Legenda Curug Semirang #8

Legenda Curug Semirang

Oleh : Inni Inayati Istiana, S.S, M.Hum

Curug Semirang atau yang biasa dikenal dengan Air Terjun Semirang merupakan salah satu tempat wisata alam yang terletak di lereng Gunung Ungaran bagian utara, tepatnya di Dusun Gintungan, Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Menurut cerita, penamaan curug tercipta akibat suatu peristiwa yang telah terjadi di tempat tersebut. Peristiwa apakah itu? Berikut kisahnya dalam cerita Legenda Curug Semirang.

Alkisah, pada zaman dahulu, tinggallah seorang pendeta dengan kedua muridnya. Mereka tinggal di sebelah timur lereng Gunung Ungaran. Sang pendeta bernama Resi Ajar sedangkan kedua muridnya bernama Sraya dan Sari. Pada suatu malam, dipanggillah Sraya dan Sari untuk datang menghadap sang Resi.

Ngger  Sraya dan Sari, tahukah kalian mengapa kupanggil kemari?” tanya sang Resi kepada keduanya.

 “Ada hal penting yang akan kusampaikan,” kata sang Resi perlahan.

 “Aku ingin menghabiskan sisa hidupku untuk berdarmabakti kepada sesama. Oleh karena itu, sebelum aku pergi, aku ingin kalian menikah agar keberlangsungan padepokan ini tetap terjaga,” lanjut sang Resi.

Sraya dan Sari hanya bisa saling berpandangan mendengar permintaan sang Resi. Mereka tidak berani membantah permintaan sang Resi. Malam itu juga, keduanya hanya bisa pasrah ketika dinikahkan oleh Resi Ajar. Sebelum sang Resi pergi, ia menyampaikan pesan kepada keduanya.

 “Dengarkan baik-baik, sepeninggalku kelak, ketika bulan purnama, berangkatlah Engkau, Sraya, ke arah barat dari tempat ini. Carilah bunga Kalakecika dan Lanceng Putih. Teguhkan tekadmu meskipun harus melalui berbagai rintangan. Jika Kau berhasil meraihnya, niscaya Kau akan memeroleh kehidupan yang lebih baik,” demikian pesan yang diucapkan sang Resi.

 “Baiklah Resi, Saya berjanji akan melaksanakan perintah Resi,“ sahut Sraya dengan kepala yang masih tertunduk.

“Selain itu, Sraya. Aku juga menitipkan Sari kepadamu. Hiduplah kalian sebagai pasangan suami-istri. Sejatinya, Sari merupakan putriku sendiri bersama Lokandi,” penjelasan Resi Ajar terhenti. Pikirannya melayang kepada bayangan Lokandi, mendiang istri yang sangat dicintainya.

Mendengar pernyataan Resi Ajar, Sari tidak kuasa membendung perasaannya. Sontak ia pun memeluk sang Resi sekaligus ayah kandungnya itu. Namun sayang, seketika itu pulalah Resi Ajar moksa.

Sepeninggal Resi Ajar, mereka berdua hidup rukun sebagai suami istri. Setiap hari, suami istri itu bahu-membahu merawat padepokan peninggalan Resi Ajar. Suatu ketika, setelah pulang dari berburu, Sraya menemukan Sari diam termenung di beranda padepokan.

“Sari, tampaknya Engkau sedang memikirkan sesuatu?” ujar Sraya.

“Iya, Kakang. Kakang tentunya masih mengingat pesan Ayahanda tentang Kalakecika dan Lanceng Putih?” kata Sari seraya memandang ke arah suaminya.

“Iya, aku selalu ingat. Aku berjanji melaksanakan perintah guru. Namun, sampai sekarang, belum kutunaikan juga. Aku masih belum tega meninggalkanmu seorang diri.  Akan tetapi, kita harus mematuhi perintah guru yang sekaligus Ayahanda kita. Baiklah, Sari, aku merasa inilah waktu yang tepat jika aku harus pergi. Ketika malam bulan purnama tiba, aku akan segera berangkat. Jaga dirimu baik-baik, ya,“ kata Sraya.

Malam bulan purnama pun tiba, Sraya berpamitan kepada istrinya dengan perasaan berat hati. Sraya segera menuju ke arah barat, seperti yang telah diperintahkan sang Resi. Sraya menyusuri lembah demi lembah. Ia berjalan tidak kenal lelah. Menjelang matahari terbit, sampailah Sraya di suatu tempat yang sangat sepi. Ia berhenti karena di depannya menjulang sebuah tebing yang tinggi. Mulailah Sraya mencoba mendaki tebing itu dari sebelah utara dengan susah payah. Malam harinya, sampailah Sraya di puncak bukit. Ia bersemadi untuk mendapatkan petunjuk tentang sesuatu yang sedang dicari. Dalam semadinya, ia seolah berada di alam kehidupan yang lain. Ada seekor kera berkepala anjing menyerangnya dengan ganas. Sraya berusaha mengelak dan melakukan perlawanan. Berkat ilmu yang didapatkan dari sang Pendeta, binatang aneh itu dapat dikalahkan. Bersamaan dengan peristiwa itu, Sraya seperti mendengar suara petunjuk gaib yang memberitahukan keberadaan Kalakecika di sebuah air terjun. Adapun Lanceng Putih harus dicari ke arah timur di sebuah air terjun yang lain pula. Seketika itu, Sraya tersadar dari semadinya.

Selanjutnya, Sraya menuju ke arah timur, berhari-hari, berminggu-minggu. Bahkan, berbulan-bulan, ia berjalan melalui berbagai rintangan. Suatu siang, Sraya sampai di suatu lembah yang cukup landai, terdengarlah suara gemericik air. Ia pun menuju ke arah suara air itu. Tidak lama kemudian, terlihatlah air terjun yang tinggi dari suatu tebing. Berdasarkan petunjuk gaib yang diterima, Sraya menuju tengah tebing itu dengan hati-hati. Akhirnya, ia berhasil mendapatkan Lanceng Putih yang masih ada di sarangnya. Sraya melanjutkan perjalanan melalui bukit lain ke arah timur.

Sementara Sraya sedang dalam pengembaraannya, Sari masih setia menunggu kedatangan suaminya di padepokan. Hingga pada suatu malam, Sari didatangi jin Barok yang menyamar menjadi manusia. Kedatangan jin Barok itu bermaksud meminang Sari atas perintah rajanya.

“Maaf, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu. Aku sudah bersuami,” ujar Sari tegas.

Mendengar penolakan Sari, jin Barok tidak mau menyerah begitu saja. Ia tidak mau pulang tanpa membawa hasil. Barok berusaha memaksa Sari untuk ikut bersamanya. Namun, Sari tetap menolak dan berusaha melawan. Sari berusaha meloloskan diri. Barok pun terus mengejarnya. Hingga sampailah Sari di sebuah lereng bukit yang terputus dari lereng bukit yang lainnya. Terdesak oleh keadaan ini, Sari melepaskan kendit yang melilit perutnya kemudian melemparkan ke lereng bukit seberang. Seketika itu juga, kendit milik Sari berubah menjadi jembatan yang dapat menghubungkan kedua bukit sehingga Sari dapat selamat sampai ke seberang. Sari terus berlari menyelamatkan diri. Namun malang, kain jarik yang dikenakan Sari, berhasil diraih oleh Barok. Kain jarik itu terlepas dari tubuh Sari dan ia pun terjatuh. Sari segera beringsut dari tempat itu. Tanpa mempedulikan kain jarik yang sudah terlepas dari tubuhnya, ia segera mengambil langkah seribu. Namun malang, Sari terjerumus ke sebuah lembah air terjun sehingga tubuhnya tidak terlihat oleh Barok. Barok pun kehilangan jejak dan mengamuk sejadi-jadinya. Ia merusak apapun yang menghalangi jalannya.

Sementara itu, tampak dari arah kejauhan, Barok melihat sosok laki-laki sedang berjalan ke arahnya. Orang itu tidak lain adalah Sraya. Jin itu lantas melampiaskan kemarahannya kepada Sraya. Keduanya terlibat perkelahian sengit. Namun, pada akhirnya perkelahian itu dimenangi Sraya karena ia memiliki ilmu yang jauh lebih hebat. Sraya kemudian berjalan menuju ke lembah air terjun. Sesampainya di tempat tujuan, ia terkejut melihat sosok perempuan yang berendam dalam sendang sedang menangis. Wajahnya ditutupi dengan kedua telapak tangannya.

“Maaf, siapakah Kau? Mengapa Kau bisa berada di tempat ini?” tanya Sraya dengan wajah penuh keheranan.

Sari pun terkejut mendengar suara yang begitu dikenalnya. Perlahan-lahan, ia membuka kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya. Wajah cantik perempuan itu mulai terlihat. Jantung Sraya berdegup kencang.

“Oh, Sari. Kaukah itu? Mengapa Kau berada di sini? Apakah yang terjadi?” ujar Sraya.

“Betul, Kakang. Ini aku, Sari,” jawab perempuan itu.

Sraya segera mengambil pakaian yang ada di buntel miliknya. Ia mendekat ke arah Sari dan memberikan pakaian tersebut. Sembari memakai pakaian itu, Sari menceritakan peristiwa yang dialami.

“Sungguh, Kanda tidak menyangka, kita dipertemukan di tempat ini. Sekarang marilah kita bersemadi, memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk mendapatkan bunga Kalakacika,” kata Sraya.

Setelah beberapa waktu mereka bersemadi, keduanya berhasil mendapatkan bunga Kalakacika. Konon, bunga itu berisi belalang. Apabila bunga itu mekar maka berloncatanlah binatang itu ke air terjun. Kalakacika mengandung makna ‘masa yang indah akan datang, jika penghalang (disimbolkan dengan belalang) itu pergi’. Sampai sekarang, air terjun tempat ditemukannya bunga Kalakacika terkenal dengan nama “Semirang”, berasal dari kata wirang yang berarti ‘malu’ karena Sari sampai ke tempat tersebut dalam keadaan terlepas kain jariknya. Adapun jembatan yang berasal dari kendit milik Sari dikenal dengan nama “Banjaran Simbar”. Lokasi pertemuan antara utusan jin (Barok) dengan Sraya hingga sekarang disebut “Sentana Layu”, yaitu dari kata sentana yang berarti ‘utusan’ dan mlayu yang berarti ‘lari’, artinya ‘seorang utusan yang lari (mlayu)’.

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *