KARUNGRUNGAN: PUSAT KOSMIS PULAU JAWA (Juara 1)

KARUNGRUNGAN: PUSAT KOSMIS PULAU JAWA

(Legenda Candi Gedong Songo – Karya Mafud Fauzi S.Sn)

            Sohibul hikayat tersebutlah sebuah kerajaan yang makmur di pusat pulau Jawa pada masa itu. Sebuah kerajaan yang dikenal dengan nama Mataram Hindu. Sebuah kerajaan yang mencapai puncak kejayaan pada masa abad kedelapan yang wilayahnya membentang dari Utara sampai ke Selatan Pulau Jawa. Topografi wilayah Pulau Jawa yang beragam dari dataran rendah, perbukitan, sampai gunung-gunung menjulang menyimpan energi mistis tentang konsep tempat suci.

 

Tepat pada waktu anggara kasih di malam bulan purnama, Sri Maharaja Rakai Watukura memimpin pertemuan puncak pisowanan agung dalam balairung utama kerajaan. Seluruh abdi dalem hadir dengan memakai pakaian kebesaran masing-masing sesuai dengan pangkat dan martabat yang mereka emban.

Sri Maharaja dengan pakaian kebesaran duduk disinggasana bertahtakan mutu manikam dan ukiran-ukiran halus yang dihasilkan oleh para Vardhakin kerajaan. Para pendeta, resi, senopati, punggawa, hulu balang, cantrik, dan abdi dalem lainnya hikmad mengikuti pisowanan agung tersebut.

 

“Mahapatih, sudah beberapa lama aku tidak berkeliling kerajaan menemui rakyatku, kesibukanku mendalami ajaran-ajaran agama membuatku lupa menyerap keluhan, harapan, dan keinginan rakyatku. Bagaimana kondisi rakyatku saat ini?” Tanya Sri Maharaja.

“Sinuwun Prabu, negeri ini telah sampai pada titik puncak kemakmurannya, negeri ini dianugerahi kesuburan yang tiada tara oleh Sang Hyang Widi, setiap apapun saja yang ditanam pasti akan tumbuh dan membawa keberkahan pemiliknya, Hasil ikan seolah tiada habisnya dari sungai-sungai kita. Sawah-sawah telah menghasilkan tanaman yang bagus karena irigasinya. Semua itu karena Paduka yang turun langsung membimbing kami,” jawab Mahapatih.

“Syukurlah, semua ini karena kemurahan hati Sang Hyang Widi, karena kita merawat dan memperlakukan alam dengan baik dan benar,” jawab Sri Maharaja kemudian.

“Pendeta Sthapaka, engkau adalah penasehat spiritual utamaku, engkau sendiri telah mendengar penjelasan mahapatihku, apa saranmu untuk kerajaan ini?” tanya Maharaja.

“Gusti Prabu, memang negeri ini telah mencapai kemakmuran duniawi, masyarakat tidak kekurangan pangan, sandang, maupun papan. Namun demikian, alangkah baiknya bila kemakmuran ini dibarengi dengan kemakmuran secara spiritual,” jawab Pendeta Sthapaka.

“Apa maksud dari perkataanmu Pendeta?” tanya Sang Raja.

“Maksud hamba adalah, kita sebagai makhluk Sang Hyang Widi seyogyanya juga menghaturkan puja-puji, manembah, berdoa, dan bermeditasi agar tercapai keselarasan hakiki. Bangunlah tempat pemujaan dipusat-pusat kosmis seperti halnya  Gunung Mahameru di India sebagai sumber awal agama kita. Bangunan tersebut adalah sarana kita, penggambaran tingkat spiritual kita, dan tanda bagi anak cucu kita nanti bahwa kita telah sampai pada masa spiritual yang tinggi dan kelak akan dikenang sepanjang masa sebagai bangunan suci yang adi luhung,” terang pendeta kemudian.

“Baiklah Pendeta, carilah tempat yang paling cocok bagi bangunan tersebut. Aku menginginkan terwujudnya sembilan bangunan suci. Sembilan adalah angka tertinggi sebagaimana bangunan itu adalah tempat tersuci dan tertinggi bagi agama Hindu ini. Carilah tempat yang sangat suci yang belum terjamah manusia. Ajaklah Sthapati terpilih sebagai perencana dan arsitek bangunan megah ini. Pilih beberapa Sutragrahin yang ahli dibidang teknik sipil sebagai pemimpin umum untuk setiap bagian dari pusat pemujaan ini. Latih dan didik sebanyak mungkin Taksakha dan Vardhakin yang mempunyai peran penting dalam menerjemahkan konsep spiritual kewujud nyata sebagai pemahat dan pengukir ornament  sehingga nantinya bisa dipahami dengan mudah,” perintah Sri Maha Raja Watukura kepada pendeta Sthapaka.

“Hamba siap melaksanakan titah Sang Prabu, hamba mohon doa restu agar perjalanan hamba membawa keberkahan bagi negeri ini. Hamba akan ke Utara dimana gunung-gunung suci tegak berdiri, tempat dimana konsep Triloka bisa diterjemahkan dan diwujudkan dengan sempurna. Konsep yang membagi dunia menjadi tiga sebagai simbol dan tahapan kehidupan manusia dari yang masih dipenuhi segala hasrat dan hawa nafsu, dunia yang disucikan hingga dunia dewa-dewa. Disanalah bangunan suci akan kami bangun,” jawab pendeta sambil menghaturkan sembah sujud.

“Berangkatlah pendeta, aku merestui perjalanan sucimu, ajaklah orang yang engkau pandang perlu, wujudkan mimpiku agar negeri ini menjadi pusat peradaban dan penyebaran agama di Jawa,” lanjut Paduka Raja.

