Watu Baru Klinting #10

“Watu Baru Klinting”

Oleh: Lilik Nurcholis

Alkisah, Rawa Pening terjadi karena air yang keluar dari lubang bekas sayembara mencabut lidi yang ditancapkan ke tanah oleh anak dekil bernama Baru Klinting. Baru Klinting adalah jelmaan ular yang gagal  melingkari Gunung Telamaya karena kurang satu jengkal sebagai syarat pengakuan sang ayah kepadanya setelah melakukan perjalanan dari lereng Gunung Ungaran tempat dia tinggal bersama ibunya. Kekurangan tersebut disambung dengan lidah sang ular, lalu lidahnya dipotong oleh sang ayah. Sebagai tanda kesetiaan sang ular tetap berdiam di tempat sampai ditumbuhi lumut dan secara tidak sengaja terpotong oleh senjata tajam masyarakat desa yang sedang beristirahat sambil memakan sirih dalam pencarian hewan buruan di lereng Gunung Telamaya untuk keperluan “Kadesa”.

Saat baru klinting melakukan perjalanan dari lereng Gunung Ungaran menuju lereng Gunung Telamaya mencari ayahnya, Ki Hajar Salokantara yang sedang bertapa di sebuah pertapaan di lereng Gunung Telamaya meninggalkan beberapa jejak perjalanan dan peristiwa. Jejak perjalanan yang dipercaya oleh masyarakat adalah Kali Panjang yang membelah Kota Ambarawa terbentang dari hulu sungai di Dusun Ngipik, Desa Candi lereng Gunung Ungaran dan bermuara di Kelurahan Bejalen tepi Rawa Pening sebelah barat. Jejak dan kisah lainnya berada di Kelurahan Baran yang di lewati Kali Panjang.

Setelah melakukan perjalan setengah hari dari pesanggrahan tempat Baru Klinting tinggal bersama ibunya, sampailah dia di sebuah lembah Gumuk  Nggugon (bukit kecil). Saat itu matahari sudah berada tepat di atas tubuhnya pertanda sudah memasuki tengah hari. Sebagai mana biasa, orang-orang desa beristirahat bekerja saat tengah hari tiba. Demikian juga pesan dari sang ibunda, “Nak, jika nanti matahari sudah tepat di atas tubuhmu itu pertanda tengah hari yang berarti kamu sudah setengah hari berjalan, maka istirahatlah kamu sejenak saat itu”.  Selain itu, ibundanya juga berpesan untuk tidak mengganggu manusia yang ditemui apa lagi memangsanya.

“Nak, ingat baik-baik pesan ibu!”

“Iya ibunda”, sahut Si Klinting.

“Kamu sesungguhnya adalah manusia yang baru diuji kesabaranmu oleh dewa sehingga berwujud ular, maka kamu tidak boleh sekali-kali menganggu manusia apalagi memangsanya!”, lanjut sang ibu.

Si Klinting menjulur-julurkan lidahnya pertanda paham akan nasehat ibunya. Sambil mengelus-elus kepala Si Klinting ibunya melanjutkan nasehatnya, “Jika kamu memangsa manusia, maka kamu selamanya akan menjadi ular nak”. Si Klinting mengangkat kepalanya lalu menggosok-gosokannya ke wajah sang ibu tanda rasa sayang dan keinginannya segera menjadi manusia seperti ibu dan ayahnya. Dengan restu ibunya Si Klinting pun segera beranjak pergi mencari sang ayah seperti diceritakan ibunya semalam.

Berujud ular adalah ujian kesabaran bagi Si Klinting, tidak boleh memanggsa manusia meskipun dalam keadaan sangat lapar adalah ujian berikutnya sebelum ujian yang lebih berat lagi  yaitu tidak diakui oleh Ki Hajar Salokantara sebagai anaknya karena tidak mampu melingkari Gunung Telamaya. Maka, saat Baru Klinting beristirahat bersamaan dengan para petani pulang ke rumah untuk istirahat dia tidak berani mengganggu apalagi memangsanya walau perutnya sudah terasa lapar. Karena waktu istirahat tersebut bertepatan dengan bunyi bedug yang ditabuh pertanda memasukki waktu sholat dluhur dan pertanda itu juga yang dipakai oleh para petani untuk istirahat atau mengukur lamanya bekerja, maka tempat istirahat Baru Klinting tersebut kemudian diberi nama “Sebedug”. Artinya, telah menempuh perjalanan setengah hari.

Sambil melingkarkan tubuhnya di bawah pohon yang rindang Baru Klinting membayangkan kebahagiaan bersama ayah dan ibunya saat dia berubah wujud menjadi manusia sebagai mana dia saksikan kebahagiaan anak-anak di sekitar padepokan bersama ayah dan ibunya.

“Betapa bahagianya aku nanti dapat bersama ayah dan ibu menjalani hari-hari. Dengan ayah aku bisa mengadu dan dengan ibu aku bisa berkeluh kesah. Tidak seperti saat ini, hanya dengan ibu dan jauh dari keramaian aku menjani hari-hari. Tidak bisa bermain-main dengan teman-teman sebayaku,” gumam Si Klinting sendiri.

Tiba-tiba Baru Klinting dikejutkan teriakan ayam hutan yang takut terhadap dirinya sebagai peringatan bagi keluarga ayam hutan bahwa ada bahaya yang mengancamnya. Baru Klinting beranjak untuk meneruskan perjalanan. Tempat yang digunakan beristirahat Baru Klinting membekas menjadi sungai yang bercabang melingkari tanah di tengahnya.

Setelah beristirahat sejenak, Si Klinting melanjutkan perjalanan menyusuri lembah Gumuk Nggugon dan sampailah di sebuah tempat yang terhalang batu tinggi besar. Si Klinting bersusah payah untuk melewati batu itu karena saking besarnya.  Dengan meminta restu ibunya Dewi Endang Sawitri, Si Kliting berdesis ,“Ibu tolonglah anakmu untuk bisa melewati batu ini demi keinginanku bertemu dengan ayah!” Seketika batu yang dilewati Si Klinting ambles ke dalam tanah. Konon  amblesnya batu mendorong  tanah sampai ke daerah Grabag dan muncullah menjadi Gunung Andong. Batu yang ambles tinggal sebesar lumbung padi yang terlihat dan terdapat goresan yang menyerupai sisik ular yang dipercaya oleh masyarakat setempat merupakan “tapak” (jejak) Baru Klinting. Masyarakat setempat menyebut batu tersebut dengan sebutan “Watu Baru Klinting”. Masyarakat setempat percaya ada hubungan mistis antara “Watu Baru Klinting” dengan Gunung Andong di Grabag.

Setelah melewati batu besar, menjelang asar sampailah Si Klinting di sebuah lembah di mana di sana terdapat beberapa hewan gembalaan seperti kambing, kerbau dan sapi. Sang gembala sedang asyik bermain-main sambil menanti senja tiba saatnya merekan menggiring pulang hewan gembalaan. Tanpa disadari oleh sang penggemala, Si Klinting memangsa bulat-bulat seekor sapi karena laparnya. Karena itu,tempat tersebut di namai “Selembu” yang artinya seekor sapi. Setelah memangsa seekor sapi, Si Kliting melanjutkan perjalanannya dalam pencarian sang ayah.

Sampai saat ini, tempat-tempat yang dilewati Baru Klinting tersebut masih dapat dijumpai, “Sebedug”,  “Watu Baru Klinting” dan “Selembu”  merupakan wilayah sepanjang Kali Panjang di Kelurahan Baran. Sebedug terletak di tepi selatan Dusun Gembongan, “Watu Baru Klinting”  masih dapat dilihat dan jelas terlihat relief seperti sisik bekas jejak ular yang berlokasi di tepi selatan Dusun Dukuh Kidul, dan “Selembu” berada di Dusun Gembyang yang kesemuanya masuk kelurahan Baran.

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.