Legenda Rawa Pening #13

LEGENDA RAWA PENING

Oleh : Esti  Yuwono

Malam itu, di Desa Malwapati  terasa lebih senyap dari biasanya. Rintik hujan gerimis dengan hembusan angin yang sepoi-sepoi basah menambah heningnya suasana. Sayup-sayup terdengar lantunan tembang Kinanti yang mengalun merdu dan syahdu. Tembang  yang memecah keheningan malam itu,  dikidungkan oleh seorang wanita paruh baya.

 Nyi  Suketi , demikian ia dipanggil  oleh masyarakat desa Malwapati, sebuah desa yang terletak  antara  lembah gunung Telomoyo dan gunung Merbabu. Nyi Suketi adalah istri seorang brahmana yang bernama Ki Ajar Salokontoro.

          “Ada apa Nyi, kenapa kau kelihatan sedih , apa yang kau pikirkan ?” Tanya Ki  Ajar , saat istrinya menyelesaikan tembangnya.

          “Tidak apa-apa Ki,  aku hanya merasa sepi.  Sudah berpuluh tahun kita berumah tangga namun belum juga punya keturunan”

                      “Sabar Nyi, kita jangan pernah  berhenti memohon kepada Gusti Allah“  Ujar Ki Ajar  sambil membelai rambut Nyi Suketi.

          “Iya Ki, sebagai titah Gusti Allah, kita hanya bisa pasrah.” Ujar Nyi Suketi pelan. Mereka berdua sama-sama terdiam, menerawang dengan lamunannya masing-masing.

Setelah sejenak terdiam, Ki Ajar kembali berkata pada istrinya.                   “Sebagai ikhtiar, maka aku bermaksud pergi ke gunung Telomoyo untuk  bertapa”  Mendengar keinginan Ki Ajar, Nyi Suketi merasa terharu. Tanpa sadar, air matanya menetes.

          Hari demi hari berlalu. Nyi Suketi menjalani hidup sendirian, karena suaminya sedang bertapa di Gunung Telomoyo.  Berkat doa mereka yang tiada henti, akhirnya Nyi Suketi pun bisa hamil.

          Tepat sembilan purnama semenjak mengandung, akhirnya Nyi Suketi melahirkan anaknya.

                      Bagaikan tersambar petir disiang bolong, saat melihat kenyataan bahwa yang dilahirkannya  bukan berwujud bayi manusia, melainkan berwujud seekor ular naga. Ajaibnya, ia bisa berbicara seperti manusia..  

          Meski berwujud Naga, Nyai Suketi tetap merawatnya  dengan penuh kasih sayang. Anak itu diberi nama Baru Klinting

Saat  Baru Klinting beranjak dewasa, Nyi Suketi menceritakan perihal

 Ki Ajar Salokontoro, ayah Baru Klinting yang bertapa di Gunung Telomoyo. Mendengar cerita ibunya, Ia berniat mengunjungi sang ayah di pertapaannya.

Setelah mendapat ijin sang bunda, Baru Klinting berangkat menuju gunung Telomoyo, tempat pertapaan sang ayah. Nyi Suketi membekali Baru Klinting sebuah klintingan, pusaka Ki Ajar Salokontoro yang berbentuk lonceng kecil. Benda itu agar ditunjukkan pada sang ayah agar percaya bahwa ia adalah anaknya.

Sesampainya di pertapaan sang ayah, Baru Klinting merasa sangat sedih. Pelukan sang ayah saat bertemu  yang dibayangkan sebelumnya, hancur berantakan. Ayahnya tidak mau mengakui dirinya sebagai anak, meskipun ia sudah menunjukkan klintingan milik sang ayah. Hatinya perih seperti tersayat sembilu. Hanya karena bentuk dirinya seekor ular naga, ayahnya tidak mau mengakui dirinya sebagai anak. Ia hanya bisa menangis tersedu-sedu.

Mendengar isak tangis Baru Klinting yang tiada henti, KI Ajar Salokontoro pun merasa iba.

“Baiklah, bila engkau ingin ku akui sebagai anakku, maka pergilah bertapa di bukit Batur. Lingkarilah bukit itu. Sampai  mulut dan ekormu bisa bersatu, maka saat itulah engkau akan ku akui sebagai anakku”  Ujar Ki Ajar kepada Baru Klinting.

“Baiklah, Ki. Akan aku laksanakan perintahmu”  Jawab Baru Klinting singkat. Ia pun  menuju bukit Batur yang jaraknya cukup jauh dengan pertapaan Ki Ajar.

Hari demi hari berlalu dengan pasti, tak terasa sudah berbulan-bulan,  Baru Klinting bertapa.  Tubuhnya sudah tidak terlihat lagi, tertutup semak belukar   tumbuh liar.

Sementara itu, di desa Umuk Sedaya, desa terdekat dari bukit Batur  sedang ada pesta rakyat Sedekah Bumi , tradisi yang dilakukan saat  musim panen tiba. Pesta biasanya diadakan tiga hari tiga malam berturut-turut.

Pada hari kedua, persediaan makanan  semakin menipis.  Untuk suguhan pada hari ketiga, para warga sepakat untuk berburu binatang, di semak-semak sekitar  bukit Batur. Para pria dewasa, semuanya ikut berburu. 

“Crash, crash….” Sabit salah seorang warga menyentuh barang lunak. Bersamaan dengan itu, keluar cairan berwarna merah.  Setelah dilihat secara seksama ternyata adalah darah. Orang itupun berteriak memanggil warga lainnya.  Ketika mengetahui bahwa darah itu berasal dari seekor ular naga, maka warga beramai-ramai memotong daging ular untuk dijadikan suguhan pada pesta rakyat.  Ular naga tersebut tak lain adalah Baru Klinting  yang sedang bertapa.

Pesta rakyat pun semakin meriah. Para penduduk bersukacita, karena persediaan daging untuk esoknya sudah ada.

Di tengah keramain orang yang berpesta pora, terlihat sesosok anak kecil yang kurus, kusut dan kusam.  Disekujur tubuhnya penuh luka yang sudah menjadi koreng .  Bau amis dari nanah yang meleleh pada lukanya, akan membuat orang didekatnya merasa jijik dan mual. Bocah yang terlihat kelaparan itu, meminta makanan pada orang-orang yang sedang berpesta. Tak ada  yang mau memberi makanan padanya  barang secuilpun. Bahkan ia dibentak-bentak dan diusir.

“ Hai bocah bau  pergi kau dari sini !. kamu telah merusak selera makanku!” Hardik para warga yang dimintai makanan bocah tersebut. Karena tak ada yang mau memberi makanan, bocah kurus itu berjalan sempoyongan menjauhi keramaian.

Ada sepasang mata, yang mengamati gerak-gerik bocah itu dari awal kedatangannya sampai meninggalkan keramaian.  Sepasang mata dari seorang wanita tua yang sudah penuh keriput. Wanita tua itu, menghampiri si bocah yang berjalan sempoyongan karena kelaparan.

Ngger. Kau kelihatan sangat lapar, kalau kau mau mari kerumahku. Disana ada sedikit makanan yang bisa mengisi perutmu yang kosong” Sapa sang nenek kepada bocah itu.

“Terima kasih, Nyai. Aku memang sangat lapar, karena perutku kosong” Jawab bocah itu dengan mata berbinar. Merekapun berjalan beriringan menuju rumah sang nenek.

Setelah anak itu makan sampai kenyang pemberiaan sang nenek, Ia pun pamit untuk kembali ke pesta rakyat yang masing berlangsung.

“Aku Baru Klinting, mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu. Hanya engkau satu-satunya orang di desa ini  yang peduli padaku. Kalau boleh tahu siapa nama nenek ?”  Ucap anak itu yang ternyata jelmaan Naga Baru Klinting itu.

“Namaku Nyi Lantung”  Jawab sang nenek singkat. 

“Baiklah Nyi, aku akan pergi ke pesta itu lagi. Ingatlah pesanku. Bila nanti ada suara gemuruh dan angin bertiup kencang, segeralah Nyi Lantung naik ke lesung”  Kata anak itu pada Nyi Lantung.

“Baiklah, ngger . Akan kuingat  pesanmu itu” Jawab Nyi Lantung.

Anak jelmaan Baru Klinting itupun pergi menuju keramain pesta rakyat yang masih berlangsung.

Suasana pesta rakyat masih terlihat meriah.. Baru Klinting mencari tempat yang sepi, iapun duduk bersila sambil kedua tangannya menengadah ke atas. Matanya terpenjam, mulutnya komat-kamit. Tiba-tiba ada sesuatu yang melesat dari langit menuju ke arah  Baru Klinting.

 

 

 

Benda yang melesat itu  langsung ditangkap Baru Klinting. Tangan kirinya memegang kantung kecil yang berisi  kepingan uang emas. Sedangkan tangan kanannya memegang sebatang  lidi yang tebal dan kuat. Setelah memegang kedua benda tersebut, Baru Klinting masuk dalam keramaian pesta.

“Wahai warga umuk sedaya, barang siapa dapat mencabut lidi yang kutancapkan ini, maka  akan kuberikan sekantung uang emas ini sebagai  hadiah !”  Teriak Baru Klinting.

Semua orang yang mendengar, terperangah melihat sekantung emas sebagai hadiah untuk sayembara semudah itu, hanya dengan mencabut sebatang lidi.  Merekapun berbondong-bondong  menuju tempat Baru Klinting menancapkan lidi. Saling berebut  untuk menjadi yang pertama mencabut lidi, membuat suasana semakin gaduh.  

Satu persatu yang mencoba,  dari anak-anak sampai orang dewasa tidak ada yang mampu mencabut lidi itu.  Akhirnya  merekapun menyerah.

“Kami tidak bisa mencabut lidi ini. Coba kau cabut kalau kau  mampu” teriak mereka.

Baru Klinting berjalan menuju lidi yang ditancapkannya. Ia menengadahkan tangan sambil berkomat-kamit. Setelah selesai ia langsung mencabut lidi yang tertancap itu. berbarengan dengan tercabutnya lidi itu, angin bergemuruh, petir mengglegar.    

Bekas lidi yang di cabut  keluar air yang sangat deras dan berlimpah sehingga menggenangi desa itu . 

Genangan air yang menenggelamkan seluruh desa itu menjadi sebuah telaga, yang dikenal sebagai Rawa Pening yang artinya  telaga yang bening.

Hanya Nyai Lantung yang selamat, karena Ia naik di atas lesung, seperti yang diperintahkan Baru Klinting padanya.

Nyai Lantung selamat karena buah dari perbuatannya yang mau menolong sesama tanpa membeda-bedakan.  Hatinya  jernih sebening air di Rawa Pening.

Cerita tentang kisah terjadinya rawa pening masih menjadi legenda turun temurun sampai sekarang.  Oleh masyarakat, masih dipercaya bahwa   Baru Klinting   masih hidup dengan wujud  seekor ular yang menjaga Rawa Pening.

Bahkan untuk menghormati legenda tersebut, warga sekitar masih rutin menggelar acara ritual larung sesaji setiap tahun sekali. (Selesai)

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.