Legenda Sendang Senjoyo (Juara 2)

LEGENDA SENDANG SENJOYO”

Oleh : Ibnu Girindra W

Sendang Senjoyo, adalah sebuah sendang/kolam atau dalam mytologi Hindu dikenal dengan nama “petirtaan” (= tempat pemandian suci para raja/bangsawan). Sendang Senjoyo memiliki luas + 24 meter2. Sendang Senjoyo  berada di  Desa Tegalwaton Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang.

Seperti namanya, keberadaan Sendang Senjoyo tak lepas dari  tokoh Sanjaya yang merupakan raja Kerajaan Medang. Dari sinilah “Legenda Sendang Senjoyo“ berawal.

Konon pada sekitar abad ke VII Masehi, di Pulau Jawa tepatnya di Jawa Tengah pernah berdiri sebuah kerajaan besar bernama “Medang“. Secara geografis Kerajaan Medang  dikelilingi oleh pegunungan dan gunung-gunung, seperti Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Lawu, dan Pegunungan Sewu. Daerah ini juga dialiri oleh banyak sungai, seperti Sungai Bogowonto, Sungai Progo, Sungai Elo dan Sungai Bengawan Solo. Itulah sebabnya daerah ini sangat subur sehingga rakyat dapat hidup rukun, damai sejahtera, adil dan makmur.

Tidak dipungkiri, kemakmuran yang dicapai, bukan semata-mata hasil dari kesuburan tanahya, namun juga peran dari raja “Sanjaya” yang merupakan raja pendiri kerajaan “Medang”. Sanjaya dikenal sebagai seorang raja pemberani dan ahli dalam mengatur taktik strategi perang. Sanjaya juga dikenal memiliki sikap toleran yang tinggi dalam hal kepercayaan. Meski sebagai pemeluk agama Hindu yang taat dan ahli tentang kitab-kitab suci agama Hindu, namun ia juga tidak melarang masuknya agama Budha di wilayahnya.

Seiring berjalannya waktu, Kerajaan Medang yang semula hidup aman tentram, mulai diganggu dengan munculnya pemberontakan dan serangan-serangan dari luar kerajaan yang ingin merebut wilayah kekuasaan Sanjaya. Sampai akhirnya terjadilah perang besar yang membuat Sanjaya harus melarikan diri keluar dari Kerajaan Medang. Dalam pelariannya, Sanjaya didampingi oleh prajurit dan beberapa pengawal kepercayaan. Dikisahkan untuk menghindari kejaran musuh, Sanjaya melakukan perjalanan jauh, bersembunyi dari satu tempat ke tempat lain.

Hingga akhirnya sampailah Sanjaya di suatu tempat yang berhawa sejuk dan teduh. Tempat ini dikelilingi oleh rimbunnya pepohonan besar dan beberapa sumber mata air yang begitu jernih. Begitu memasuki wilayah ini, Sanjaya merasakan ketenangan yang luar biasa. Sanjaya meminta para pengawalnya untuk beristirahat. Haripun berganti, Sanjaya merasa telah menemukan kenyamanan dan ketenangan di tempat tersebut. Sanjaya memerintahkan para pengikut untuk membangun bangunan suci tempat peribadatan sebagai bentuk penyerahan diri kepada Sang Hyang Widi dilengkapi dengan petirtaan(=sendang) sebagai tempat pembersihan diri sebelum menghadap Sang Pencipta. 

Dengan penuh keikhlasan dan keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi junjungannya, para pengikut Sanjaya terus bekerja dengan penuh semangat. Minggu berganti bulan, bahkan bulanpun  berganti tahun hingga akhirnya berdirilah bangunan suci nan megah, berupa candi dan petirtaan(=sendang). Kemegahan tidah hanya terlihat dari fisik bangunan candi dan petirtaan(=sendang) yang berhias relief namun juga aura ketenangan yang dipancarkan. Hal ini tidak lepas dari perjalanan batin yang dilakukan oleh Raja Sanjaya selama proses pembangunan. Raja Sanjaya melakukan semadi memohon kepada Sang Hyang Widi agar pembangunan bangunan suci dapat berjalan dengan baik tanpa ada halangan.

Rasa haru dan bahagia bercampur menjadi satu dalam hati para pengikut Sanjaya. Mereka merasa puas dan bangga bisa mewujudkan keinginan junjungannya, demikian juga dengan Sanjaya. Waktupun terus berjalan, Sanjaya dan para pengikutnya telah menemukan kehidupan baru yang penuh ketenangan dan kenyamanan. Mereka melaksanakan kehidupan agama dengan sangat baik.

Hingga pada suatu malam, Sanjaya merasa sudah datang waktunya untuk lebih mendekatkan diri pada Sang Hyang Widi. Ia ingin menemukan ketenangan yang hakiki, dengan meninggalkan hiruk pikuk duniawi. Keinginan inipun disampaikan kepada para pengikutnya. Mendengar ucapan junjungannya, tidak sedikit dari pengikut Sanjaya yang meneteskan airmata, ada juga yang terdiam membisu sambil menundukkan kepala.  Seolah mereka tau, ucapan Sanjaya pertanda raja yang disegani, dihormati dan dicintai akan segera meninggalkan mereka. Untuk beberapa saat suasana sepi dan hening. Semua merasakan kesedihan yang tiada tara. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara Sanjaya yang terdengar penuh wibawa, menggetarkan hati “Wahai, para pengikut setiaku, tolong jaga dan rawatlah bangunan suci  yang telah kalian buat dengan ketulusan dan kesucian hati. Dengan menjaga bangunan suci ini, maka terjaga pulalah kebersihan dan kesucian hati yang akan mendekatkan kalian untuk bertemu dengan Sang Pencipta”. Demikian juga dengan diriku, malam ini aku ingin membersihkan diri dengan berendam di petirtaan agar lebih dekat pada Sang Pencipta.

Atas kehendak Sang Hyang Widi,  karena ketulusan dan kesucian batin, tubuh Sanjaya moksa saat berendam di petirtaan.  Sebagai bentuk kecintaan dan untuk mengenang junjungannya. Petirtaan(=sendang) tempat Sanjaya moksa diberi nama Petirtaan Senjoyo.

Dengan berjalannya waktu masyarakat menyebutnya “Sendang Senjoyo”. Keberadaan Sendang Senjoyo sampai saat ini masih dapat kita jumpai dengan kondisi masih alami. Pahatan dan relief batu candi yang begitu indah masih menempel dengan sangat kuat, sekuat perjuangan dan perjalanan sejarah yang dilaluinya.  Sumber mata air nan jernih terus memancar sekencang aura mata batin Sanjaya.  Di sekitar Sendang Senjoyo, kita masih bisa menjumpai reruntuhan bangunan candi yang dahulu pernah berdiri dengan sangat megah sebagai bukti ketaatan hamba kepada Sang Pencipta.

Demikianlah “Legenda Sendang Sanjoyo”, banyak nilai positif yang dapat kita jadikan pelajaran hidup. Keseimbangan lahir dan batin harus selalu diupayakan dalam setiap kehidupan manusia. Untuk mendapatkan kenyamanan dan ketenangan hidup, hendaknya kita menyelaraskan ketaatan kepada pemimpin dan kepada Sang Pencipta.

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *