Legenda Watu Gajah Park #14

Legenda Watu Gajah Park

Oleh : Nirmala Dian Pertiwi

           ‘’Namaku Pangeran Bergas. Seketika aku teringat kembali tentang kejadian bertahun- tahun lalu. Mataku terbelangak tidak percaya bisa-bisanya kepercayaanku ini dihancurkan dengan sekejap mata. Hanya dengan gerakan ringan selendang dan makhluk besar itu. Hampir saja diriku mati tertelan kadal raksasa. Namun pria kekar tersebut berhasil membuatku bertahan. Sungguh aneh dari mana datangnya kekuatan supranatural itu. Aku bersumpah akan merebut segalanya. Beginilah awal mula perkara itu terjadi.

‘’Krek suara pintu terbuka

Siapa kau? aku terkejut.

Uh… tajam sekali bau ini seperti besi berkarat dan bangkai busuk. Hatiku begitu gelisah, lidahku terasa kaku, otakku beku. Aroma itu benar benar menguasai tubuhku, kakiku berusaha menghampiri bau asing menyengat. Tanpa kenal lelah aku terus mengikuti bau menggoda itu hingga jauh dari kerajaan dan berada di hutan, lalu aku menghilang dari kerajaan.’’

***

‘’Rakyatku, setahun lebih Pangeran Bergas anakku, menghilang dari kerajaan. Temukanlah ia kan kuberikan imbalan besar untuk kalian!’’

Begitulah sayembara sang Raja Wringin Putih.

‘’Rama, saya mendapat petunjuk selepas bersemedi. Saya melihat kangmas tewas dimakan kadal liar. Izin kan saya melacak kebenaran mimpi saya tersebut. Gusti menganugerahi saya selendang dan makhluk raksasa gajah untuk membantu menangkal’’ ungkap Pangeran Simpark, adik Pangeran Bergas.

‘’Aku tidak yakin engkau mampu melawan kadal liar’’

Suara raja terdengar penuh tekanan. Pikirannya kacau

‘’ Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari untuk menyelamatkan kangmas. Tenanglah rama, saya akan kembali dengan selamat.’’

***

Pagi hari Pangeran Simpark sudah melakukan perjalanan.

‘’Tubuhku begitu gemetar melewati alas ini. Matahari yang terselimuti embun pagi membuat suasana di sini semakin dingin. Ia menarik nafasnya dalam dalam. Disentuhnya darah kental berbau amis yang menelanjangi indra penciumannya.

‘’Darah apa ini? Mungkinkah milik kangmas? Tak salah lagi pasti kadal ganas itu ada di sekitar sini. Hei, keluarlah kembalikan kangmasku !

 Untuk apa kau ingin melenyapkannya!

Ayo tunjukkan wujudmu. Aku tidak pernah takut padamu.’’

‘’Haha…’’ tiba-tiba terdengar suara gelegar tawa sang kadal

 ‘’Percayalah padaku, kangmasmu justru ingin merampas kekuasaan kerajaan maka tak pantas untuknya bernyawa’’

‘’Kurang ajar’’ ujar Pangeran Simpark

‘’ Hiakkkk….’’ditancapkan pedang ke arah kaki kadal

Pertarungan semakin menantang. Namun apa yang terjdi

‘’Aduh, tolong tolong’’ tiba tiba gigitan makhluk itu membuat Pangeran Simpark berteriak. Dia merasakan sakit yang membakar tangannya. Darah hitam menetes di tanah, darah seorang elemental. Dia memegang lukanya, menekannya,berusaha meringankan pendarahan sambil menahan rasa sakitnya.

Pangeran Bergas terkejut mendengar teriakan manusia yang meminta tolong. Ia bergegas lari menghampiri arah suara itu.

‘’Hei, siapa dirimu aku tak mengenalmu. Karena engkau memakai topeng untuk menutupi wajahmu. Bisakah kau membukanya? Lantas, untuk apa menyelamatkanku? Wahai pria kekar kau bisa celaka.’’ Pangeran Bergas terdiam menatap Pangeran Simpark, adik yang tak dikenalinya itu.

‘’Kangmas, aku sungguh bahagia kau masih hidup. Terimakasih, Gusti. Saat hamba bersemedi Engkau mendatangkan selendang dan gajah untukku maka kabulkanlah semua itu, Gusti’’ Pangeran Simpark mengangkat wajahnya, ingin sekali dilihatnya kedua pemberian dari Gusti itu.Tubuhnya begitu pucat tetapi pangeran simpark yakin sesuatu yang dasyat telah dititipkan alam pada tubuhnya

‘’Kau belum jawab pertanyaanku. Siapakah dirimu? tanya Pangeran Bergas

‘’Kenapa terdiam ? kau tidak ingin menjawabnya? kau juga tak ingin membuka topeng mu? baiklah kau begitu penuh misteri.‘’ Suara Pangeran Bergas penuh rasa ingin tahu.

Tiba-tiba suara gemuruh begitu menggelegar, disertai cahaya misterius di langit. Sorotan cahaya itu ternyata selendang yang didatangkan Gusti dari surga.

Dari arah timur terlihatlah hewan besar menghampiri Pangeran Simpark.

‘’Hewan apa itu, itukah makhluk yang disebut sebagai gajah? baiklah kanku musnahkan kadal dengan kekutan ini!’’ tulang tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai semangat perlawanan Pangeran Simpark. Ia lalu mengibaskan selendang ke arah paras sang kadal, dan sang gajah memutar mutar belalainya seperti baling baling untuk melawan.

Tiba tiba salah satu gading gajah diserang dan digigit oleh kadal. Namun, gajah masih mampu melindungi dirinya. Hingga akhirnya, musnahlah kadal raksasa itu.

‘’Terima kasih beribu ribu terima kasih kau telah menyelamatkanku’’ ungkap Pangeran Simpark bersujud di kaki pahlawannya itu.

‘’Masihkah kau ingin tahu aku? Baiklah, akan aku buka topengku ini. Aku adalah adikmu yang sangat kau benci karena bagimu akulah yang membunuh ibu saat ia melahirkanku.’’

Pangeran Simpark tercengang mendengar ucapan itu. Ia tak menyangka adik yang sangat ia benci itu menyelamatkan nyawanya.

***

Malam begitu tenang mengiringi kedamaian suasana kerajaan. Sayup sayup terdengar suara jangkrik memecah keheningan malam. Disambutlah kedua pangeran itu oleh seisi kerajaan.

‘’Rama bangga sekali padamu. Wahai anakku, Simpark. Anak muda sudah sepantasnya pantang akan rasa takut. Engkau memiliki jiwa pemberani yang hebat. Lantas hewan apakah ini yang kau tunggangi? Tubuhnya begitu aneh, tinggi, besar dan telinganya lebar.’’

‘’Iya aneh’’ ujar kopik

‘’Menakutkan, sepertinya hewan buas,’’ timpal kopag

‘’Jangan jangan itu monster,’’gerutu penduduk kerajaan

‘’Teman teman inilah makhluk yang disebut gajah. Sudah puluhan tahun  tak ada satupun penduduk kerajaan mengenal gajah. Gajah hanya dianggap sebagai binatang yang ada dalam sebuah legenda dongeng saja,’’ jawab Pangeran Simpark

‘’Baiklah, kau sungguh berjasa bagi kerajaanku ini Nak. Sebagai imbalannya kan ku berikan kehormatanku untukmu. Rakyatku, malam ini kuresmikan Pangeran Simpark menggantikan posisiku. Ia akan memegang seluruh kendali kekuasaan kerajaan.’’ dengan lantang Raja Wringin Putih menyampaikan pidatonya.

***

 Bisikan iri Pangeran Bergas mulai menelanjangi otaknya. Sakit yang berdenyut di kepala membuat ia napas terburu buru. Pangeran itu tak siap menerima kenyataan pahit bahwa apa yang dilihatnya bukan lagi sebuah mimpi.

‘’Aku harus merebut segalanya! sungguh tak sudi adikku menjadi raja seharusnya akulah yang berhak mendapat gelar itu. Hei prajurit prajuritku aku perintahkan kepada kalian malam ini bunuhlah gajah itu dan berikan racun kepada simpark agar ia mati.’’

***

Dyar….bunyi tembakan menyalak beberapa kali. Gajah itu merintih kesakitan dan akhirnya terbunuh.

‘’Cepat aduk semen dan pasir itu lalu letakkan di tubuh gajah. Jadikan gajah itu patung,’’perintah Pangeran Bergas.

Tiba-tiba Raja Wringin Putih menghampiri Pangeran Bergas. ‘’Hei, anakku Bergas apa yang kau perbuat? Kau begitu hina, lelaki munafik tak tahu berterima kasih. Adikmu mengorbankan diri untuk menyelamatkanmu, teteapi apa balasanmu justru kau ingin meracuninya? Kau juga membunuh binatang tak berdosa ini! sungguh teganya dirimu. Aku sama sekali tak menyangka!’’

‘’Rama, dengarkanlah penjelasanku dulu, ini tidak seperti yang Rama pikirkan.’’

‘’Omong kosong! prajuritmu membocorkan semua rencana busukmu. Mulai detik ini aku tak sudi menganggapmu sebagai anak. Pergi kau dari sini.’’

Bentak Ayahanda Pangeran Bergas. Akhirnya ia pun pergi dari kerajaan tanpa ada orang yang mempedulikannya.

***

Begitulah kisah Watu Gajah Park, yang ada di Desa Wringin Putih, Kecamatan Bergas. Watu Gajah Park diambil dari kisah gajah yang dibunuh dan dijadikan batu atau patung, park ialah nama dari Pangeran Simpark, sedangkan Desa Wringin Putih nama dari Raja Wringin Putih dan Kecamatan Bergas nama dari Pangeran Bergas

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.