Legenda Curug Lawe dan Benowo (Juara 3)

Legenda Curug Lawe dan Benowo:

(Kesetiaan Tuan Kera Kepada Ratunya – Karya Dhesi Wulansari)

Ratusan tahun sebelum kedatangan Kiai Pati dan rombongannya di pegunungan yang kini disebut Gunungpati, hiduplah seorang gadis desa nan cantik jelita. Ia adalah putri semata wayang tuan tanah paling kaya di desanya.

Gadis cantik berambut hitam panjang sepunggung itu bernama Dewi Banowati. Ia hidup serba kecukupan. Semua yang diinginkan selalu ada. Baju bagus, rumah mewah, dan keluarga yang selalu memanjakkannya. Ia pun tak perlu bekerja di sawah seperti teman sebayanya.

Sayang, ada satu hal yang belum dimiliki Dewi Banowati pada saat itu, seorang pendamping hidup.

Hidup di lingkungan keluarga yang kaya raya membuat Dewi Banowati menerapkan standar tinggi bagi pria manapun yang berusaha meminangnya. Dari belasan pria yang datang meminang, tak satu pun yang sanggup memenuhi persyaratan Dewi Banowati, yaitu sebuah istana megah di mana seluruh warga desa bisa hidup sejahtera di sana.

Hingga suatu saat, datanglah seorang pria dengan wajah yang tidak rupawan, penuh bulu di sekujur tubuhnya. Ia benar-benar menyerupai kera. Pria tersebut bernama Pangeran Indrakila.

“Hi, Dewi Banowati, wanita tercantik di galaksi bimasakti. Maukah engkau menjadi ratuku?” tanya Indrakila kepada sang putri.

Apa yang kau miliki? Wajah yang tampan? Sepertinya bukan” jawab Dewi Banowati ketus

“Aku memang tak punya wajah rupawan, tapi aku bisa memberikan apapun yang kau minta” tutur Pangeran Indrakila seraya membungkukkan badan meminta.

“Sebuah istana megah lengkap dengan segala isinya?” tanya Dewi Banowati.

“Tentu saja, tapi aku punya syarat yang harus kau penuhi” pinta Pangeran Indrakila

Apakah itu?” tanya Dewi Banowati penasaran

“Sebelum ku bangun istana yang indah, berjanjilah untuk setia mendampingiku menjadi ratu sampai akhir hayat nanti” Pangeran Indrakila memandang Dewi Banowati seraya memegang tangan lembutnya.

Dewi Banowati tak lantas menjawab permintaan Pangeran Indrakila. Ia termenung, tampak bingung. Di satu sisi, Pangeran Indrakila sanggup memberikan persyaratan yang diminta. Di sisi lain, Pangeran Indrakila bukanlah lelaki tampan seperti yang diinginkan.

Ia pun meminta waktu satu malam untuk merenung, mencari jawaban.

***

Waktu terus berputar. Hingga fajar menyingsing, Dewi Banowati tak kunjung mendapatkan jawaban. Matanya tampak kuyu tak tidur semalaman. Tiba-tiba datanglah seekor burung jalak hitam di jendela kamarnya. Burung itu berkata,

“Dewi, kata hati tak akan pernah salah. Ikutilah”

Dengan hati yang mantap, Dewi Banowati menemui sang pangeran yang sudah menunggunya di depan pintu. Ia menerima pinangan sang pangeran.

Pangeran Indrakila membangun istana megah. Ia meminta warga desa hidup bersama di istana. Kebun, persawahan, ladang, dan ternak pun sudah tersedia.

Sehari setelah upacara pernikahan dilangsungkan, bulu-bulu lebat yang menutupi sekujur tubuh pangeran Indrakila menghilang. Ia tak lagi menjadi pria setengah kera. Pangeran Indrakila berubah menjadi pria tampan.

Dewi Banowati begitu bahagia. Ia terkagum-kagum dengan suaminya. Kini, Dewi Banowati mendapatkan sosok suami yang setia, baik hatinya, dan rupawan.

“Ratuku, Dewi Banowati, inilah wujud asliku.” kata pangeran Indrakila

Pangeran Indrakila menceritakan asal mula mengapa ia berubah wujud menjadi kera. Ia bercerita bahwa Dewi Bumi telah mengutuknya menjadi manusia kera karena telah melakukan kesalahan yang fatal. Durhaka kepada kedua orang tuanya.

Selayaknya kisah di negeri dongeng, mereka berdua hidup bahagia.

***

Suatu hari, Pangeran Indrakila menceritakan rahasia besar kepada istrinya.

“Istriku, kau tahu, mengapa aku memintamu untuk setia padaku saat pertama aku meminangmu?”, tanya sang Pangeran

Agar kita berdua bisa bahagia sampai akhir nanti. Iya, kan?” jawab Dewi Banowati manja

“Aku harus jujur padamu. Jika suatu saat nanti kamu meninggalkanku atas alasan apapun, saat itu juga aku akan kembali menjadi kera dan hidup dalam tubuh kera selamanya. Aku tak lagi bisa bersamamu, sampai akhir nanti” tutur sang pangeran.

“Aku tidak akan meninggalkanmu suamiku” kata Dewi Banowati

***

Meskipun Pangeran Indrakila dan Dewi Banowati hidup bahagia, namun mereka tak kunjung dikarunia seorang anak. Hal tersebut mulai mengusik hati Dewi Banowati.

Suatu hari Pangeran Indrakila meminta izin kepada Dewi Banowati untuk menemui seorang tabib sakti. Ia ingin meminta obat supaya bisa segera mendapatkan keturunan. Dewi Banowati pun menyetujui.

Dewi Banowati melepas kepergian Pangeran Indrakila dengan haru. Ia terus mendoakan suaminya supaya bisa segera kembali membawa obat itu.

Sehari, seminggu, sebulan, hingga sewindu sang Pangeran tak juga kembali. Dewi Banowati bersedih hati. Ia kesepian. Bahkan beranggapan bila suaminya telah meninggal.

Lalu, datanglah seorang pria tampan datang ke istana. Pria dengan badan tegap kekar berambut hitam berkulit sawo matang ini bernama Rangga Lawe.

Rangga Lawe bukanlah seorang keturunan ningrat. Ia hanya pemuda biasa dengan wajah tampan di atas rata-rata. Ia datang ingin meminang sang ratu yang kesepian.

“Wahai sang ratu, janganlah bersedih hati. Menikahlah denganku”

Kedatangan Rangga Lawe membuatnya bimbang. Tak bisa dipungkiri, Dewi Banowati butuh seorang pria yang mendampingi dan melindunginya. Ia pun memimpikan anak-anak kecil dalam kehidupannya. Akhirnya, Dewi Banowati pun menerima pinangan Rangga Lawe.

Tak lama setelah mereka berdua melangsungkan pernikahan, seekor kera ekor panjang datang ke istana. Kera ekor panjang ini berjalan meminta izin bertemu sang ratu, Dewi Banowati.

“Dewi, obat ini untukmu” kata kera sambil memberikan botol labu berisi obat.

Kera tersebut ternyata jelmaan Pangeran Indrakila. Tubuhnya kembali lagi menjadi menjadi seekor primata.

Dewi Banowati tak menyangka bahwa kera ekor panjang yang datang membawa obat tersebut adalah suaminya, Pangeran Indrakila. Ia kemudian teringat akan janji yang dibuatnya dulu.

Dewi Banowati menangis memohon ampun karena tak bisa menjaga amanah suami. Sayangnya nasi sudah menjadi bubur.

Dengan murkanya, pangeran Indrakila mengutuk Dewi Banowati dan Rangga Lawe menjadi batu. Konon, penyesalan yang mendalam membuat Dewi Banowati dan Ranggalawe tak henti mengeluarkan air mata. Hingga akhirnya kedua pasangan tersebut berubah menjadi air terjun yang diberi nama Curug Benowo dan Curug Lawe yang kini bisa dijumpai di Desa Kalisidi, Ungaran Barat.

Pangeran Indrakila menyesali perbuatannya telah mengutuk sang istri tercinta. Ia bertekad untuk menjaganya dengan memilih hidup di hutan dekat dengan Curug Banowati.

Kisah ini pun beredar di masyarakat hingga akhirnya memunculkan mitos larangan berkunjung ke destinasi wisata Curug Lawe dan Benowo berdua saja dengan pasangan. Jika melanggar, kisah cinta mereka bisa berakhir seperti Dewi Banowati, Rangga Lawe, dan Pangeran Indrakila.

Selain mitos tersebut, konon kera ekor panjang yang berkeliaran di sekitar Curug Banowati adalah jelmaan sang Pangeran.

Di luar mitos itu, Curug Banowati dan Curug Lawe adalah destinasi wisata yang harus dikunjungi saat berlibur di Semarang. Meski berada jauh dari pusat kota, kesegaran air terjun, lebat hutan, dan keindahan pemandangan alamnya akan membuat Anda betah berlama-lama.

***

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *