SEDEKAH RAWA #11

SEDEKAH RAWA

Oleh: Mahfud Fauzi, S.Sn

 

Air bah masih saja keluar dengan derasnya dibekas lubang tercabutnya lidi sakti milik seorang anak gempal, pendek, dan buruk rupa bernama Baruklinting. Hari berganti hari, minggu berganti menjadi bulan, Padukuhan Patok. Hiruk-pikuk dan keceriaan pancaran air bukannya surut tetapi bertambah kuat dan menenggelamkan masyarakat menyambut hajatan memetri padukuhan berubah menjadi teriakan dan jeritan minta tolong. Keangkuhan dan kesombongan telah menjadi sebab turunnya malapetaka dari Sang Hyang Widi, Tuhan penguasa alam semesta.

Deretan rumah nan indah khas masyarakat pedukuhan, kebun-kebun dan persawahan yang hijau telah hilang tenggelam menjadi hamparan air.  Wilayah yang dulu berbatasan dengan Dukuh Patok mulai terancam. Kepala pedukuhan, tokoh adat dan masyarakat mulai resah dengan  malapetaka yang seolah tiada akhir. Berkali-kali ikhtiar dan doa dipanjatkan, ritual adat, sesaji dan arak-arakan dilaksanakan agar harmonisasi alam segera terwujud. Namun demikian alam seolah belum mau memunculkan sang mentari dari peraduannya, guntur masih saling bersautan, air hujan seolah tercurah dari langit tanpa ada habisnya diiringi kilatan petir yang sambar-menyambar, sementara dari pusat semburan, air begitu derasnya keluar dari perut bumi.

Tepat satu bulan setelah dimulainya ikhtiar yang pertama gagal yang diikuti dengan ikhtiar-ikhtiar lain, atas inisiatif sesepuh Pedukuhan Ganjar, para kepala wilayah, tokoh adat dan masyarakat dikumpulkan. Sesepuh yang sangat  dihormati  tersebut  kemudian  membuka  pembicaraan, ”Para kepala

Padukuhan, tokoh adat, dan masyarakat yang hadir saat ini, musibah yang kita semua hadapi ini adalah buah dari perilaku kita, kita harus instropeksi dan berbesar hati menerima ini dengan lapang dada. Namun demikian kita semua juga harus berikhtiar disertai doa dan pengharapan yang besar agar malapetaka ini bisa kita lalui bersama dan membawa kebaikan dihari kemudian.”

Kepala  Padukuhan  Muncul  kemudian  menjawab, “Kek,  kita  semua  telah

berusaha dengan sekuat  tenaga disertai doa dan puja-puji kepada Sang Hyang Widi, tetapi tetap saja musibah ini belum juga berakhir.”

Sesepuh   padukuhan   Ganjar  mengangguk-angguk  dan  kembali    berkata,

”Nak,  Kepala  Padukuhan Kasan, cobalah engkau ke Utara di sisi lain rawa ini, carilah seorang nenek yang tinggal disana. Nenek tersebut bernama Nyai Lembah, dialah yang selamat dari malapetaka semburan air bah yang membentuk rawa ini. Mintalah saran kepada beliau atau bila memungkinkan ajaklah kemari. Mudah-mudahan ada titik terang dari usahamu ini.”

“Baiklah Kek, besuk pagi saya akan berangkat, “ jawab Kepala Padukuhan Kasan.

            Keesokan harinya, kepala padukuhan dengan ditemani beberapa pemuda berangkat mencari sosok nenek seperti yang digambarkan sesepuhnya. Setengah hari perjalanan berlalu dengan cepat, rasa lelah dan kepayahan tidak dirasakan rombongan demi maksud dan niatan suci ingin segera menemukan sang nenek dan mendapat jalan keluar dari permasalahan besar yang dialami masyarakatnya.

Singkat cerita, rombongan tersebut berhasil menemukan sang nenek.

“Selamat siang Nek, perkenalkan saya Kepala Padukuhan Kasan beserta rombongan bermaksud menemui nenek yang bernama Nyai Lembah, apakah nenek mengetahui keberadaannya?” Tanya kepala dukuh.

“Silahkan masuk Nak,” jawab Nyai Lembah.

“Akulah Nyai Lembah, Aku sudah menunggu kedatanganmu, Aku tau maksud kedatanganmu. Ada sebab ada akibat, kita manusia diwajibkan berusaha bersungguh-sungguh berikhtiar dilambari doa dan pengharapan agar kejadian ini cepat berakhir,” lanjut Nyai Lembah.

“Pulanglah, ajaklah seluruh masyarakat bersama-sama menyiapkan sebuah tumpeng yang nanti akan dilarung ke tengah rawa. Tumpeng tersebut berisi tumpeng agung, nasi ponco warno, nasi megono, nasi asahan, biji kedelai. jajanan pasar, dawet ayu, kinang ayu, uang, tebu hitam, padi dengan rumpunnya satu dapur, dan obor di keempat sisinya. Masing-masing padukuhan harus menyiapkannya. Pada hari ketiga besuk bertepatan dengan hari ke 21 bulan Sura setelah malam menjelang, kirablah tumpeng dari masing-masing padukuhan tersebut bersama-sama masyarakat ke sisi Selatan rawa diperbukitan yang ditumbuhi pohon-pohon pinus dan jambe kembar. Aku akan menunggu disana,” kembali Nyai Lembah memberi petuahnya.

“Baiklah Nek, kami akan mempersiapkan apa yang Nenek arahkan. Kami mohon pamit,” kata kepala dukuh dengan mantab.

Rombongan kepala dukuh telah pulang dengan selamat dan segera saja menyampaikan hasil pertemuannya dengan Nyai Lembah. Atas perintah dan arahan kepala padukuhan, masyarakat di Padukuhan Ganjar, Kasan, Muncul, Dukuh, Dowo dan padukuhan lain segera mempersiapkan diri. Tepat hari ketiga sesuai dengan arahan Nyai Lembah, kirab tumpeng diarak bersama-sama masyarakat ke bukit sisi Selatan rawa. Setelah tumpeng dari masing-masing padukuhan dan masyarakat berkumpul, Suasana menjadi sangat hikmad ketika Nyai lembah mulai memimpin doa kepada Sang Hyang Widi Tuhan Yang Maha Esa dengan Kidung Labuh Agung Rowo dan dilanjutkan dengan pembacaan Rajah Kolo Cokro. Selesai pembacaan doa, bersama-sama masyarakat tumpeng tersebut di larung ke tengah rawa.

            Suasana mulai hening, hujan berangsur-angsur menghilang, kilat dan guntur sudah tidak terdengar, bintang satu dua sudah mulai berani menampakkan diri. Merasakan perubahan alam tersebut, masyarakat saling tersenyum, berpelukan dan mengucap syukur.

Kepala Padukuhan Ndowo yang sejak tadi berdiri di belakang Nyai Lembah memberanikan diri membuka pembicaraan,  “Nyai Lembah, kami masyarakat

di sekitar rawa ini benar-benar berhutang budi kepada Nyai. Atas nama masyarakat, kami hanya bisa berterima kasih atas apa yang telah Nyai perbuat. Kami berharap agar Nyai bisa memberi wejangan dan ilmu sebagai tinggalan agar nantinya musibah yang menimpa kami ini tidak terulang kembali.”

Nyai Lembah kemudian menjawab, ”Masyarakat sekitar rawa, lestarikanlah sedekah dan larungan ini karena kegiatan ini adalah harmonisasi alam dan wujud syukur kepada Tuhan atas nikmat yang diberikan kepada kalian. Sedekah ini bukan perwujudan kita menyembah sesama makhluk atau alam tapi hanya perlambang saja.”

Nyai   Lembah   kembali   melanjutkan    wejangannya, ”tumpeng agung yang

tadi dilarung  itu perlambang niat dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Agung, macam-macam jenis dalam tumpeng itu juga perlambang.”

“Nasi panco warno melambangkan kehidupan setiap manusia berbeda-beda sesuai dengan kodrat dan wataknya.”

“Nasi megono merupakan simbolisasi dari masyarakat yang mengeluarkan sesaji semoga tetap mempunyai rejeki.”

“Nasi asahan adalah perlambang dari memberi hormat kepada leluhur dengan memohon restu biar selamat.”

“Jajanan pasar juga merupakan perlambang, aktifitas pasar ibarat dunia, sedangkan jajanan ibarat hasil dari perbuatan.”

“Biji kedelai mengandung maksud semua manusia menjalani hidup menurut imannya sendiri-sendiri.”

Nyai  Lembah  mengambil  nafas  dalam-dalam, dan melanjutkan penjelasan,

“Dawet  ayu  merupakan  perlambang  hormat  dengan  sesama makhluk.

`Kinang ayu adalah perlambang silaturahmi dapat mndatangkan manfaat.

Uang, merupakan perlambang hidup merupakan perintah Tuhan, harus berani berkorban demi mendapatkan ilmu yang sejati.”

“Obor adalah sebuah permulaan. Setiap manusia membutuhkan petunjuk, seperti matahari yang menyinari alam tanpa membeda-bedakan, demikian juga seharusnya manusia berperilaku.”

“Padi satu dapur adalah perlambang kemakmuran.”

Kembali  Nyai Lembah  berhenti sejenak, kemudian melanjutkan ucapannya,

“Rawa dan semua makhluk yang ada di dalamnya juga ciptaan Tuhan, perlakukan mereka dengan bijaksana, karena mereka akan memberikan manfaat yang tidak terkira untukmu. Air rawa ini akan mengairi dan menyuburkan setiap persawahan di pedukuhan ini, ikan dan semua yang dihasilkan dari rawa ini akan memakmurkan masyarakat sekitar. Kelak tempat ini akan dikunjungi banyak orang karena keindahannya.”

Para sesepuh,,kepala padukuhan, dan masyarakat yang hadir dalam kegiatan sakral tersebut mengangguk-angguk berusaha mencerna setiap ucapan Nyai Lembah. Ada keyakinan yang mantab dalah hati bahwa bila manusia dapat harmonis dengan alam maka alampun akan memberikan hasilnya kepada manusia, sebalikya bila manusia angkuh, semena-mena dan merusak alam, alampun akan rusak dan mengakibatkan malapetaka buat manusia itu sendiri.

Sesepuh Padukuhan Ganjar sebagai orang yang dituakan kemudian berucap,

“Nyai, setiap  wejangan yang  engkau berikan  akan kami patuhi dan akan kami teruskan kepada anak cucu kami. Semoga hari ini menjadi awal yang baik bagi kami. Sebagai tetenger, sudilah kiranya Nyai memberi penanda bagi kami tentang rawa ini dan kegiatan yang kami lakukan saat ini.”

Nyai  Lembah  tersenyum  sambil  berkata, ”Rawa  ini  aku  beri  nama  Rawa

Pening sebagai pengingat bahwa kalian semua pernah dibuat pening karena kedahsyatan diawal terbentuknya rawa. Kegiatan kalian ini dan nanti setelahnya kunamai Sedekah Rawa. Laksanakanlah setiap tanggal 21 Sura, libatkanlah semua masyarakat, hiasi dan perindah setiap kegiatan dan jangan lupa tetap berdoa memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kalian mendapat manfaat dari berkah karena pada dasarnya kebaikan itu tidak ada yang sia-sia.”

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.