-gadis desa bahkan para janda rela mengantre saat keluarga istana membagikan sembako gratis kepada warga kurang mampu―di mana biasanya kaum lelakilah yang mengambil sembako tersebut dari istana. Akan tetapi, kecerdasan otak yang dimiliki Banar, berbanding terbalik dengan kondisi fisiknya yang lemah. Bomoh istana mengatakan bahwa Banar mengidap penyakit jantung, tidak boleh kelelahan karena bisa berakibat fatal.

Sedangkan adiknya, Kangar, pemuda perkasa berfisik prima yang punya kepribadian bebas. Punya sekelompok petarung yang selalu dia latih untuk menjadi prajurit andalan istana, bila perang antardaerah tak dapat terkendali. Bahkan, Kangar dan anak buahnya selalu mampu menumpas kejahatan semisal perampokan dagangan warga. Tak ayal, Kangar sangat dicintai kaum petani dan pedagang karena dialah sosok pelindung yang sesungguhnya. Akan tetapi, fisik kuat yang dimiliki Kangar, berbanding terbalik dengan kemampuan otaknya. Selalu meng-andalkan otot dalam kehidupan sehari-hari, otaknya menjadi tumpul. Ja-ngankan berhitung, membaca dan menulis saja dia tak bisa.

Suatu hari, keluarga istana dikejutkan dengan ditemukannya surat wasiat dari mendiang Bopo tentang kepemimpinan yang harus dijatuhkan kepada si kembar. Seketika Biyung menjadi cemas, bukan karena takut takhta ratu yang dimilikinya akan jatuh, melainkan wanita itu paham betul perilaku kedua putra yang tidak pernah akur.

Banar mengotot dirinyalah yang pantas menjadi raja. Kecerdasan otaknya mampu menaklukan berbagai persaingan dagang luar daerah sehingga kelak rakyat akan makmur, terbebas dari kemiskinan. Tak ingin kalah, Kangar pun bersikukuh dirinyalah yang layak menjadi raja. Dengan dalih bahwa raja itu harus kuat, harus mampu menumpas kejahatan bah-kan harus menjadi pemimpin tangguh ketika bertarung di medan perang. Kangar menjamin rakyatnya akan aman selama memiliki raja seperti dia, karena pengalaman lapangan mengajarkannya banyak siasat tempur untuk memerangi kedurjanaan. Ilmu alam yang tak pernah dimiliki oleh Banar, kakaknya.

Sadar tak akan membuahkan mufakat karena kedua putra memiliki pendukung sama kuat, Biyung akhirnya mengambil keputusan dengan mengadakan sayembara. Biyung meminta putranya untuk berlomba mem-bangun sebuah candi di tengah cerang yang sangat jauh dari istana, dengan aturan tak boleh dibantu oleh siapa pun, bahkan harus mampu hidup mandiri tanpa bantuan dari istana. Keduanya dilarang pulang se-belum candi itu terbangun. Siapa yang lebih dulu selesai, dialah yang ber-hak menjadi raja. Dan si kembar menyanggupi tantangan dari Biyung tersebut.

Banar dan Kangar kini berada di cerang yang dimaksud Biyung. Banar mengambil lokasi sebelah kiri, cukup jauh dari Kangar karena tidak ingin hasil karyanya nanti dicuri atau dirusak oleh saudaranya sendiri. Hari-hari awal keduanya asyik mempersiapkan pembangunan. Kangar dengan keahlian ototnya menambang dan mengusung bebatuan dari wila-yah tebing menuju cerang, sedangkan Banar selalu menyibukkan diri de-ngan teori di dalam otak berharap pembangunan lekas selesai bila per-hitungannya tepat.

Lama kelamaan keduanya frustrasi dengan hasil karya masing-masing. Candi milik Banar tak kunjung terbangun karena dia kewalahan dalam menambang dan mengusung bebatuan. Bahkan, sebentar-sebentar dia mengeluhkan sakit di dadanya. Tak beda jauh mengenaskan, Kangar pun geram karena bebatuan yang susah payah dia usung, selalu ambruk tatkala ditata menumpuk. Dia benar-benar kepayahan dalam memperhitungkan teori pembangunan.

Lelah dan depresi membuat keduanya terlibat perdebatan sengit kemudian berujung dengan adu senjata. Banar yang mampu menerjang segala amukan melalui teori pertahanan, melawan adiknya sendiri yang merupakan kesatria ahli strategi serangan pedang. Bertahan dan menye-rang, begitu terus sampai akhirnya mereka jenuh sendiri karena merasa tak akan ada kemenangan di atas kekalahan.

Setelah puas dengan perkelahian lalu berdampak pada aksi saling mendiamkan, bisikan alam perlahan menyadarkan dan mengajarkan me-reka makna kerja sama untuk bertahan hidup di tengah kesunyian tanpa bantuan dari manusia lainnya. Pulang tanpa membawa hasil akan mem-buat muka mereka tercoreng sebagai pecundang. Seperti ini terus pun tantangan dari Biyung tak akan berhasil tertuntaskan.

Lalu, mereka pun merancang dan membangun candi bersama-sama. Banar mengerahkan segala kecerdasan otaknya dalam teori tata ruang bangunan, diseimbangkan oleh Kangar yang ahli dalam penguasaan tena-ga yang luar biasa prima. Sesuai dengan permintaan Biyung, candi dibuat tujuh undakan dengan memiliki rongga di tengah―kata Biyung nantinya untuk menyimpan harta yang paling mereka cinta―lalu di bagian atasnya dibangun menyerupai atap rumah dengan di bagian barat dibuat seperti pintu untuk keluar masuk nantinya.

Ketika candi selesai didirikan dengan megah, keduanya bersorai dan berpelukan penuh haru, melupakan permusuhan yang pernah ada. Lalu pulang menjelang petang, berbalut hati bahagia, tak sabar ingin memberi kabar pada Biyung bahwa tantangan telah selesai dan mereka sepakat dengan apa pun keputusan tentang kepemimpinan nantinya. Alam telah mengajarkan mereka satu hal yang seharusnya dimiliki oleh seorang pe-mimpin: kerendahan hati.

Sesampai di istana, kondisi tak lagi sama. Tanpa sepengetahuan mereka, ternyata kewedanaan tetangga menyerang dengan kekuatan pe-nuh. Ratusan penggawa wafat dalam medan perang, menyisakan mayat-mayat bergelimpangan dan lautan darah di segala sudut. Parahnya lagi, Biyung telah mangkat pula di tangan musuh. Murka, Kangar maju berniat untuk membunuh pemimpin pasukan musuh yang kini tengah mendiami singgasana istana. Akan tetapi, serangan sehebat apa pun tanpa perhi-tungan matang tetaplah akan berujung kekalahan.

Banar membawa pergi Kangar yang terluka parah serta jasad Biyung menuju cerang di mana candi telah mereka bangun, karena hanya di situ satu-satunya lokasi aman untuk bersembunyi, meski hanya sementara.

Ingat pesan Biyung bahwa rongga di tengah candi adalah untuk menyimpan harta berharga yang paling mereka cinta, keduanya sepakat untuk menggunakannya sebagai pemakaman sang ibu. Selepas didoa-kan, agar mayat Biyung tak dapat ditemukan oleh siapa pun, jalan masuk menuju rongga candi ditutup menggunakan bebatuan di mana hanya me-reka berdua yang tahu kunci membukanya. Kini candi itu tak ayal menjadi layaknya kelir akan tujuan hidup si kembar: memerangi rasa sesal akan kehilangan harta tercinta demi menjadi manusia yang lebih berharga.

Seraya menunggu Kangar pulih total atas luka-luka yang diderita, Banar menyiapkan strategi perebutan kembali istana milik keluarganya. Mereka berniat untuk membalaskan dendam kematian Biyung, tentu saja dengan cara yang lebih elegan.

Banar menyadari dia tak akan mampu bertahan tanpa bantuan sang adik. Sebaliknya pula, Kangar pun memahami tujuan Biyung mengadakan sayembara pembangunan candi bukankah sebagai ajang pamer keahlian demi menunjukkan siapa yang paling kuat. Karena pada kenyataannya, si kembar akan menguat hanya bila melangkah bersama.

Menuju ke timur, mereka mencari ilmu dan juga mengumpulkan pa-sukan untuk serangan balik. Mereka berjanji bila suatu saat nanti istana berhasil direbut kembali, atau bila takdir memaksa mereka untuk memulai hidup baru dan berjuang merelakan istana milik orang tuanya tersebut diduduki musuh, keduanya akan tetap mempertaruhkan raga dan jiwa demi melayani rakyat, di mana pun mereka tumbuh.

Suatu ketika, setelah bertahun lamanya, beberapa pengembara menemukan adanya candi berdiri begitu gagah di tengah cerang yang biasa mereka sebut sebagai oro-oro. Para pengembara lalu menamainya dengan Candi Klero: candi yang berdiri menyimpan kelir di tengah ham-paran oro-oro.

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.