“Mahapatih, dukung penuh kebutuhan Pendeta Sthapaka, singkirkan semua penghalang yang mungkin merintangi pembangunan tempat suci ini. Perintahkan orang-orang pilihanmu, kerahkan prajurit sebanyak yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan ini,” perintah Sang Raja kemudian.

“Hamba siap mengemban tugas suci ini Sang Prabu,” jawab mahapatih disertai sembah sujud dan meninggalkan pisowanan agung.

Hari masih gelap, kabutpun belum mau meninggalkan pagi tatkala Pendeta Sthapaka, beserta rombongan  meninggalkan kerajaan Mataram ke arah Utara. Berhari-hari waktu ditempuh dengan penuh kesabaran dan ketabahan, rintangan dan penghalang adalah bumbu dalam mewujudkan harapan.

Tujuh purnama tak terasa berlalu, dalam kelelahan yang teramat sangat, sampailah rombongan pendeta di lereng pegunungan dengan hutan belantara yang sangat lebat. Atas instruksi sang pendeta, rombonganpun beristirahat. Setelah sepenggalah hari, Pendeta Sthapaka terlihat berjalan seorang diri mencari tempat yang paling sempurna untuk bermeditasi. Setelah beberapa saat kemudian, dibawah rimbunnya Pohon Beringin sang pendeta bersila memusatkan segenap indera, bertapa, bermunajat memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Genap 40 hari pertapaannya, sebuah bisikan halus seolah terdengar di telinga Pendeta Sthapaka, “Wahai penjaga darma, sudah cukup semedimu, sekarang bangun dan wujudkanlah percandian di tempat ini. Gunung ini adalah pusat dari segala kedamaian di Jawa. Tempat ini dikelilingi gunung-gunung penjaga yang suci. Bagi tempat ini menjadi tiga ruang kosmologi, bangun ke sembilan tempat suci dalam ruang Bhurloka dan Bhuwarloka. Swarloka adalah tempat suci bagi para dewa, karenanya sucikanlah jangan kau wujudkan apapun disana karena pada dasarnya tempat tersebut tidak lagi memerlukan fisik sebagai sarana manembah dan moksa.

Hari masih gelap, kabutpun belum mau meninggalkan hutan tatkala pendeta Sthapaka mengakhiri tapa brata. Rasa penasaran akan tempat tersebut membuatnya mengutus beberapa prajurit untuk menyebar ke empat penjuru mata angin mencari pedukuhan sekitarnya dan mengajak serta sesepuh tempat tersebut. Terlihat samar diantara rimbunnya pepohonan, matahari baru setengah menjalankan darmanya ketika rombongan prajurit kembali beserta para sesepuh dan kepala padukuhan.

“Wahai penduduk di sekitar padukuhan ini, aku adalah Pendeta Sthapaka Kerajaan Mataram yang diutus paduka prabu Sri Maharaja Rakai Watukura untuk membangun sembilan tempat pemujaan. Aku telah bersemedi cukup lama disini dan hasil dari ikhtiarku tersebut, tempat ini adalah tempat yang paling cocok. Aku belum mengerti tempat ini, sudilah kisanak semua menjelaskannya padaku, “ tanya sang pendeta.

“Sembah kami terhadap pendeta utama, kami bahagia atas kedatangan pendeta beserta rombongan, ketahuilah tempat ini oleh penduduk dinamakan Gunung Rungrungan (Ungaran), gunung-gunung di Selatan adalah Pegunungan Kelir dan Telomoyo, sementara di Barat Daya adalah Gunung Susundara (Sindoro) dan Sumbing, sebelah Tenggara tempat ini adalah Gunung Damalung (Merbabu) dan dibelakangnya berdiri tegak dan perkasa karena kedahsyatan letusannya adalah Gunung Marapwi (Merapi), adapun di sebelah Barat adalah Gunung Dieng. Kami sesepuh dan para kepala padukuhan akan dengan segenap tenaga membantu pendeta dengan mengerahkan warga kami,” jawab sesepuh Padukuhan.

“Baiklah, ini adalah hari yang suci, sesuci tempat yang akan kita bangun ini. Aku telah memetakan wilayah ini. Kompleks bangunan akan dibangun dari bawah memutar ke atas sampai titik terdekat dengan puncak Gunung Rungrungan. Untuk menghormati kepercayaan leluhur yang masih ada, konsep perwujudan bangunan akan menunjukkan akulturasi budaya dengan Parswadewata sebagai intinya. Mulailah bekerja, ikuti setiap petunjuk pimpinan kalian masing-masing, darma akan mengelilingi kalian,” perintah sang Pendeta.

Demikianlah, ruang dan waktu telah dilalui, kerjasama dan bahu-membahu antara kawulo/masyarakat padukuhan dan gusti/Pendeta Sthapaka beserta seluruh punggawa kerajaan akhirnya terwujud dengan berdirinya kompleks bangunan pemujaan nan indah dan artistik.

“Wahai penduduk padukuhan, pemujaan ini telah berdiri dengan megah, jaga dan rawatlah bangunan ini karena kesuciannya akan menarik perhatian dan akan dikunjungi banyak pendeta maupun penduduk yang ingin mendekatkan diri pada Sang Hyang Widhi. Untuk melengkapi bangunan suci ini, aku akan melengkapinya dengan sebuah pertapaan yang nantinya akan mengajarkan darma kepada semua saja yang menginginkan. Kelak di kemudian hari tempat ini akan dikenal dengan nama Candi Gedong Songo.

 

 

 

Leave Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.