Legenda Grojokan Kelenting Kuning (Juara Harapan1)

LEGENDA GROJOGAN KLENTING KUNING

Oleh : Bunaya Hanif  Wintribrata

Grojogan Klenting Kuning, adalah sebuah air terjun/curug dengan ketinggian 8 meter  yang berada di lereng barat Gunung Ungaran, tepatnya  di Desa Kemawi Kecamatan Sumowono  Kabupaten Semarang. Tepat di atas Grojogan Klenting Kuning terdapat pertapaan beralas lumut .

Seperti namanya, keberadaan air terjun ini tak lepas dari  tokoh Klenting Kuning yang merupakan penyamaran dari Galuh Candra Kirana putri cantik rupawan dari Kerajaan Daha. Dari sinilah “Legenda Grojogan Klenting Kuning“ berawal.

 

Alkisah pada sekitar abad  XI Masehi, di Pulau Jawa pernah berdiri sebuah kerajaan besar  bernama “ Kerajaan Daha“.  Raja Daha memiliki dua orang putri  cantik bernama “Galuh Candra Kirana” terlahir dari permaisuri dan “Galuh Ajeng” terlahir dari selir yang bernama Paduka Liku.  Sudah menjadi kebiasaan pada masa itu, untuk menjalin persaudaraan, memperluas wilayah kekuasaan dan juga menghindari peperangan, perkawinan antar kerajaan sering dilakukan.

Demikian juga dengan Raja Daha, yang berniat menjodohkan Galuh Candra Kirana dengan Raden Inu Kertapati putra mahkota dari Kerajaan  Jenggala. Keinginan Raja Daha disambut baik oleh Raja Jenggala, demikian juga dengan Galuh Candra Kirana maupun Raden Inu Kertapati. Rasa suka cita tidak hanya dirasakan dikalangan istana, namun juga rakyat dari kedua kerajaan. Bagi mereka Galuh Candra Kirana dan Raden Inu Kertapati merupakan pasangan yang serasi. Galuh Candra Kirana dikenal sebagai putri nan cantik rupawan, lemah lembut tutur katanya. Raden Inu Kertapati sendiri dikenal sebagai pribadi yang luhur, tampan dan sakti mandraguna.

Rasa suka cita yang dirasakan banyak orang, ternyata tidak dirasakan oleh Paduka Liku dan putrinya Galuh Ajeng.  Paduka Liku sangat menginginkan putrinyalah yang menikah dengan Raden Inu Kertapati.  Rasa iri telah membutakan hati Paduka Liku,  ia berupaya keras mengatur siasat untuk menyingkirkan Galuh Candra Kirana.  Dengan bantuan seorang tukang tenung, Paduka Liku berhasil membuat Galuh Candra Kirana hilang ingatan dan kabur dari kerajaan. Berita kaburnya Galuh Candra Kirana dari kerajaan, membuat hati Raden Inu Kertapati hancur berkeping-keping.  Rasa cinta yang begitu dalam kepada sang kekasihlah, yang mampu membangkitkan semangat Raden Inu Kertapati untuk mencari keberadaan kekasih hati.

Dengan menyamar menjadi rakyat jelata, dimulailah pengembaraan Raden Inu Kertapati. Berbagai halangan, rintangan, dan ukiran cerita hidup dilaluinya demi menemukan belahan jiwa.

Disisi lain, sepeninggal dari kerajaan ternyata membuat pudar pengaruh sihir dalam diri Galuh Candra Kirana. Galuh Candra Kirana kembali menemukan jati dirinya, dan berniat untuk pergi ke Jenggala menemui Raden Inu Kertapati.  Namun di perjalanan,  ia mendengar kabar bahwa kekasihnya telah pergi mengembara untuk mencari dirinya. Galuh Candra Kiranapun membulatkan tekad  dan berjanji pada dirinya, tidak akan kembali ke kerajaan jika tidak bersama Raden Inu Kertapati.

Galuh Candra Kirana membuka lembaran baru dengan melakukan penyamaran. Hari berganti minggu, bahkan bulanpun berganti tahun. Beragam pengalaman hidup ia dapatkan. Hingga suatu hari, Galuh Candra Kirana bertemu dengan seorang nenek yang sedang kepayahan mengangkat kayu bakar. “Ijinkan saya membawakan kayu bakar ini sampai ke tujuan” kata Galuh Candra Kirana  lembut. “Si.. silahkan” jawab nenek itu terbata-bata.  Sepanjang perjalanan, sang nenek mencuri pandang memperhatikan paras ayu Galuh Candra Kirana. Setelah beberapa lama terdiam, akhirnya kesunyian itu pecah dengan suara sang nenek “Siapa namamu nak? kemana tujuanmu?”.  Untuk menyembunyikan jati dirinya, dengan suara lirih Galuh Candra Kirana menjawab, “Maaf, peristiwa menyedihkan yang menimpaku, telah membuat aku kehilangan sebagian ingatan”. Seakan  tidak ingin melihat gadis cantik dihadapannya terlarut dalam kesedihan, sang nenek berkata “Siapapun engkau, aku tahu engkau sedang mencari ketenangan hidup. Istirahatlah malam ini di gubug ku, esok hari pergilah ke arah barat, akan kau jumpai ketenangan hidup yang kau cari”.  Dengan cepat Galuh Candra Kirana menganggukkan kepala dan mengucapkan terimakasih. 

Esok harinya, di saat sang fajar bersinar terang sang nenek sudah siap dengan berbagai perlengkapan yang akan dibawakan Galuh Candra Kirana. “ Wahai anakku, aku tidak punya hak untuk menahanmu, lanjutkan langkahmu, raih impianmu” ujar sang nenek sambil menahan air mata yang hampir terjatuh. “Trimakasih nek, sudah memberiku tempat berteduh, akan kuturuti pesanmu untuk melangkahkan kaki ke arah barat” jawab Galuh Candra Kirana.

Perjalanan panjangpun dimulai, berbagai rintangan dan halangan ia temui diperjalanan.  Dari ancaman binatang buas, hujan, badai, terik matahari yang membakar kulit, medan yang sulit dan ketersediaan perbekalan yang makin menipis.  Setelah berjalan berminggu lamanya, tibalah Galuh Candra Kirana di tepi sungai. Tampak seorang lelaki tua duduk di atas batu di pinggir sungai. Dengan nafas terengah, Galuh Candra Kirana  tetap berusaha ramah dan menghormati lelaki yang berada tidak jauh darinya “Sedang apa kakek sendirian disini, adakah yang bisa ku bantu?” tanya Galuh. “Aku sama seperti dirimu berusaha mencari ketenangan hidup dan aku telah menemukannya di tempat ini” jawab lelaki tua dengan suara yang lantang. Betapa terkejutnya Galuh Candra Kirana, karena lelaki tua itu tahu tentang dirinya. “Lanjutkan saja langkahmu menyusuri sungai dan perbukitan ini, nanti kau akan menemukan sungai dengan air terjun nan elok dimana di atasnya terdapat hamparan lumut. Di situlah kau akan temukan ketenangan hidupmu” ujar lelaki tua itu. Tanpa banyak bicara Galuh Candra  Kirana menganggukan kepala sebagai tanda ucapan trimakasih dan segera melanjutkan perjalanan.

  Seiring berjalannya waktu dengan kondisi fisik yang makin melemah dan habisnya perbekalan, Galuh Candra Kirana beristirahat di tepi sungai sambil membasuh muka mengusir rasa penat. Semilir angin dan gemercik suara air membuatnya tertidur. 

Atas kehendak Sang Hyang Widi, dalam tidurnya Galuh Candra Kirana bermimpi melihat seorang pemuda tampan nan gagah perkasa duduk di hamparan lumut di atas air terjun yang sangat elok. Belum sempat menatap wajah pemuda tampan itu, Galuh Candra Kirana terbangun.

Seolah ada kekuatan lain yang memberinya energi positif  untuk terus melangkahkan kaki ke arah barat.  Selama perjalanan, Galuh Candra Kirana selalu terbayang pertemuannya dengan pemuda tampan dalam mimpinya. Muncul pertanyaan dalam hatinya, siapa sebenarnya pemuda yang datang dalam mimpinya, ia merasa sudah mengenal sangat dekat.

Tiba-tiba langkah dan lamunan Galuh Candra Kirana terhenti, betapa terkejutnya Galuh Candra Kirana, tanpa ia sadari di hadapannya telah terhampar pemandangan yang sangat menakjubkan seperti yang dilihatnya dalam mimpi. Terlihat air terjun nan sangat elok dengan hamparan air sungai nan jernih. Suara gemercik air seakan memanggilnya untuk mendekat dan menyatu bersamanya. Galuh Candra Kiranapun bermaksud membersihkan diri dan menghilangkan kepenatan. Betapa terkejutnya Galuh Candra Kirana, karena begitu air sungai menyentuh tubuhnya. Warna air sungai berubah kuning laksana emas dan memancarkan aroma harum mewangi. Bau harum itu begitu cepat menyebar keseluruh penjuru terbawa angin hingga membuat pemuda tampan yang duduk beralaskan lumut di atas air terjun terjaga  dari semadinya. Alangkah senang dan bahagia hati pemuda tampan yang tak lain Raden Inu Kertapati putra mahkota dari Jenggala ketika melihat putri cantik rupawan yang tak lain Galuh Candra Kirana putri Raja Daha, calon istri yang selama ini ia cari-cari. Tempat Galuh Candra Kirana berendam sampai sekarang dikenal dengan nama “Grojogan Klenting Kuning” yang merupakan nama samaran dari “Galuh  Candra Kirana”.  Sampai sekarang air Grojogan Klenting Kuning berwarna kuning laksana emas. 

Akhirnya Raden Inu Kertapati dan Galuh Candra Kirana kembali ke Daha dimana pusat pemerintahan dipindahkan dari Daha ke Kediri yang dianggap lebih strategis.  Raden Inu Kertapati menjadi raja di Kediri pada tahun 1182 – 1190 dengan gelar “Sri Kameswara” bersama permaisuri “Galuh Candra Kirana” yang juga dikenal dengan nama “Klenting Kuning”

Demikianlah “Legenda Grojogan Klenting Kuning” banyak nilai positif yang dapat kita jadikan pelajaran hidup. Kesungguhan, sikap pantang menyerah dan selalu mentaati perintah orang tua adalah  sikap positif yang harus kita teladani.

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *