Cacing Tanah, Burung yang Sayapnya Cacat Sebelah, dan Pemuda yang Selalu Menangis tanpa Lelah #7

Cacing Tanah, Burung yang Sayapnya Cacat Sebelah, dan Pemuda yang Selalu Menangis tanpa Lelah

Oleh : Farezha Ray

Warga desa memanggilnya Si Sulung. Bocah delapan tahun yang memiliki kelainan sejak lahir―tak seperti kawan laki-laki seumuran yang begitu semringah bermain: meriam bambu, layangan, gasing, jedoran, gatrik, gobak sodor, egrang, setinan, atau cublak-cublak suweng di luar rumah―dikarenakan seluruh waktu dia habiskan di dalam rumah: bangun tidur, lalu makan, bersua bomoh, membuat coretan-coretan tidak jelas di dinding-dinding kayu pada sepenjuru rumah, tidur, bermimpi buruk sampai teriak-teriak memekakkan telinga Bopo Biyung beserta seluruh batur yang bekerja, kemudian bangun tidur; begitu seterusnya, tiap hari, tiap minggu, tiap tahun.

Kelahiran Si Sulung sesungguhnya menjadi momen yang dinantikan keluarga bahkan seluruh desa, sebagai pewaris takhta kekuasaan dan juga calon pemimpin tangguh di masa depan. Sayangnya, sewaktu Biyung mengandung Si Sulung, Bopo melanggar wejangan bomoh: tak boleh menyiksa apalagi membunuh binatang yang berkeliaran di sekitar rumah, apa pun alasannya, mereka harus tetap dibiarkan hidup.

Tak terima karena ada seekor cacing tanah yang memasuki teras rumahnya—waktu itu kandungan Biyung berusia 4 bulan—Bopo secara sengaja menginjak cacing tanah itu hingga gepeng, lalu disaruk pakai kaki hingga terjila tak berdaya. Pada saat mengandung 8 bulan, Biyung sudah mewanti Bopo agar lebih menjaga emosinya ketika bertemu binatang, tetapi Bopo tetaplah Bopo. Ketika ada seekor burung petikrah masuk rumah dan bercokol di sandaran kursi jati, Bopo berniat menebas mati burung itu menggunakan keris, tetapi hanya terkena sayap sebelah kiri. Beruntung, meski harus tertatih terbang rendah dengan sebelah sayap terluka dan berdarah, burung petikrah itu bisa melarikan diri.

Petaka itu datang di hari kelahiran Si Sulung. Raga memang tidak kurang apa pun, tetapi Si Sulung kedapatan tak bisa berhenti menangis, setiap jam, setiap menit, setiap detik; baik bersuara maupun tidak. Sudah pula kedua orang tua itu melakukan segala ritual arahan bomoh, yang di antaranya ritual permohonan ampun kepada Pemberi Hidup, tetapi tak pernah ada kemajuan. Si Sulung tetap saja selalu menangis, dan hal itu menjadikannya tak mampu berbaur dengan lingkungan sekitar.

Di usianya yang ke-8 tahun ini, Si Sulung memiliki seorang adik perempuan. Warga desa menyebutnya Si Bungsu. Kelahiran Si Bungsu disambut meriah bak mukjizat berharga dari langit, tak hanya bagi Bopo Biyung yang memimpikan dan tak berhenti berjuang memperoleh pewaris kekuasaan, pun seluruh warga menyenangi bayi tanpa cacat lahir itu.

Seiring tumbuh kembang Si Bungsu, kasih sayang dari Bopo Biyung untuk Si Sulung kian menyusut. Dari asupan makanan bergizi yang dipanen dari ladang pribadi, pakaian ganti yang dijahit oleh penjahit kepercayaan keluarga, peringatan tanggal penting, acara kunjungan ke luar daerah, pendidikan, impian, hingga sekadar kumpul keluarga, makin mencolok saja perbedaannya. Bila keinginan Si Bungsu selalu dituruti, segala kenakalannya selalu dimaklumi, berbeda dengan Si Sulung yang dibiarkan hidup bagai anak pungut di rumah sendiri.

Menginjak usia 20 tahun, Si Sulung didaulat menjadi pengasuh dan penjaga pribadi bagi Si Bungsu yang berusia 12 tahun. Ke mana pun Si Bungsu pergi, Si Sulung harus mengawal, dan Bopo Biyung tidak akan pernah rela bila putri kesayangannya itu terluka setitik saja.

Suatu pagi, Si Bungsu diperintahkan Bopo untuk menemui pedagang ikan dari luar daerah guna dibarter dengan hasil panen padi di hamparan persawahan desa sendiri. Dengan dikawal puluhan penggawa utusan Bopo—dan juga Si Sulung, tentu saja—puluhan gerobak berisi dagangan siap diantar ke lokasi pertemuan yaitu di perbatasan, dan mengharuskan mereka melintasi hutan bambu terlebih dahulu. Biyung mewanti agar mereka pulang sebelum surup, agar terhindar dari bahaya.

Selesai barter terlaksana dengan bijak, Si Bungsu yang ceroboh dan keras kepala tak mau segera pulang. Dia berdalih kapan lagi bisa bebas bermain di luar rumah jika bukan saat bertugas seperti ini, karena sejauh ini proteksi Bopo Biyung terhadapnya memang terbilang sangat berlebihan. Si Sulung menasihati adiknya, agar segera pulang saja, sebab langit sudah menggelap, sedangkan mereka harus melintasi hutan terlebih dahulu. Kondisi yang sangat membahayakan nyawa mengingat hutan bambu itu terkenal masih liar.

Si Bungsu tak menurut, dia justru asyik bermain di sungai cetek yang dikelilingi hutan. Tak bisa meninggalkan adiknya sendirian, Si Sulung mengalah dan tetap menemani. Akan tetapi, dia mengutus 2 penggawa untuk pulang terlebih dahulu, mengabari Bopo Biyung karena sepertinya mereka harus pulang terlambat.

Malam datang bersama embusan angin yang dinginnya begitu menusuk tulang. Mereka bersiap meninggalkan sungai, mengumpulkan segenap keberanian untuk melintasi hutan liar agar bisa sampai rumah dengan selamat. Namun, firasat Si Sulung menjelma nyata. Dua ekor serigala datang menerkam dan bernafsu merebut ikan dagangan mereka. Puluhan penggawa sudah berjuang melawan serigala tersebut dengan alutsista bawaan berupa panah dan pedang, tetapi kondisi gelap membuat mereka lemah. Si Sulung dan Si Bungsu dilanda ketakutan luar biasa hingga hanya bisa meringkuk di kaki gerobak. Beruntung, saat serigala itu hendak memangsa keduanya, pasukan penyelamat yang membawa penerang lampu sentir, datang bersama Bopo Biyung. Dua bersaudara itu dapat selamat tanpa luka, dua serigala mencongklang saat mendapat bidikan panah bertubi-tubi, sedangkan dagangan ikan ludes, menyisakan pertumpahan darah para penggawa pengawal.

Biyung menghambur memeluk Si Bungsu, bertanya mengapa bisa pulang terlambat. Takut dimarahi Bopo, Si Bungsu mengarang cerita, menuduh bahwa Si Sulung-lah yang memaksa mereka istirahat terlalu lama hingga lupa waktu pulang. Bopo murka dan memukul Si Sulung berkali-kali. Si Sulung kali ini menangis benar-benar dari hati, berharap kali ini saja Bopo memercayai apa perkataannya bahwa Si Bungsu-lah yang begitu keras kepala tidak mau diajak pulang.

Tidak terima putri kesayangannya dituduh macam-macam, Biyung ikut murka dan mengucap sumpah serapah kepada Si Sulung. Bersama petir menggelagar, dia berteriak tak lagi mengizinkan putranya pulang ke rumah, bahkan dengan penuh penekanan Biyung mengatakan bahwa lebih baik Si Sulung berubah menjadi pohon saja. Karena baginya, sepanjang menjadi manusia, Si Sulung hanya bisa menyusahkan orang tua dan juga orang banyak.

Mereka pulang ke kediaman, meninggalkan Si Sulung di tengah hutan sendirian, berteman tangis dan hujan. Kelelahan dan kedinginan pada akhirnya membuat pemuda itu pingsan.

 Pagi hari ketika membuka mata, keadaan Si Sulung tak lagi sama. Dia tergemap mendapati kedua kakinya yang seolah-olah mengakar kuat di dalam tanah. Kepala, tangan, dan seluruh raga tak lagi dapat digerakkan dengan mudah. Dia ingin berteriak meminta pertolongan sekitar, tetapi suaranya tak dapat keluar.

Hanya seekor cacing tanah yang tubuhnya gepeng dan seekor burung petikrah yang sayapnya cacat sebelah, yang mampu mendengar teriakan Si Sulung. Lalu keduanya mendekati Si Sulung, menghibur dan berjanji akan menjadi teman selamanya. Ya, Si Sulung telah menjelma menjadi sebatang pohon dengan daun lebat dan kulit batang yang selalu lembap—efek dari air mata Si Sulung yang selalu mengalir—tumbuh di pinggir sungai, berteman cacing dan burung. Meski raganya telah berubah wujud, tetapi ingatan Si Sulung masih ada: dia dikutuk Biyung.

Bertahun berlalu, Si Bungsu tumbuh menjadi gadis perawan, tetapi kecerobohannya tak pernah meluruh. Suatu ketika, Si Bungsu lari tunggang langgang masuk hutan karena ketakutan dikejar beberapa pria yang hendak memperkosanya. Berhenti untuk mengatur napas, Si Bungsu mendapat ide memanjat pohon yang batangnya basah—yang tidak lain adalah kakaknya sendiri—berharap bisa lepas dari para pemerkosa.

Nahas, para pemerkosa itu berhasil menarik kaki Si Bungsu. Melihat adiknya disakiti, Si Sulung meminta bantuan kepada Si Burung yang tengah hinggap di salah satu rantingnya. Si Burung cepat tanggap lalu berusaha mencakar dan mematuk para pemerkosa. Akan tetapi, karena sayapnya cacat sebelah, Si Burung tak dapat terbang tinggi dan cukup kewalahan ketika harus melawan manusia di kerendahan.

Si Bungsu sudah berhasil memanjat di punggung Si Sulung. Namun, Si Sulung tahu kondisi aman seperti ini tidak akan berlangsung lama karena Si Burung tampak mulai kelelahan. Lalu, Si Sulung berniat mengorbankan diri demi menolong Si Bungsu, meminta tolong Si Cacing dan pasukan untuk memotong akarnya agar tercerabut dari tanah.

Awalnya Si Cacing menolak, tetapi Si Sulung memaksa. Akhirnya, dibantu dengan pasukan berjumlah ribuan, Si Cacing berhasil membuat pohon itu tumbang. Puncak pohon jatuh menimpa tebing di pinggir sungai. Si Bungsu berdiri dan menginjak pohon, berlari sampai di puncak tebing, lalu menghambur memeluk Bopo dan Biyung yang ternyata ada di sana. Kemudian, mereka pulang tanpa mengetahui kejadian sesungguhnya.

Para pemerkosa pergi dengan hati murka, meninggalkan Si Burung dan Si Cacing yang kepayahan, dan juga Si Sulung yang menangis kesakitan. Tak hanya raganya yang sakit, tetapi juga hati. Dia telah melindungi adiknya, dan juga keluarga dari aib yang mengintai, tanpa pernah mereka tahu. Si Sulung masih terus menangis. Tangisnya kini kian menderas, membasahi tebing, turun hingga ke sungai.

Selang beberapa hari kemudian, beberapa warga desa sepulang dari berdagang di pasar perbatasan, melihat kejadian menakjubkan adanya air sejernih air mata yang menderas jatuh dari puncak tebing. Lalu mereka menamainya Curug Belondo: curug yang berasal dari kayu belondo.

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *