Rawa Pening (Juara Harapan 2)

RAWA PENING

Oleh : Hartari

Kedamaian dusun Ngasem seketika sirna saat jabang bayi berwujud naga lahir dari rahim Ni Endang Ariwulan. Selain wujudnya yang tak biasa, ternyata jabang bayi ini juga punya keistimewaan yaitu bisa berbicara layaknya manusia. Meski riuh cemooh warga, namun Ni Endang tetap mengasuh bayi naga dengan penuh kasih sayang.

            Suatu hari sang naga yang telah beranjak remaja bertanya kepada Ni Endang, ibunya.

            “Wahai ibu, siapa sebenarnya ayahku?”

            Ni Endang pun akhirnya menceritakan kejadian yang ditutupnya rapat-rapat selama ini.

            “Suatu hari, ibu meminjam pisau kepada guru Ki Ajar Salokantara untuk memecah jambe yang akan digunakan untuk sesaji. Ki Ajar berpesan agar tidak meletakkan pisau tersebut di pangkuan. Sayangnya ibu lupa dengan pesan tersebut. Saat itulah pisau hilang. Dan setelah itu, ibu mengandungmu.”

            “Lalu dimana sekarang Ki Ajar Salokantara?”

            “Bertapa di Gunung Telamaya.”

            “Aku akan menyusulnya.”

            Ni Endang pun merelakan sang naga menyusul Ki Ajar. Tak lupa dikalungkannya klintingan (lonceng kecil) peninggalan Ki Ajar saat itu di leher anaknya.

            “Tunjukkan klinthingan ini pada ayahmu,” pesan Ni Endang.

Sang naga pun memulai perjalanan menyusur sungai. Di setiap perjalanan yang dilaluinya, terdengar bunyi loceng hingga dia dijuluki Baru Klinthing.

Hari berlalu, bulan berbilang hingga berganti tahun, pencaharian tak menemukan hasil. Hilang semangatnya, namun di saat itulah dia mendengar sayup-sayup lantunan kidung ibunya hingga timbul semangatnya sampai akhirnya dia menemukan pertapaan Ki Ajar.

Ki Ajar yang sedang bertapa kaget melihat seekor naga tiba-tiba muncul dan menghormat padanya. Keheranannya bertambah saat naga tersebut berbicara padanya.

“Apakah benar ini dusun Telamaya tempat pertapaan Ki Ajar?” tanya Baru Klinthing.

“Benar.”

Mendengar jawaban Ki Ajar, Baru Klinthing bahagia dan dan segera bersujud ke hadapan ayahnya.

“Berarti engkau adalah ayahku.”

Ki Ajar tertegun. Ia pun bertanya pada Baru Klinthing tentang siapa ibunya serta dari mana asalnya.

“Ibuku Ni Endang dari Desa Ngasem. Dan lonceng ini adalah pemberian ayah saat meninggalkan ibu untuk bertapa di Gunung Telamaya.”

Bagi Ki Ajar, klinthingan dianggap belum cukup sebelum Baru Klinthing mau melakukan laku brata yaitu melingkarkan tubuhnya di Gunung Telamaya agar dia diakui sebagai anaknya. Baru Klinthing menyanggupi lalu melingkarkan tubuhnya. Sayangnya, kepala dan ekornya tidak menyatu, hanya kurang sejengkal. Akhirnya dijulurkannya lidahnya sampai menyentuh ekor.

Melihat kejadian itu, Ki Ajar segera memutus lidah Baru Klinthing.

“Kekurangan tak bisa disambung dengan lidah, karena lidah adalah pusaka ampuh tiada tandingan. Lidah meskipun sebilah, namun bisa membuat semuanya menjadi indah atau malah bubrah.”

Lidah yang telah terputus menjadi pusaka berupa tombak yang bernama tombak Baru Klinthing. Sementara ia tetap melanjutkan brata melingkari Gunung Telamaya. Tubuh Baru Klinthing semakin tak terlihat, yang nampak hanya rimbun pepohonan.

Ki Ajar lalu menemui Ni Endang dan berpesan agar menjemput Baru Klinthing di dusun Pathok, sebuah dusun yang subur makmur tetapi penduduknya tidak pernah bersyukur dengan anugerah dari Yang Mahakuasa.

“Jemputlah anak kita di dusun Pathok.”

Al kisah, di dusun Pathok sedang diselenggarakan pesta. Salah seorang penduduk diberi tugas untuk memecah pinang sebagai campuran makan sirih. Tanpa sepengatahuannya, ternyata kayu yang digunakan sebagai bantalannya adalah badan Baru Klinthing.

Tanpa disangka-sangka, sukma Baru Klinthing mengikuti warga tersebut dan menjelma menjadi sosok pemuda tampan dan gagah namun lusuh. Baru Klinthing berganti nama menjadi Jaka Bandung.

Saat pesta tengah berlangsung, Jaka Bandung memohon untuk diberi makanan. Tapi tak ada satu pun yang memberinya.

“Enyah kau pemuda busuk,” hardik seorang warga.

“Tak ada makanan untukmu, hai pemuda kotor,” sindir yang lain.

Jaka Bandung pun akhirnya menyingkir. Di tengah rasa lapar, seorang wanita tua menyodorkan makanan. Jaka Bandung segera menikmati hidangan yang disajikan wanita tua tersebut.

Jaka Bandung lalu menceritakan apa yang dialaminya selama ini. Wanita tua itu pun memeluk Jaka Bandung dan menceritakan jati dirinya. Betapa gembira hati Jaka Bandung saat mengetahui bahwa wanita tua di hadapannya adalah ibunya.

Usai makan, Jaka berpesan pada Ni Endang.

            “Ibu, aku akan kembali mendatangi pesta di Desa Pathok. Jika nanti terdengar suara gemuruh, ibu segera naik lesung dan bawalah bekal seperlunya saja,”

Tanpa bertanya, Ni Endang segera menyiapkan bekal serta lesung sepeninggal Jaka Bandung.

Jaka Bandung kembali mendatangi pesta dan mencoba untuk meminta sedekah makanan. Namun tak berbeda jauh dari sebelumnya. Ia pun disia-siakan. Melihat keserakahan penduduk yang tak memedulikan orang lain sepertinya, akhirnya dia menancapkan sebatang lidi untuk memberi pelajaran pada mereka.

Dengan suara lantang Jaka Bandung berujar, “Wahai warga desa Pathok”

Riuh rendah pesta berubah senyap. Warga berkerumun mendekati asal suara.

“Saya menantang kalian. Siapa saja di antara kalian yang bisa mengambil lidi ini, maka saya akan menyembahnya tujuh kali.”

Warga tertawa. “Sombong sekali, kau pemuda lusuh.”

Jaka Bandung tak memedulikan ocehan warga. Dia menyilakan warga untuk maju mencabut lidi.

Tersulut dengan tantangan Jaka Bandung, satu demi satu warga berusaha mencabut lidi. Sekuat tenaga dikerahkan, namun tak ada satu pun yang mampu mencabutnya.  Mereka menyerah.

Jaka Bandung memandang wajah warga yang tampak penasaran. Dengan kesaktian yang diwarisi ayahnya, dia mencabut lidi tanpa susah payah. Serta merta air memancar. Makin lama makin deras, suaranya menggemuruh. Banjir bandang tak terelakkan. Warga Dusun Pathok tak sempat menyelamatkan diri dan tenggelam.

Mendengar suara gemuruh, Ni Endang segera menaiki lesung. Air bah membawanya ke tempat yang aman. Dia selamat dari malapetaka akibat keserakahan penduduknya.

Desa Pathok tenggelam. Wilayahnya yang subur makmur berubah menjadi telaga yang berair bening yang kini dikenal dengan Rawa Pening.

***

Rawa Pening menjadi salah satu destinasi wisata andalan di Kabupaten Semarang. Udara sejuk serta panorama indah adalah daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Tak jauh dari Rawa Pening terhampar Bukit Cinta. Dari sini wisatawan dapat menyewa perahu menikmati wisata air mengelilingi rawa.

***

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *